Renungan hari ini: "KEMBALI KEPADA PERINTAH YANG UTAMA: SALING MENGASIHI" (2 Yohanes 1:5)

 Renungan hari ini:

 

"KEMBALI KEPADA PERINTAH YANG UTAMA: SALING MENGASIHI"


 

2 Yohanes 1:5 (TB) Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu — bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya — supaya kita saling mengasihi.

 

2 John 1:5 (NET) But now I ask you, lady (not as if I were writing a new commandment to you, but the one we have had from the beginning), that we love one another.

 

Nas hari ini mengajak kita untuk "Kembali kepada Perintah yang Utama: Saling Mengasihi." Dalam suratnya yang singkat ini, Rasul Yohanes menulis kepada "Ibu yang terpilih" (yang sering ditafsirkan sebagai jemaat lokal atau seorang pribadi yang dihormati). Yohanes tidak membawa doktrin yang rumit atau teologi yang baru. Ia justru mengajak pembacanya untuk kembali ke dasar.

 

Ada tiga hal penting yang dapat kita pelajari dari ayat ini:

 

Pertama, kasih bukanlah "Tren" yang baru. Yohanes menegaskan bahwa perintah untuk saling mengasihi bukanlah sesuatu yang baru saja ia ciptakan. Ini adalah perintah yang sudah dimiliki "sejak semula"—sejak Yesus memberikan mandat baru kepada murid-murid-Nya (Yoh. 13:34). Dalam dunia yang selalu mengejar hal-hal baru dan sensasional, kita diingatkan bahwa esensi dari kekristenan tetaplah sama: Kasih. Iman kita tidak diukur dari seberapa banyak "pengetahuan baru" yang kita miliki, melainkan dari seberapa setia kita mempraktikkan perintah lama yang mendasar ini.

 

Kedua, kasih sebagai identitas komunitas. Perhatikan kata "supaya kita saling mengasihi." Kasih Kristiani tidak pernah bersifat individualis. Kasih membutuhkan objek dan komunitas. Yohanes mengingatkan bahwa hubungan antara anggota jemaat harus ditandai dengan kasih. Kasih inilah yang menjaga jemaat dari perpecahan dan ajaran-ajaran sesat yang dibahas di ayat-ayat selanjutnya. Tanpa kasih, sebuah jemaat hanyalah sekumpulan orang, bukan tubuh Kristus.

 

Ketiga, kerendahan hati dalam mengingatkan. Yohanes berkata, "Sekarang aku minta kepadamu..." Sebagai seorang rasul yang sudah tua dan sangat dihormati, ia bisa saja memberi perintah yang otoriter. Namun, ia memilih bahasa yang lembut—sebuah permohonan kasih. Ini mengajarkan kita bahwa cara kita mengingatkan orang lain tentang kebenaran haruslah dibungkus dengan karakter kasih itu sendiri.

 

Apa yang menjadi perenungan dari nas hari ini? Berikut adalah 4 poin perenungan mendalam dari ayat tersebut:

 

Pertama, "Kembali ke Dasar" (Back to BasicsYohanes menegaskan bahwa ia tidak sedang menuliskan "perintah baru", melainkan perintah yang sudah ada "sejak semula".Di dunia yang selalu mengejar tren, inovasi, dan pengetahuan terbaru, kita sering kali merasa bosan dengan ajaran yang itu-itu saja. Namun, bagi Yohanes, rahasia pertumbuhan rohani bukanlah mencari "rahasia teologis" yang baru, melainkan kembali menekuni dasar iman kita. Fondasi iman kita adalah kasih, dan fondasi itu tidak pernah berubah.

 

Kedua, kasih sebagai sebuah "Perintah", bukan sekadar "Perasaan". Istilah "perintah" (commandment) menunjukkan bahwa kasih dalam kekristenan bukanlah sesuatu yang bersifat opsional atau tergantung pada suasana hati. Kita sering kali mengasihi orang hanya saat kita merasa "ingin" atau saat orang itu "layak" dikasihi. Namun, Yohanes menyebutnya sebagai perintah. Artinya, mengasihi adalah sebuah keputusan kehendak untuk taat kepada Tuhan. Kita mengasihi bukan karena perasaan kita sedang baik, tetapi karena Tuhan telah memerintahkannya dan Ia lebih dulu mengasihi kita.

 

Ketiga, cara Yohanes meminta ("Sekarang aku minta kepadamu...".Meskipun ia seorang Rasul dan Penatua yang sangat dihormati, Yohanes tidak menggunakan otoritasnya untuk memerintah dengan kasar. Ia menggunakan kata "minta" (Yunani: erotao - memohon/meminta dengan akrab). Perintah untuk mengasihi harus disampaikan dengan cara yang penuh kasih juga. Yohanes menunjukkan bahwa dalam komunitas iman, hubungan yang benar dibangun di atas rasa hormat dan permohonan yang tulus, bukan intimidasi atau kekuasaan. Kepemimpinan rohani yang benar selalu mengarah pada satu tujuan: supaya jemaat saling mengasihi.

 

Keempat, kasih sebagai "Pagar" terhadap kesesatan (Konteks Surat. Surat 2 Yohanes ditulis untuk memperingatkan jemaat terhadap pengajar-pengajar sesat. Menariknya, sebelum membahas tentang ajaran sesat (ay. 7), Yohanes lebih dulu menekankan tentang kasih (ay. 5). Kasih dan Kebenaran adalah dua sisi dari satu koin. Kasih tanpa kebenaran adalah kompromi yang dangkal, tetapi kebenaran tanpa kasih adalah kekejaman yang kering. Yohanes tahu bahwa komunitas yang saling mengasihi akan lebih kuat dalam menghadapi pengaruh luar yang buruk. Kasih yang tulus antar anggota jemaat adalah pelindung terbaik terhadap perpecahan dan kekacauan.


2 Yohanes 1:5 mengajarkan bahwa kematangan rohani adalah ketaatan yang konsisten terhadap perintah lama. Karena itu, tidak ada yang lebih penting dalam hidup orang percaya selain mempraktikkan kasih Kristus setiap hari kepada sesama.
(rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer