KOTBAH MINGGU I SETELAH TRINITATIS Minggu, 22 Juni 2025 “DUNIA DAN SEGALA ISINYA ADALAH MILIK TUHAN” (Mazmur 50:7–15)
KOTBAH MINGGU I SETELAH TRINITATIS
Minggu, 22 Juni 2025
“DUNIA DAN SEGALA ISINYA ADALAH MILIK TUHAN”
Kotbah: Mazmur 50:7–15 Bacaan: 1 Korintus 10:18-26
Kita baru saja melewati Minggu Trinitatis, di mana kita merayakan kemuliaan Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Hari ini, memasuki Minggu Pertama Setelah Trinitatis, kita diajak untuk melihat konsekuensi praktis dari pengenalan kita akan Allah tersebut. Jika Allah adalah Pencipta (Bapa), Penebus (Anak), dan Pemelihara (Roh Kudus), maka satu kesimpulan besar yang harus kita pegang adalah: Segala sesuatu adalah milik-Nya.
Mazmur 50 adalah sebuah "Mazmur Asaf" yang unik. Ini bukan sekadar lagu pujian, melainkan sebuah nubuatan penghakiman (prophetic lawsuit). Allah diposisikan sebagai Hakim yang turun dari Sion untuk mendakwa umat-Nya. Namun, dakwaan-Nya bukan karena mereka kurang beribadah, melainkan karena mereka salah memahami siapa Allah dan apa yang Ia inginkan.
Ada beberapa hal yang kita pelajari dari perikop kotbah ini:
Pertama, Allah yang tidak butuh kurban sembelihan kita (ay. 7–9). Allah memulai dengan berkata, "Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berbicara... Akulah Allah, Allahmu." Ini adalah sapaan perjanjian. Masalahnya bukan pada rutinitas kurban mereka: "Bukan karena kurban sembelihanmu Aku menghukum engkau." Rakyat Israel rajin membawa lembu dan kambing ke bait Allah. Namun, Allah menegaskan, "Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu." Secara teologis, Allah sedang melawan pemikiran "Paganisme" yang merasuk ke dalam iman Israel. Pada zaman itu, bangsa-bangsa di sekitar Israel percaya bahwa dewa-dewa mereka butuh makan dan minum dari kurban manusia. Allah Israel menegaskan bahwa Ia adalah Allah yang Mahacukup (Self-sufficient). Ia tidak butuh "suap" atau "pemberian" dari manusia untuk menopang hidup-Nya.
Kedua, deklarasi kepemilikan semesta (ay. 10–12). Di sinilah inti dari tema kita. Allah memberikan alasan mengapa Ia tidak butuh pemberian kita:
- "Sebab punya-Kulah segala binatang hutan."
- "Dan beribu-ribu hewan di gunung."
- "Punya-Kulah dunia dan segala isinya."
Secara historis-kritis, klaim ini sangat revolusioner. Di dunia di mana setiap bangsa mengklaim wilayah dewa mereka masing-masing, Allah Israel mengklaim seluruh kosmos. Ayat 12 berkata dengan nada menyindir, "Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu." Allah sedang meruntuhkan kesombongan manusia yang merasa bahwa "Tuhan beruntung memiliki aku" atau "Gereja ini jalan karena uangku." Sebaliknya, kitalah yang beruntung diizinkan mengelola milik-Nya.
Ketiga, ibadah yang sejati: Syukur dan Ketaatan (ay. 13–15). Jika Allah tidak butuh daging kurban, lalu apa yang Ia inginkan? Ayat 14 memberikan jawabannya, "Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!"
- Kurban Syukur (Zebah Todah): Ini bukan tentang benda, tapi tentang sikap hati yang mengakui ketergantungan kepada Allah.
- Membayar Nazar: Ini tentang integritas dan ketaatan. Allah lebih menghargai janji yang ditepati daripada persembahan yang mahal namun hidup dalam ketidaktaatan.
Puncaknya ada di ayat 15: "Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." Allah tidak butuh pemberian kita, Ia justru ingin agar kita datang kepada-Nya sebagai sumber pertolongan. Ibadah sejati adalah mengakui bahwa Tuhan adalah Pemilik, dan kita adalah yang bergantung pada-Nya.
Pertanyaan kita adalah bagaimana caranya agar kita milik TUHAN? Agar kita benar-benar hidup sebagai Milik Tuhan (menjadi umat kesayangan-Nya dan bukan sekadar "objek" ciptaan-Nya), nas ini memberikan lima langkah teologis yang mendalam:
Pertama, membuka diri untuk didakwa oleh Firman-Nya (ay. 7). "Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berbicara..."Langkah pertama menjadi milik Tuhan adalah mendengar. Dalam bahasa Ibrani, kata "Dengar" (Shema) berarti mendengar yang disertai ketaatan. Menjadi milik Tuhan berarti menundukkan telinga dan hati kita di bawah otoritas firman-Nya. Kita mengakui bahwa Ia adalah Hakim dan Guru kita. Seseorang yang merasa "memiliki dirinya sendiri" biasanya tidak mau ditegur, tetapi milik Tuhan selalu terbuka untuk dikoreksi oleh-Nya.
Kedua, melepaskan mentalitas "Transaksi" (ay. 8–13).
