Renungan hari ini: “SYARAT UTAMA MENJUMPAI YESUS: MENGAKU "SAKIT” (Markus 2:17)

 Renungan hari ini:

 

“SYARAT UTAMA MENJUMPAI YESUS: MENGAKU "SAKIT”


 

Markus 2:17 (TB) Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa"

 

Mark 2:17 (NET) When Jesus heard this he said to them, “Those who are healthy don’t need a physician, but those who are sick do. I have not come to call the righteous, but sinners”

 

Nas hari ini mengajarkan pada kita “Syarat Utama Menjumpai Yesus: Mengaku "Sakit" Bayangkan seorang pasien yang sedang sakit parah namun bersikeras bahwa dirinya sehat. Ia menolak pergi ke dokter, menolak obat, dan akhirnya kondisinya semakin memburuk. Sebaliknya, ada orang yang tahu persis bahwa ia sedang sakit, ia datang dengan rendah hati kepada dokter, dan akhirnya ia mendapatkan kesembuhan.

 

Inilah gambaran yang Yesus berikan ketika Ia dikritik oleh ahli-ahli Taurat karena makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. Dari pernyataan Yesus ini, kita bisa mempelajari tiga hal penting:

 

Pertama, kejujuran rohani adalah pintu Keselamatan. Yesus menggunakan metafora "Tabib" (Dokter). Seorang dokter sehebat apa pun tidak bisa menyembuhkan orang yang merasa dirinya sehat. Begitu juga dengan Yesus. Keselamatan dan pemulihan-Nya hanya tersedia bagi mereka yang mau jujur mengakui "penyakit" mereka, yaitu dosa, kelemahan, dan keberadaan mereka yang rusak. Penghalang terbesar seseorang datang kepada Tuhan bukanlah besarnya dosa mereka, melainkan kesombongan yang merasa tidak butuh Tuhan.

 

Kedua, bahaya merasa "Benar". Yesus menyindir orang-orang Farisi yang merasa diri mereka "benar". Mereka merasa sudah melakukan semua hukum agama dan merasa lebih suci dari orang lain. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk dipulihkan oleh Yesus. Saat kita mulai membandingkan diri dengan orang lain dan merasa "saya lebih baik dari dia," saat itulah kita sedang menutup pintu hati bagi anugerah Tuhan. Ironisnya, orang-orang yang dianggap "sampah masyarakat" (pemungut cukai) justru mendapatkan Yesus karena mereka sadar mereka tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.

 

Ketiga, misi Yesus adalah Kasih yang menjangkau. Yesus tidak menunggu orang berdosa menjadi kudus baru kemudian Ia mau menjumpai mereka. Ia justru datang menjumpai mereka di tengah keberdosaan mereka untuk membawa transformasi. Ini adalah kabar baik bagi kita semua: Yesus tidak kaget dengan kegagalan kita. Dia tidak jijik dengan masa lalu kita. Dia datang justru karena Dia tahu kita tidak berdaya menyelamatkan diri sendiri.

Apa yang menjadi perenungan dari nas hari ini? Berikut adalah poin-poin perenungan mendalam dari ayat tersebut:

 

Pertama, kesadaran akan "Penyakit Rohani". Yesus menggunakan analogi Tabib (Dokter) dan orang sakit. Seorang dokter tidak bisa menyembuhkan seseorang yang bersikeras bahwa dirinya sehat. Begitu juga dengan Tuhan. Hambatan terbesar bagi seseorang untuk menerima anugerah Tuhan bukanlah besarnya dosa mereka, melainkan kesombongan yang merasa tidak berdosa. Kita sering kali menutupi "luka" rohani kita dengan topeng kesalehan, padahal kesembuhan sejati dimulai dari pengakuan jujur: "Tuhan, aku sakit, aku berdosa, dan aku butuh Engkau."

 

Kedua,  bahaya "Merasa Benar" (Self-Righteousness). Yesus memberikan sindiran halus kepada ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka merasa "sehat" secara rohani karena telah melakukan semua ritual agama. Akibatnya, mereka justru kehilangan Sang Juruselamat yang ada tepat di depan mata mereka. Merasa diri lebih suci atau lebih benar dari orang lain adalah "penyakit" yang mematikan. Saat kita mulai menghakimi orang lain (seperti orang Farisi menghakimi pemungut cukai), kita sebenarnya sedang menutup pintu bagi Yesus untuk bekerja dalam hidup kita sendiri.

 

Ketiga, Yesus menjangkau yang terpinggirkan. Dalam budaya waktu itu, makan bersama "orang berdosa" berarti menajiskan diri sendiri. Namun, Yesus justru sengaja mencari mereka. Ini menunjukkan bahwa standar Tuhan berbeda dengan standar manusia. Yesus tidak menunggu kita menjadi bersih baru Ia mau menjumpai kita. Ia datang ke "ruang unit gawat darurat" kehidupan kita—di tengah kegagalan, kehancuran, dan kehinaan kita. Ini adalah bukti bahwa kasih karunia Tuhan lebih besar daripada masa lalu kita yang kelam.

 

Keempat, misi Gereja dan Komunitas Kristen. Jika Yesus adalah Tabib yang mencari orang sakit, maka komunitas pengikut-Nya seharusnya mencerminkan hal yang sama. Apakah gereja atau persekutuan kita menjadi sebuah "museum" tempat memamerkan orang-orang sempurna, atau sebuah "rumah sakit" tempat orang-orang yang terluka dan berdosa merasa diterima untuk dipulihkan? Ayat ini menantang kita untuk tidak menjadi eksklusif, melainkan memiliki hati yang merangkul mereka yang dianggap "berdosa" oleh dunia.

 

Kelima, panggilan untuk bertobat. Kata "memanggil" dalam ayat ini memiliki tujuan, yaitu pertobatan. Yesus menerima orang berdosa apa adanya, namun Ia tidak membiarkan mereka tetap apa adanya. Kasih Yesus yang menerima kita saat kita "sakit" adalah motivasi terbesar bagi kita untuk ingin menjadi "sembuh" (bertobat). Kita datang kepada-Nya dengan segala kotoran kita, namun kehadiran-Nya menyucikan dan mengubah hidup kita.

 

Hanya orang yang tahu bahwa dia tersesat yang akan mencari jalan pulang; hanya orang yang tahu dia sakit yang akan mencari dokter; dan hanya orang yang sadar dia berdosa yang akan menemukan Juruselamat. Jangan biarkan rasa "merasa benar" merampas kesempatanmu untuk dipulihkan oleh Yesus.  Gereja dan persekutuan kita bukanlah sebuah "museum" tempat memamerkan orang-orang suci yang sempurna, melainkan sebuah "rumah sakit" tempat orang-orang berdosa yang terluka datang untuk dipulihkan oleh Sang Tabib Agung. Karena itu, jangan pernah merasa terlalu berdosa untuk datang kepada-Nya, namun jangan pula merasa terlalu suci sehingga tidak lagi membutuhkan-Nya. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer