Renungan hari ini: “IMAN YANG PERCAYA KEPADA KEMAHKUASAAN TUHAN” (Markus 9:23 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

“IMAN YANG PERCAYA KEPADA KEMAHKUASAAN TUHAN”


 

Markus 9:23 (TB2) Jawab Yesus, "Katamu: jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!"

 

Mark 9:23 (NET) Then Jesus said to him, “‘If you are able?’ All things are possible for the one who believes”

 

Nas hari ini bertemakan “Iman yang percaya kepada kemahkuasaan Tuhan.” Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari pergumulan, persoalan, dan tantangan. Ada saatnya kita menghadapi situasi yang seolah-olah tidak mempunyai jalan keluar. Kita telah berusaha, berdoa, dan berharap, tetapi keadaan belum juga berubah. Dalam situasi seperti itu, tidak jarang muncul keraguan: Apakah Tuhan sanggup menolong? Apakah masih ada harapan?

 

Pertanyaan seperti inilah yang tercermin dalam peristiwa Markus 9:14-29. Seorang ayah membawa anaknya yang kerasukan roh yang membisukan kepada Yesus. Ayah tersebut telah meminta pertolongan para murid, tetapi mereka tidak sanggup menyembuhkannya. Dengan penuh harapan sekaligus keraguan, ia berkata kepada Yesus: “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.”

 

Yesus kemudian menjawab, “Katamu: jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Jawaban Yesus ini bukan sekadar memberikan penghiburan, melainkan mengarahkan manusia untuk memahami bahwa iman harus berpusat pada kuasa dan kehendak Allah, bukan pada keterbatasan manusia.

 

Dari nas ini ada tiga pokok perenungan bagi kita:

 

Pertama, jangan membatasi kuasa Tuhan dengan keterbatasan manusia. Ayah dalam cerita ini datang kepada Yesus dengan membawa persoalan yang sudah lama dialaminya. Ia telah berusaha mencari pertolongan, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Pengalaman kegagalan sering membuat manusia kehilangan harapan. Bahkan, terkadang kita mengukur kuasa Tuhan berdasarkan kemampuan dan pengalaman manusia. Ketika manusia tidak mampu, kita menganggap semuanya sudah berakhir. Namun, Yesus mengingatkan bahwa kuasa Allah tidak dapat diukur dengan keterbatasan manusia. Apa yang tidak mungkin bagi manusia bukan berarti tidak mungkin bagi Allah. Jangan menjadikan kegagalan, kesulitan, dan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berharap kepada Tuhan. Tetaplah percaya bahwa Tuhan sanggup membuka jalan ketika manusia tidak lagi melihat jalan.

 

Kedua, iman adalah kepercayaan yang tetap bertahan di tengah pergumulan. Perkataan Yesus menegaskan pentingnya iman. Iman bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami ketakutan, keraguan, atau kesedihan. Iman juga bukan berarti semua keinginan manusia pasti terpenuhi. Iman adalah sikap menyerahkan kehidupan kepada Allah, sekalipun kita belum mengetahui bagaimana Tuhan akan menjawab doa dan pergumulan kita. Menariknya, setelah mendengar perkataan Yesus, ayah anak itu berseru: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk. 9:24).Seruan ini menunjukkan bahwa iman manusia dapat bercampur dengan kelemahan dan keraguan. Namun, yang terpenting adalah kesediaan untuk datang kepada Yesus dan memohon pertolongan-Nya. Jangan menunggu sampai iman kita sempurna untuk datang kepada Tuhan. Datanglah kepada-Nya dengan segala kelemahan, ketakutan, dan pergumulan kita. Tuhan mengetahui keterbatasan kita dan mengundang kita untuk semakin bertumbuh dalam iman.

 

Ketiga, iman harus diwujudkan dalam penyerahan diri kepada kehendak Tuhan. Kata-kata “segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya” tidak boleh dipahami sebagai jaminan bahwa Tuhan akan memenuhi semua keinginan manusia. Iman bukan alat untuk memaksa Tuhan mengikuti kehendak kita. Sebaliknya, iman mengajarkan kita untuk percaya bahwa Allah berkuasa, Allah mengasihi, dan Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kehidupan manusia. Orang yang beriman tidak hanya percaya ketika doanya dijawab, tetapi juga tetap setia ketika harus menunggu. Ia tidak hanya bersyukur ketika menerima berkat, tetapi tetap berharap ketika menghadapi penderitaan. Inilah iman yang dewasa: tetap berjalan bersama Tuhan, sekalipun jalan kehidupan tidak selalu mudah dipahami. Jangan hanya mencari tangan Tuhan yang memberikan pertolongan, tetapi carilah juga wajah Tuhan yang menuntun kehidupan. Serahkanlah seluruh rencana, harapan, pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan masa depan ke dalam tangan-Nya.

 

Firman Tuhan ini juga memberikan pesan penting bagi kehidupan bergereja. Gereja sering menghadapi berbagai tantangan, baik dalam pelayanan, kepemimpinan, pembinaan generasi muda, pengembangan sumber daya manusia, maupun perubahan zaman. Dalam situasi demikian, gereja tidak boleh kehilangan iman dan pengharapan. Gereja harus berani melangkah, melakukan pembaruan, dan mengembangkan inovasi pelayanan dengan tetap berpegang pada firman Tuhan. Karena itu, marilah kita memiliki iman yang teguh, bukan karena kita mengetahui semua jawaban atas persoalan kehidupan, melainkan karena kita mengenal Allah yang memegang kendali atas kehidupan kita. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar