Renungan hari ini: “TANGGA PERTUMBUHAN ROHANI: IMAN YANG BERBUAH” (2 Petrus 1:5-6)
“TANGGA PERTUMBUHAN ROHANI: IMAN YANG BERBUAH”
2 Petrus 1:5-6 (TB2) “Justru karena itu, kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan”
2 Peter 1:5-6 (NET) “For this very reason, make every effort to add to your faith excellence, to excellence, knowledge;to knowledge, self-control; to self-control, perseverance; to perseverance, godliness”
Nas hari ini mengajak kita memiliki “Tangga Pertumbuhan Rohani: Iman yang Berbuah”. Banyak orang Kristen merasa bahwa setelah mereka percaya kepada Yesus (beriman), tugas mereka selesai. Mereka merasa cukup hanya dengan memiliki "tiket ke surga." Namun, Rasul Petrus mengingatkan kita bahwa iman hanyalah sebuah awal atau fondasi. Di atas fondasi itu, kita harus membangun sebuah struktur karakter yang kokoh.
Ada beberapa poin penting yang dapat kita pelajari dari nas ini:
Pertama, sinergi antara Anugerah dan usaha. Ayat ini dimulai dengan kalimat "Justru karena itu". Ini merujuk pada ayat sebelumnya yang mengatakan bahwa Tuhan telah memberikan segalanya bagi kita untuk hidup saleh. Karena Tuhan sudah memberikan modalnya (anugerah), maka bagian kita adalah "dengan sungguh-sungguh berusaha." Pertumbuhan rohani tidak terjadi secara otomatis atau karena kebetulan. Kita tidak bisa menjadi dewasa secara rohani hanya dengan berdiam diri; dibutuhkan disiplin dan niat yang kuat.
Kedua, iman yang dinamis (Menambahkan). Petrus menggambarkan pertumbuhan rohani seperti anak tangga yang saling berkaitan:
a. Iman →→ Kebajikan. Iman harus melahirkan karakter moral yang baik.
b. Kebajikan →→ Pengetahuan: Kebaikan harus didasari oleh pengertian akan kehendak Tuhan, bukan sekadar perasaan.
c. Pengetahuan →→ Penguasaan Diri: Apa gunanya tahu banyak firman jika kita tidak bisa mengendalikan lidah, amarah, atau nafsu?
d. Penguasaan Diri →→ Ketekunan: Mengendalikan diri sekali itu mudah, melakukannya terus-menerus di tengah cobaan itulah ketekunan.
e. Ketekunan →→ Kesalehan: Ketekunan yang murni akan menghasilkan hidup yang berpusat pada Allah (kesalehan).
Ketiga, pertumbuhan yang utuh. Perhatikan bahwa Petrus tidak menyuruh kita memilih salah satu. Kita tidak bisa berkata, "Saya punya pengetahuan, tapi saya tidak punya penguasaan diri." Karakter Kristiani adalah satu paket. Pertumbuhan yang sehat adalah pertumbuhan yang seimbang antara apa yang kita ketahui (otak), apa yang kita rasakan (hati), dan apa yang kita lakukan (tindakan).
Apa yang menjadi perenungan dari nas ini? Ada beberapa hal yang menjadi perenungan dari nas ini:
Pertama, melawan kerohanian yang pasif (Gampangan). Di zaman yang serba instan, banyak orang ingin sukses atau bijak secara instan. Petrus mengingatkan bahwa dalam kerohanian tidak ada shortcut (jalan pintas). Kita relevan sebagai orang Kristen jika kita menunjukkan "usaha sungguh-sungguh" dalam memperbaiki karakter kita di tengah dunia yang makin merosot moralnya.
Kedua, penguasaan diri di tengah "Dunia Tanpa Batas". Kita hidup di zaman informasi (pengetahuan) yang melimpah, tetapi krisis penguasaan diri (kecanduan gadget, pornografi, belanja impulsif, amarah di media sosial). Nas ini adalah panggilan untuk menyeimbangkan pengetahuan kita dengan kontrol diri. Tahu banyak tentang Alkitab tidak ada gunanya jika kita tidak bisa menguasai jempol atau emosi kita.
Ketiga, ketekunan di tengah budaya "Cepat Bosan". Sekarang ini orang mudah menyerah atau berpindah-pindah (pekerjaan, hubungan, gereja) saat menghadapi kesulitan sedikit saja. Nas ini relevan untuk membangun karakter yang tekun. Kekristenan butuh daya tahan untuk tetap setia meskipun situasi tidak mendukung.
Keempat, integritas yang menyeluruh. Dunia butuh melihat orang Kristen yang memiliki "kebajikan" dan "kesalehan". Di tengah maraknya berita tentang tokoh agama yang jatuh karena masalah karakter, relevansi nas ini adalah pengingat bahwa fondasi iman kita harus dibungkus dengan kualitas moral yang tinggi agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Pertumbuhan rohani adalah proses seumur hidup. Hari ini, evaluasilah "tangga" rohani kita. Apakah kita sedang mandek di tahap pengetahuan tanpa ada penguasaan diri? Atau kita merasa punya iman tapi hidup tanpa kebajikan? Karena itu, mintalah bantuan Roh Kudus untuk memampukan kita menambahkan kualitas-kualitas ilahi ini ke dalam hidup kita setiap hari. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar