Renungan hari ini: "KASIH YANG MELAMPAUI BATAS" (1 Tesalonika 3:12 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

"KASIH YANG MELAMPAUI BATAS"


 

1 Tesalonika 3:12 (TB2) “Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu”

 

1 Thessalonians 3:12 (NET) “And may the Lord cause you to increase and abound in love for one another and for all, just as we do for you”

 

Nas hari ini membahas tema "Kasih yang Melampaui Batas". Dalam kehidupan rohani, ada banyak hal yang bisa kita usahakan untuk bertumbuh: pengetahuan Alkitab, karunia-karunia rohani, atau keterlibatan dalam pelayanan. Namun, Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Tesalonika bahwa ada satu hal yang paling krusial untuk terus bertumbuh dan bahkan harus sampai "meluap", yaitu kasih.

 

Mari kita renungkan tiga aspek penting dari pertumbuhan kasih menurut ayat ini:

 

Pertama, Tuhan adalah sumber pertumbuhan Kasih. Paulus memulai kalimatnya dengan doa: "Kiranya Tuhan menjadikan kamu...". Ini adalah pengakuan bahwa kasih yang sejati bukan sekadar hasil usaha manusia atau sopan santun belaka. Kasih yang konsisten, yang mampu memaafkan dan bertahan, bersumber dari Tuhan. Kita tidak bisa mengasihi dengan benar jika kita tidak terus melekat pada Sang Kasih itu sendiri. Ketika kita merasa sulit mengasihi, saat itulah kita perlu datang kepada Tuhan dan memohon agar Ia memenuhi "tangki kasih" di hati kita.

 

Kedua, kasih yang dinamis (Bertambah dan Berkelimpahan). Paulus menggunakan kata "bertambah-tambah" dan "berkelimpahan". Ini berarti kasih seorang Kristen tidak boleh statis atau jalan di tempat. Kasih tidak boleh berkata, "Cukup sampai di sini saja saya mengasihi dia." Berkelimpahan (overflowing) menggambarkan sebuah wadah yang terus diisi hingga airnya meluap keluar. Kasih kita seharusnya tidak hanya cukup untuk diri sendiri, tetapi harus meluap sehingga orang-orang di sekitar kita merasakan dampaknya. Apakah kasih kita hari ini lebih besar daripada tahun lalu? Apakah kesabaran kita meningkat seiring berjalannya waktu?

 

Ketiga, kasih tanpa pilih Kasih. Ada dua sasaran kasih yang disebutkan Paulus:

  • Terhadap seorang akan yang lain: Ini adalah kasih di dalam komunitas orang percaya (internal). Saling memperhatikan, mendukung, dan menjaga kesatuan.
  • Terhadap semua orang: Ini adalah bagian yang menantang. Kasih kita tidak boleh berhenti di dalam tembok gereja atau lingkaran pertemanan saja. Kasih Kristus harus diarahkan kepada "semua orang", termasuk mereka yang berbeda keyakinan, mereka yang sulit dikasihi, atau bahkan mereka yang memusuhi kita.

 

Apa relevansi nas ini bagi kita? Relevansi nas 1 Tesalonika 3:12 sangat kuat untuk kehidupan kita saat ini, terutama di tengah dinamika dunia modern yang seringkali kering akan kasih yang tulus. Berikut adalah beberapa poin relevansinya:

 

Pertama, menjawab Fenomena "Individualisme" dan Kesepian. Dunia modern, meski sangat terhubung secara digital, seringkali membuat orang merasa terasing dan kesepian. Banyak orang hanya peduli pada diri sendiri (individualisme). Nas ini memanggil orang percaya untuk menjadi "penyalur kasih" yang berkelimpahan. Ketika kita meluap dengan kasih, kita menjadi jawaban bagi dunia yang kesepian. Gereja atau komunitas Kristen seharusnya menjadi tempat di mana orang merasa diterima dan dikasihi tanpa syarat, bukan sekadar organisasi formal.

 

Kedua, mengatasi polarisasi dan kebencian (Terhadap "Semua Orang"). Kita hidup di zaman yang penuh dengan polarisasi—perbedaan pilihan politik, suku, status sosial, hingga pandangan hidup seringkali memicu kebencian. Paulus tidak mengatakan "kasihilah mereka yang setuju denganmu," tetapi kasih "terhadap semua orang". Ini adalah panggilan untuk inklusivitas kasih. Relevansinya adalah kita dipanggil untuk tetap mengasihi mereka yang berbeda pendapat, berbeda keyakinan, atau bahkan mereka yang memusuhi kita di media sosial. Kasih Kristen harus melampaui sekat-sekat kelompok (echo chambers).

 

Ketiga, standar baru dalam pertumbuhan Rohani. Banyak orang Kristen mengukur pertumbuhan rohani dari seberapa banyak jadwal ibadah yang diikuti, seberapa banyak ayat yang dihafal, atau seberapa aktif di pelayanan. Ayat ini memberikan indikator pertumbuhan rohani yang berbeda: Seberapa besar kapasitas kasih kita? Jika pengetahuan Alkitab kita bertambah tapi kita semakin sombong dan sulit mengampuni, berarti ada yang salah. Kedewasaan rohani yang relevan bagi Tuhan adalah ketika kasih kita semakin "bertambah-tambah" dan "berkelimpahan".

 

Keempat, menjadi penawar "Cancel Culture" (Budaya Menghakimi). Saat ini ada budaya di mana satu kesalahan seseorang bisa membuat dia dikucilkan atau "dibatalkan" (cancelled) selamanya. Kasih yang berkelimpahan membawa sifat pengampunan dan pemulihan. Nas ini relevan sebagai pengingat agar komunitas Kristen tidak ikut-ikutan menjadi hakim yang kejam, melainkan menjadi komunitas yang memberikan ruang bagi orang untuk bertumbuh dan memperbaiki diri melalui kasih yang sabar.

 

Kelima, mengandalkan Tuhan sebagai sumber (Bukan Kekuatan Diri). Banyak orang mengalami "burnout" atau kelelahan mental karena berusaha berbuat baik dengan kekuatan sendiri, yang akhirnya berujung pada kekecewaan ketika kebaikannya tidak dibalas. Kata "Kiranya Tuhan menjadikan kamu..." mengingatkan bahwa kita tidak perlu memaksakan diri menghasilkan kasih dari hati yang kosong. Relevansinya bagi kita yang lelah adalah: datanglah ke sumbernya (Tuhan), biarkan Dia mengisi kita, sehingga kasih yang kita bagikan adalah luapan dari apa yang sudah kita terima dari Tuhan.

 

Nas ini relevan sebagai "terapi" bagi dunia yang keras, pengingat bahwa karakter utama pengikut Kristus adalah kasih yang meluap, bukan sekadar atribut lahiriah. Kasih adalah "otot" rohani yang perlu dilatih. Hari ini, mari kita minta kepada Tuhan agar Ia meluapkan kasih-Nya dalam hati kita. Cobalah untuk menunjukkan kasih kepada seseorang yang biasanya "luput" dari perhatian kita. Karena itu, ingatlah bahwa dunia tidak akan mengenal kita dari seberapa banyak ayat yang kita hafal, melainkan dari seberapa besar kasih yang kita miliki. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar