Renungan hari ini: “PANGGILAN UNTUK MEMBANGUN KEMBALI” (Ezra 1:3)

 Renungan hari ini:

 

“PANGGILAN UNTUK MEMBANGUN KEMBALI”


 

Ezra 1:3 (TB2) "Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, kiranya Allahnya menyertainya! Biarlah ia pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah TUHAN. Allah Israel, Allah yang tinggal di Yerusalem"

 

Ezra 1:3 (NET) "Anyone from his people among you (may his God be with him!) may go up to Jerusalem, which is in Judah, and may build the temple of the Lord God of Israel – he is the God who is in Jerusalem"

 

Nas hari ini membahas “Panggilan untuk Membangun Kembali.” Kitab Ezra dimulai dengan sebuah peristiwa yang luar biasa dan tak terduga. Setelah 70 tahun bangsa Israel hidup dalam pembuangan di Babel, Tuhan menggerakkan hati Koresh, Raja Persia, untuk mengizinkan umat Tuhan pulang ke tanah air mereka. Kalimat dalam Ezra 1:3 bukan sekadar pengumuman politik, melainkan sebuah panggilan pemulihan.

 

Dari ayat ini, kita dapat mempelajari tiga hal penting bagi kehidupan iman kita:

 

Pertama, kesadaran akan identitas ("Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya"). Seruan ini dimulai dengan sebuah pertanyaan identitas. Di tanah pembuangan, identitas bangsa Israel nyaris pudar karena pengaruh budaya asing. Namun, panggilan Tuhan selalu datang kepada mereka yang menyadari bahwa mereka adalah "umat-Nya". Di tengah dunia yang sering memaksa kita untuk berkompromi, sehingga kita tidak sadar bahwa identitas utama kita adalah anak-anak Allah. Pemulihan dimulai ketika kita sadar dari siapa kita berasal.

 

Kedua, langkah iman untuk "Pulang." Tuhan menawarkan kesempatan, tetapi umat-Nya harus mengambil keputusan untuk "pulang". Pulang ke Yerusalem bukanlah perjalanan yang mudah; itu adalah perjalanan jauh yang penuh risiko. Banyak orang Yahudi saat itu sudah merasa nyaman di Babel dan enggan meninggalkan kemapanan mereka. Kadang Tuhan memanggil kita untuk meninggalkan "zona nyaman" atau kebiasaan buruk kita untuk kembali pada kehidupan rohani yang benar. Pulang berarti berbalik dari jalan yang salah menuju tujuan yang Tuhan tetapkan.

 

Ketiga, prioritas hidup mendirikan Rumah Tuhan. Tujuan utama kepulangan mereka bukanlah sekadar membangun rumah pribadi atau mencari kekayaan, melainkan "mendirikan rumah TUHAN". Fokus utamanya adalah memulihkan pusat penyembahan dan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka. Apa yang sedang kita bangun dalam hidup ini? Apakah kita terlalu sibuk membangun "kerajaan sendiri" sehingga mengabaikan kehidupan rohani dan pelayanan kita bagi Tuhan? Hidup yang diberkati adalah hidup yang memprioritaskan kehadiran Tuhan (Rumah Tuhan) di dalam hati dan aktivitas sehari-hari.

 

Apa yang perlu direnungkan dari nas ini? Berikut adalah poin-poin mendalam yang perlu direnungkan dari ayat ini:

 

Pertama, Tuhan berdaulat atas Sejarah. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan sanggup memakai siapa saja—bahkan raja kafir sekalipun—untuk menggenapi janji-Nya. Pembuangan bukan akhir dari segalanya; Tuhan tetap memegang kendali. Apakah saat ini Anda merasa sedang berada dalam "pembuangan" (masalah besar, kegagalan, atau masa sulit yang panjang)? Percayalah bahwa Tuhan punya cara yang tak terduga untuk mengakhiri masa sulit itu. Tidak ada tembok yang terlalu tebal atau penguasa yang terlalu kuat yang bisa menghalangi rencana pemulihan Tuhan bagi kita.

 

Kedua, sadarlah akan identitasmu. Seruan Koresh ditujukan khusus kepada mereka yang merasa sebagai "umat-Nya". Di Babel, banyak orang Yahudi sudah menjadi kaya dan nyaman, sehingga mereka lupa bahwa mereka adalah umat Tuhan yang memiliki tanah perjanjian. Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak kenyamanan dan nilai-nilai yang berbeda dengan firman Tuhan, apakah kita masih sadar bahwa kita adalah "umat-Nya"? Seringkali panggilan Tuhan datang, tetapi hanya didengar oleh mereka yang masih menjaga identitas rohaninya. Apakah kita lebih merasa sebagai warga dunia ini, atau sebagai warga Kerajaan Allah?

 

Ketiga, milikilah keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Pulang ke Yerusalem pada saat itu bukanlah hal yang mudah. Yerusalem saat itu adalah kota yang hancur, penuh puing, dan tanpa tembok perlindungan. Sementara di Babel/Persia, mereka sudah memiliki rumah dan pekerjaan tetap. Panggilan Tuhan untuk pemulihan sering kali menuntut kita meninggalkan "kenyamanan yang semu" untuk menghadapi "perjuangan yang nyata". Apakah kita bersedia meninggalkan kebiasaan lama atau kenyamanan hidup yang menjauhkan kita dari Tuhan, demi membangun kembali hubungan yang benar dengan-Nya?

 

Keempat, prioritaskanlah membangun kehadiran Tuhan. Tujuan utama kepulangan mereka bukan untuk membangun ekonomi pribadi, melainkan mendirikan kembali Rumah Tuhan (Bait Suci). Bait Suci adalah pusat kehadiran Allah dan pusat ibadah. Apa prioritas utama kita saat mengalami pemulihan? Seringkali kita meminta Tuhan memulihkan ekonomi atau kesehatan kita, tetapi lupa membangun kembali "Rumah Tuhan" di dalam hati kita—yaitu kehidupan doa, penyembahan, dan ketaatan. Pemulihan sejati dimulai dari pemulihan hubungan ibadah kita dengan Tuhan.

 

Kelima, janji penyertaan TUHAN sebagai modal utama. Koresh tidak hanya memberi izin, tetapi ia juga melepaskan berkat penyertaan. Ia tahu bahwa pekerjaan membangun kembali Yerusalem mustahil dilakukan tanpa penyertaan Allah.Dalam setiap tugas atau tanggung jawab baru yang Tuhan berikan, kita tidak perlu takut akan keterbatasan modal, kekuatan, atau kepintaran kita. Modal utama kita Allah menyertai kita.

 

 

Ezra 1:3 mengajarkan bahwa pemulihan adalah sebuah undangan. Tuhan menyediakan pintunya, tetapi kita yang harus memutuskan untuk melangkah keluar, pulang, dan bekerja membangun kembali apa yang sudah rusak. Karena itu, Tuhan tidak hanya memberikan tugas, tapi Dia juga menjanjikan kehadiran-Nya sebagai jaminan keberhasilan kita. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

 

Komentar

Postingan Populer