Menjadi milik Tuhan berarti sadar bahwa kita tidak bisa membeli kasih Tuhan dengan pemberian kita. Tuhan menegaskan bahwa Ia tidak butuh lembu atau kambing kita, karena Ia pemilik semuanya. Seringkali kita merasa sudah menjadi milik Tuhan karena rajin memberi persembahan atau melayani. Mazmur ini membongkar kepalsuan itu. Kita menjadi milik Tuhan bukan karena kita memberi sesuatu kepada-Nya, melainkan karena kita mengakui bahwa kita tidak punya apa-apa untuk diberikan selain apa yang sudah Ia berikan kepada kita. Menjadi milik Tuhan dimulai dengan sikap rendah hati (kemiskinan rohani).
Ketiga, mempersembahkan "Kurban Syukur" (ay. 14a). "Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah..."Dalam tradisi Israel, ada korban sembelihan, tetapi di sini Allah menuntut Zebah Todah (Korban Syukur). Menjadi milik Tuhan berarti mengubah orientasi hidup dari mengeluh menjadi bersyukur. Mengapa syukur? Karena syukur adalah pengakuan bahwa segala yang ada pada kita adalah pemberian-Nya. Saat kita bersyukur, kita sedang memproklamirkan: "Tuhan, hidupku dan apa yang kupunya adalah milik-Mu, dan aku berterima kasih karena Engkau mengizinkanku menikmatinya."
Keempat, menghidupi integritas janji (ay. 14b). "...dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!"
Menjadi milik Tuhan berarti hidup dalam komitmen. "Membayar nazar" bukan berarti menyogok Tuhan agar doa terkabul, melainkan menepati janji setia kita kepada Tuhan. Jika kita mengaku milik Tuhan, maka hidup kita harus konsisten antara apa yang diucapkan di gereja dengan apa yang dilakukan di pasar atau kantor. Menjadi milik Tuhan berarti menyerahkan hak atas "kata-kata kita" kepada-Nya.
Kelima, mengandalkan Dia dalam ketergantungan total (ay. 15). "Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau..."
Ini adalah tanda kepemilikan yang paling indah. Sebuah barang milik seorang tuan akan dirawat dan dijaga oleh tuannya. Jika kita adalah milik Tuhan, maka tugas kita bukanlah menjadi "pahlawan" yang menyelamatkan diri sendiri, melainkan berseru kepada Sang Pemilik saat kita sulit. Kita tidak lagi mencari pertolongan dunia sebagai yang utama, melainkan lari kepada Tuhan. Ketika kita membiarkan Tuhan menolong kita, saat itulah Tuhan dipermuliakan sebagai Pemilik yang baik dan setia.
Ketika kita berhenti mencoba "menyuap" Tuhan dengan kurban-kurban kita dan mulai memberikan hati yang bersyukur serta ketergantungan yang penuh, itulah saat kita benar-benar hidup sebagai Milik Tuhan.
RENUNGAN
Apa yang menjadi renungan dan refleksi dari tema Minggu ini? Berdasarkan nas ini, apa artinya menghidupi iman bahwa "Dunia dan segala isinya adalah milik Tuhan" di Minggu I Setelah Trinitatis ini?
Pertama, berhenti melakukan "Transaksi" dengan Tuhan. Seringkali kita terjebak pada mentalitas Israel di masa Asaf. Kita merasa jika kita sudah rajin ke gereja, sudah memberi persembahan besar, maka Tuhan "berhutang" kepada kita. Kita mencoba menyuap Tuhan agar bisnis lancar atau doa dikabulkan. Mazmur hari ini menegur kita: Tuhan tidak butuh uangmu, Ia punya segalanya. Tuhan menginginkan hatimu yang bersyukur, bukan transaksimu.
Kedua, penatalayanan (Stewardship), bukan kepemilikan. Jika dunia dan isinya adalah milik Tuhan, maka harta, talenta, waktu, bahkan tubuh kita adalah milik Tuhan. Kita hanyalah pengelola (steward). Ini mengubah cara kita memandang uang: kita tidak lagi berkata "Ini uangku, terserah aku mau pakai apa," melainkan "Ini milik Tuhan, bagaimana Tuhan ingin aku menggunakannya?" Ini juga mencakup kepedulian terhadap lingkungan hidup (alam), karena hutan dan hewan adalah milik Tuhan yang dititipkan kepada kita.
Ketiga, keberanian dalam kesesakan. Karena Tuhan adalah pemilik semesta, maka tidak ada situasi yang di luar kendali-Nya. Ayat 15 adalah janji yang luar biasa. Saat kita sadar bahwa "Pemilik dunia ini" adalah Bapa kita, kita tidak perlu cemas. Kita cukup berseru kepada-Nya. Kekuatan kita bukan pada apa yang kita berikan kepada Tuhan, tetapi pada fakta bahwa Tuhan senang menolong milik-Nya.
Minggu I Setelah Trinitatis ini memanggil kita untuk merendahkan diri di hadapan Allah Sang Pemilik Semesta. Mari kita buang kesombongan seolah-olah Tuhan membutuhkan kita. Sebaliknya, mari kita bawa persembahan syukur yang tulus.
Ingatlah: Kita tidak memberi untuk membuat Tuhan menjadi kaya, karena Ia sudah memiliki segalanya. Kita memberi sebagai tanda bahwa kita sadar seluruh hidup kita adalah anugerah-Nya. Karena itu, jalani minggu ini dengan keyakinan: "Tuhan yang memiliki dunia ini, Ia juga yang memelihara hidupku." (rsnh)
Selamat beribadah dan menikmati lawatan TUHAN!



Komentar
Posting Komentar