Renungan hari ini: "PRIORITAS HATI DAN KELIMPAHAN ANUGERAH" (2 Tawarikh 1:12)

 Renungan hari ini:

 

"PRIORITAS HATI DAN KELIMPAHAN ANUGERAH"


 

2 Tawarikh 1:12 (TB2) "Maka hikmat dan pengertian akan diberikan kepadamu. Aku juga akan memberikan kepadamu kekayaan, harta benda dan kemuliaan, seperti yang tidak pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau"

 

2 Chronicles 1:12 (NET) "You are granted wisdom and discernment. Furthermore I am giving you riches, wealth, and honor surpassing that of any king before or after you”

 

Nas hari ini membahas tema "Prioritas Hati dan Kelimpahan Anugerah." Bayangkan jika Tuhan datang kepada kita malam ini dan berkata, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." Apa yang akan menjadi daftar teratas dalam doa kita? Kebanyakan dari kita mungkin akan meminta kesehatan, pelunasan utang, kesuksesan karier, atau kebahagiaan keluarga. Hal-hal itu tidak salah, tetapi kisah Salomo dalam nats ini memberikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana seharusnya kita meminta kepada Allah.

 

Salomo baru saja naik takhta menggantikan ayahnya, Daud. Ia merasa kecil dan tidak berpengalaman untuk memimpin bangsa yang besar. Karena itu, ketika Tuhan memberinya kesempatan untuk meminta, ia tidak meminta kekayaan atau umur panjang, melainkan hikmat dan pengertian. Salomo meminta sesuatu yang berkaitan dengan tanggung jawab dan pelayanannya bagi umat Tuhan. Ia meminta hal yang esensial, bukan hal yang aksesoris. Tuhan sangat senang dengan permintaan ini karena fokus Salomo bukan pada "kepentingan diri sendiri," melainkan pada "kehendak Allah."

 

Janji Tuhan dalam ayat 12 adalah bukti nyata dari prinsip yang Yesus ajarkan berabad-abad kemudian dalam Matius 6:33: "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."Karena Salomo memprioritaskan hikmat (untuk melakukan tugas dari Allah), Tuhan justru menambahkan kekayaan, harta benda, dan kemuliaan yang melampaui raja mana pun. Tuhan tidak pernah pelit kepada anak-anak-Nya. Saat hati kita selaras dengan apa yang penting bagi Tuhan, Tuhan tidak segan-segan mencurahkan berkat tambahan yang bahkan tidak kita minta.

 

Kekayaan dan kemuliaan yang diterima Salomo bukanlah hadiah kosong. Semua itu diberikan agar ia bisa memimpin bangsa Israel dengan megah dan membangun Bait Suci bagi Tuhan. Berkat materi yang Tuhan titipkan kepada kita sering kali merupakan sarana untuk mendukung "hikmat" yang sudah Tuhan berikan. Jika Tuhan memberi kita hikmat dalam bekerja, Ia mungkin akan menambahkan keberhasilan finansial. Namun, ingatlah bahwa keberhasilan itu diberikan agar kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain, bukan sekadar untuk menimbun harta.

 

Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Berikut adalah poin-poin mendalam yang perlu direnungkan dari ayat tersebut:

 

Pertama, tentukan apa yang menjadi prioritas doa kita. Tuhan memberikan kekayaan dan kemuliaan kepada Salomo karena Salomo tidak memintanya. Fokus utama Salomo adalah meminta hikmat untuk melayani orang lain (bangsa Israel). Sering kali kita merasa Tuhan tidak menjawab doa kita, padahal mungkin fokus doa kita terlalu berpusat pada diri sendiri (self-centered). Ayat ini mengajak kita merenung: Apakah kita mencari Tuhan demi "tangan-Nya" (apa yang bisa Dia berikan) atau demi "hati-Nya" (apa yang Dia inginkan kita lakukan)? Saat kita mengutamakan apa yang penting bagi Allah, Allah akan mencukupkan apa yang menjadi kebutuhan kita.

 

Kedua, "Hikmat adalah fondasi, Kekayaan adalah tambahan". Tuhan menaruh "hikmat dan pengertian" di urutan pertama sebelum "kekayaan dan harta benda." Kekayaan tanpa hikmat akan membawa kehancuran (seperti yang terlihat di akhir hidup Salomo ketika ia mulai menjauh dari Tuhan). Hikmat adalah kemampuan untuk mengelola berkat Tuhan dengan benar. Jangan mengejar berkat materi sebelum kita memiliki kapasitas rohani (hikmat) untuk mengelolanya. Mintalah karakter dan kebijaksanaan terlebih dahulu agar saat berkat itu datang, kita tidak menjadi sombong atau jatuh.

 

Ketiga, "Allah adalah Allah yang melimpah (Abundant God)." Janji Tuhan dalam ayat ini sangat spesifik: "seperti yang tidak pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau." Tuhan tidak pernah setengah-setengah dalam memberkati. Dia adalah pemilik segalanya. Sering kali kita membatasi Tuhan dengan ketidakpercayaan kita. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan (Ef. 3:20). Milikilah iman yang besar kepada Allah, namun sertailah dengan kerendahan hati untuk tetap bergantung pada-Nya.

 

Keempat, "Berkat materi adalah titipan, bukan milik mutlak". Tuhan berkata, "Aku juga akan memberikan kepadamu..." Segala kekayaan Salomo adalah pemberian Tuhan, bukan murni hasil usahanya. Jika hari ini kita memiliki kecukupan, kesehatan, atau jabatan, apakah kita menyadari bahwa itu semua adalah pemberian-Nya? Jika itu pemberian, maka kita adalah "pengelola" (steward), bukan pemilik. Sadarilah bahwa segala kemuliaan yang kita miliki suatu saat harus dipertanggungjawabkan kembali kepada Sang Pemberi.

 

Kelima, "Bahaya dari 'Kemuliaan' tanpa kewaspadaan". Walaupun ayat ini sangat indah, sejarah mencatat bahwa pada akhirnya harta dan kemuliaan Salomo membuatnya lalai (memiliki banyak istri asing dan mulai menyembah berhala). Berkat yang besar menuntut tanggung jawab dan kewaspadaan yang besar pula. Apakah berkat yang Tuhan berikan saat ini membuat saya semakin dekat dengan-Nya, atau justru perlahan menjauhkan saya dari-Nya? Teruslah meminta "hikmat dan pengertian" setiap hari, karena berkat kemarin tidak menjamin ketaatan hari ini.

 

Tuhan tidak keberatan memberkati kita dengan hal-hal duniawi, tetapi Dia sangat peduli dengan kondisi hati kita saat menerima berkat tersebut. Karena itu, jadikanlah hikmat Tuhan sebagai pengejaran utama, maka hal-hal lain akan ditambahkan-Nya dengan cara yang ajaib. (rsnh)

 

Selamat memulai karya dalam Minggu ini untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer