Renungan hari ini: "PANGGILAN MENUJU NINIWE KITA" (Yunus 1:2)

 Renungan hari ini:

 

"PANGGILAN MENUJU NINIWE KITA"


 

Yunus 1:2 (TB) "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."

 

Jonah 1:2 (NET) “Go immediately to Nineveh, that large capital city, and announce judgment against its people because their wickedness has come to my attention.”

 

Nas hari ini mengarahkan kita pada "Panggilan Menuju Niniwe Kita." Kisah nabi Yunus sering kali kita ingat karena bagian "ditelan ikan besar". Namun, perjalanan rohani Yunus—dan juga kita—sebenarnya dimulai dari satu perintah yang sangat spesifik ini. Ayat ini menunjukkan bagaimana Tuhan bekerja memanggil manusia untuk menjadi saluran berkat-Nya, bahkan ke tempat yang paling tidak kita sukai.

 

Ada tiga poin penting yang dapat kita pelajari:

 

Pertama, perintah untuk bertindak: "Bangunlah dan Pergilah." Tuhan tidak memanggil Yunus untuk sekadar berdoa di dalam kamar atau merenung. Perintah-Nya aktif: Bangun dan Pergi. Sering kali, kita merasa sudah cukup menjadi orang beriman hanya dengan berdiam diri. Namun, iman yang sejati selalu menuntut sebuah pergerakan. Ada saatnya Tuhan meminta kita keluar dari zona nyaman, meninggalkan rutinitas kita, dan melangkah ke tempat yang Ia tunjukkan.

 

Kedua, menghadapi "Niniwe" dalam hidup kita. Bagi Yunus, Niniwe adalah musuh. Orang Asyur (bangsa yang mendiami Niniwe) dikenal sangat kejam terhadap bangsa Israel. Pergi ke Niniwe bukan hanya soal jarak, tapi soal mengatasi rasa benci, ketakutan, dan ego. Setiap kita mungkin punya "Niniwe" masing-masing:

  • Seseorang yang sulit kita ampuni.
  • Lingkungan pekerjaan yang penuh tekanan dan "kejahatan".
  • Tugas yang terasa terlalu berat dan menakutkan.
    Perintah Tuhan tetap sama: jangan hindari Niniwe-mu, tapi datanglah ke sana sebagai pembawa pesan Tuhan.


Ketia, Tuhan yang memperhatikan dunia.
 "Karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." Kalimat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada satu pun kejahatan di dunia ini yang luput dari pandangan mata Tuhan. Namun, perhatikan cara Tuhan merespons kejahatan Niniwe: Ia tidak langsung menghujani mereka dengan api, melainkan mengirim seorang pengkhotbah (Yunus) untuk memperingatkan mereka. Ini menunjukkan Belas Kasihan Tuhan. Tuhan lebih rindu orang jahat bertobat daripada mereka binasa

 

Apa yang menjadi perenungan dari nas ini? Berikut adalah 4 poin perenungan mendalam dari ayat tersebut:

 

Pertama, "Meninggalkan Zona Nyaman" (Bangunlah dan Pergilah). Tuhan memberikan dua kata kerja perintah: "Bangunlah" dan "Pergilah". Panggilan Tuhan sering kali datang sebagai gangguan terhadap kenyamanan kita. "Bangun" berarti meninggalkan kondisi diam, santai, atau pasif. "Pergi" berarti bergerak menuju lokasi yang tidak kita pilih sendiri. Sering kali kita ingin melayani Tuhan, tetapi tetap di "zona aman" kita. Namun, misi sejati selalu menuntut keberanian untuk melangkah keluar.

 

Kedua, "Niniwe" dalam hidup kita. Niniwe bukan sekadar kota besar; bagi Yunus, Niniwe adalah musuh bebuyutan Israel. Orang Asyur (penduduk Niniwe) dikenal sangat kejam dan merupakan ancaman bagi bangsa Yunus. "Niniwe" melambangkan tempat atau orang yang paling tidak ingin kita datangi. Mungkin itu adalah rekan kerja yang menjengkelkan, keluarga yang menyakiti kita, atau lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai yang kita benci. Tuhan mengutus Yunus justru ke tempat yang paling ia benci. Ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan menjangkau mereka yang kita anggap tidak layak menerima rahmat.

 

Ketiga, ketidakterbatasan pandangan Tuhan. "...karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." Kalimat ini menegaskan bahwa tidak ada dosa atau kejahatan yang tersembunyi di mata Allah. "Sampai kepada-Ku" menggambarkan bahwa Tuhan sangat memperhatikan kondisi moral dunia. Namun, perhatikan respons Tuhan: Ia tidak langsung menghujani Niniwe dengan api, melainkan mengirim seorang nabi untuk memperingatkan mereka. Kejahatan mereka menarik perhatian Tuhan, namun yang muncul pertama kali adalah kesempatan untuk bertobat.

 

Keempat, tanggung jawab menjadi "Suara". "...berserulah terhadap mereka..." Yunus tidak diutus untuk berdiskusi, tetapi untuk "berseru" (menyatakan kebenaran). Tuhan menetapkan manusia sebagai rekan sekerja-Nya untuk menyampaikan pesan-Nya. Dunia yang hancur karena "kejahatan" sering kali hanya membutuhkan satu suara yang berani menyatakan kebenaran agar terjadi pemulihan. Diamnya orang benar di tengah kejahatan adalah sebuah kegagalan misi.


Yunus 1:2 mengajarkan bahwa Tuhan lebih peduli pada keselamatan jiwa-jiwa daripada pada kenyamanan kita atau rasa benci kita. Karena itu, Allah adalah Allah bagi seluruh bangsa, bukan hanya bagi kelompok kita sendiri. Panggilan Tuhan sering kali memaksa kita untuk mengalahkan ego kita demi kepentingan kerajaan-Nya. (rsnh)

 

Selamat memulai karya dalam Minggu ini untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer