Renungan hari ini: "MEMPERJUANGKAN IMAN YANG SEJATI" (Yudas 1:3)
"MEMPERJUANGKAN IMAN YANG SEJATI"
Yudas 1:3 (TB2) “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus”
Jude 1:3 (NET) “Dear friends, although I have been eager to write to you about our common salvation, I now feel compelled instead to write to encourage you to contend earnestly for the faith that was once for all entrusted to the saints”
Nas hari ini mengajak kita untuk "Memperjuangkan Iman yang Sejati." Penulis surat ini, Yudas (saudara Yakobus dan saudara tiri Yesus), awalnya berniat menulis surat yang penuh sukacita tentang "keselamatan bersama". Ia ingin membahas betapa indahnya hidup dalam anugerah Tuhan. Namun, di tengah proses penulisan, ia merasakan dorongan Roh Kudus yang sangat kuat untuk mengubah arah suratnya. Ada urgensi yang mendesak: Iman jemaat sedang dalam bahaya.
Ada tiga poin penting yang dapat kita pelajari dari ayat ini:
Pertama, kekristenan bukan sekadar "Kabar Baik", tapi juga "Penjagaan terhadap Kebenaran" Yudas merasa "terdorong" untuk menulis peringatan. Ini mengingatkan kita bahwa hidup beriman tidak selamanya tentang hal-hal yang membuat kita merasa nyaman atau tenang. Ada saatnya kita harus waspada dan bersikap tegas. Kita tidak hanya dipanggil untuk menikmati keselamatan, tetapi juga untuk menjaga kemurnian pengajaran yang mendasari keselamatan itu.
Kedua, panggilan untuk berjuang (Agonizomai). Kata "berjuang" dalam bahasa asli (Yunani: agonizomai) merujuk pada perjuangan seorang atlet atau tentara yang mengerahkan seluruh tenaganya sampai titik darah penghabisan. Mempertahankan iman bukanlah tugas pasif. Di tengah dunia yang penuh dengan filsafat yang menyimpang, standar moral yang merosot, dan ajaran-ajaran yang hanya memuaskan telinga, kita dipanggil untuk "berkeringat" dalam mempelajari Firman dan tetap teguh berdiri di atas kebenaran Kristus.
Ketiga, iman sebagai warisan yang tak tergantikan. Yudas menyebutkan tentang iman yang "telah disampaikan kepada orang-orang kudus." Kata "telah disampaikan" menunjukkan bahwa kebenaran Injil sudah tuntas dan sekali untuk selamanya diberikan kepada gereja. Kita tidak perlu mencari "wahyu baru" atau mengubah Injil agar relevan dengan dosa dunia. Tugas kita adalah menjadi "penjaga warisan" tersebut. Kita harus memastikan bahwa iman yang kita pegang hari ini adalah iman yang sama dengan yang diajarkan para rasul.
Apa yang menjadi perenungna dari nas hari ini? Berikut adalah 4 poin perenungan mendalam dari ayat tersebut:
Pertama, milikilah kepekaan terhadap urgensi Ilahi. "...sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis... aku merasa terdorong untuk menulis ini..." Yudas memiliki rencana sendiri (menulis tentang sukacita keselamatan), namun ia sangat peka terhadap dorongan Roh Kudus yang menunjukkan adanya bahaya. Sering kali kita hanya ingin mendengar hal-hal yang "manis" dan "menenangkan" dalam kekristenan. Namun, Tuhan terkadang menginterupsi kenyamanan kita untuk memberi peringatan.
Kedua, makna "Berjuang". "...supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman..." Kata "berjuang" dalam bahasa asli adalah agonizomai (akar kata dari "agony" atau pergumulan hebat), yang biasa digunakan untuk atlet yang bertanding atau tentara di medan perang. Ini berarti iman bukanlah sesuatu yang bersifat pasif atau otomatis terjaga. Iman memerlukan usaha, disiplin, dan keberanian untuk mempertahankannya di tengah arus dunia yang berlawanan.
Ketiga, finalitas Kebenaran. "...iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus." Yudas menekankan bahwa iman atau inti pengajaran Injil itu "telah disampaikan"(sekali untuk selamanya). Artinya, kebenaran tentang Kristus tidak berubah-ubah mengikuti zaman atau selera manusia. Kita tidak bertugas untuk "menciptakan" kebenaran baru atau mengubah Injil agar populer, melainkan menjadi penjaga warisan iman yang sudah diberikan oleh para rasul.
Keempat, Kasih sebagai dasar perjuangan. "Saudara-saudaraku yang kekasih..." Yudas memulai peringatan kerasnya dengan sapaan kasih. Perjuangan mempertahankan iman bukan dilakukan dengan kebencian, amarah, atau kesombongan seolah-olah kita yang paling benar. Kita memperjuangkan iman karena kita mengasihi Tuhan dan mengasihisesama. Kita tidak ingin orang-orang yang kita kasihi disesatkan dan kehilangan keselamatan.
Yudas 1:3 mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah, tetapi mempertahankan kemurnian iman adalah tanggung jawab. Karena itu, di dunia yang semakin relatif, di mana dosa dianggap biasa dan kebenaran dianggap kuno, kita dipanggil untuk menjadi "prajurit" yang menjaga harta iman kita dengan penuh kasih dan keberanian. (rsnh)
Selamat berakhir pekan dan besok beribadah untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar