Renungan hari ini: "RAHASIA KEKUATAN YANG TAK PERNAH HABIS" (Yesaya 40:3)
Renungan hari ini:
"RAHASIA KEKUATAN YANG TAK PERNAH HABIS"
Yesaya 40:31 (TB2) "Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah"
Isaiah 40:31 (NET) "But those who wait for the Lord’s help find renewed strength; they rise up as if they had eagles’ wings, they run without growing weary, they walk without getting tired"
Nas hari ini membahas tema "Rahasia Kekuatan yang Tak Pernah Habis." Dalam perjalanan hidup, ada saat-saat di mana kita merasa benar-benar terkuras—secara fisik, mental, maupun rohani. Tekanan pekerjaan, persoalan keluarga yang tak kunjung usai, atau masa depan yang terlihat buram sering kali membuat kita kehilangan tenaga. Namun, melalui Nabi Yesaya, Tuhan memberikan janji yang luar biasa bagi mereka yang merasa lelah.
Ada empat kunci utama dari ayat ini yang perlu kita pelajari:
Pertama, definisi "Menanti-nantikan TUHAN." Menanti-nantikan TUHAN bukanlah sikap pasif atau sekadar berdiam diri tanpa berbuat apa-apa. Dalam bahasa aslinya, kata ini mengandung makna berharap dengan penuh keyakinan dan mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan. Ini adalah sikap hati yang bergantung sepenuhnya pada waktu dan kedaulatan Tuhan, bukan pada kekuatan diri sendiri. Saat kita berhenti mengandalkan ego kita dan mulai menanti-nantikan-Nya, di sanalah kekuatan itu mulai mengalir.
Kedua, pertukaran kekuatan: "Mendapat Kekuatan Baru." Kata "mendapat" dalam teks aslinya juga bisa diartikan sebagai "bertukar". Artinya, saat kita menanti-nantikan Tuhan, terjadi sebuah pertukaran yang indah: kita menyerahkan kelelahan kita dan Tuhan memberikan kekuatan-Nya kepada kita. Kita tidak lagi berjalan dengan baterai kita sendiri yang terbatas, melainkan dengan sumber energi surgawi yang tak terbatas.
Ketiga, seperti Rajawali: Mengatasi Badai. Rajawali memiliki keunikan: ia tidak membuang energi dengan mengepakkan sayap sekuat tenaga melawan badai. Sebaliknya, ia membentangkan sayapnya dan menggunakan arus angin badai tersebut untuk membawanya terbang lebih tinggi. Demikianlah orang beriman; masalah dan "badai" hidup tidak akan menjatuhkan kita jika kita mengandalkan Tuhan. Justru di tengah badai, kekuatan Tuhan akan mengangkat kita melampaui persoalan tersebut.
Keempat, konsistensi dalam berlari dan berjalan. Tuhan menjanjikan kekuatan baik untuk "berlari" (saat-saat krisis yang membutuhkan energi besar) maupun untuk "berjalan" (rutinitas sehari-hari yang sering kali membosankan dan melelahkan). Seringkali, "berjalan" dalam rutinitas justru lebih melelahkan daripada "berlari" dalam krisis. Namun, Tuhan berjanji bahwa dalam kondisi apa pun, kita tidak akan menjadi lesu atau lelah jika sumber kekuatan kita adalah Dia.
Apa yang perlu direnungkandari nas hari ini? Berikut adalah 4 poin mendalam yang perlu direnungkan dari ayat tersebut:
Pertama, makna "Menanti-nantikan" (Qavah). Dalam bahasa Ibrani, kata menanti-nantikan adalah qavah, yang berarti "menjalin" atau "menganyam" (seperti helai-helai tali yang dipilin menjadi satu agar kuat). Menanti Tuhan bukan berarti duduk diam pasif tanpa melakukan apa-apa. Menanti berarti menjalinkan hati dan pikiran kita dengan hati dan pikiran Tuhan. Semakin erat kita "terpilin" dengan Tuhan melalui doa dan Firman, semakin kuat "tali" kehidupan kita.
Kedua, "Pertukaran Kekuatan". Frasa "mendapat kekuatan baru" dalam teks aslinya mengandung arti "bertukar". Ini adalah sebuah transaksi ilahi. Tuhan tidak sekadar menambah sedikit tenaga pada kelelahan kita. Dia meminta kita menyerahkan kelelahan kita yang terbatas, dan sebagai gantinya, Dia memberikan kekuatan-Nya yang tidak terbatas. Kita memberikan "baterai" kita yang sudah habis, dan Dia menghubungkan kita dengan "sumber listrik" semesta.
Ketiga, metafora "Rajawali" (Perspektif dan Arus). Rajawali adalah satu-satunya burung yang tidak menghindari badai. Ia justru menggunakan arus angin badai untuk mengangkat dirinya terbang lebih tinggi tanpa harus banyak mengepakkan sayap. Menjadi seperti rajawali berarti kita tidak lagi melawan masalah dengan kekuatan otot mental kita sendiri. Kita belajar mengandalkan "angin" Roh Kudus. Masalah yang tadinya menekan kita, justru digunakan Tuhan sebagai "arus" untuk membawa kita ke tingkat kedewasaan rohani yang lebih tinggi. Rajawali terbang tinggi sehingga ia memiliki perspektif yang luas; ia melihat masalah dari sudut pandang langit, bukan sudut pandang bumi.
Keempat, ketahanan dalam "Berlari" dan "Berjalan". Ayat ini menyebutkan dua kondisi: berlari (saat krisis/urgensi) dan berjalan (rutinitas sehari-hari). Seringkali, lebih mudah untuk "berlari" saat ada tantangan besar karena adrenalin kita terpacu. Namun, tantangan terberat seringkali adalah "berjalan"—menghadapi rutinitas yang membosankan, panjang, dan melelahkan setiap hari tanpa kehilangan semangat. Janji Tuhan berlaku untuk keduanya. Dia memberi kekuatan untuk mukjizat besar (berlari), tapi Dia juga memberi kekuatan untuk kesetiaan sehari-hari (berjalan).
Yesaya 40:31 adalah panggilan untuk berhenti mengandalkan diri sendiri. Kekuatan baru hanya tersedia bagi mereka yang mengaku bahwa kekuatan lamanya sudah habis dan bersedia menanti-nantikan intervensi Tuhan. Karena itu, ingatlah bahwa solusinya bukan bekerja lebih keras, melainkan berhenti sejenak untuk menanti-nantikan Tuhan. Ambil waktu teduh, berdoa, dan baca firman-Nya. Biarkan terjadi "pertukaran kekuatan". Biarkan Tuhan membentangkan sayap-Nya di bawah kita dan membawa Anda terbang tinggi di atas masalah kita. (rsnh)
Selamat memulai karya dalam Minggu ini untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar