Renungan hari ini: "MUARA DARI SEGALA PENGAJARAN" (1 Timotius 1:5)
Renungan hari ini:
"MUARA DARI SEGALA PENGAJARAN"
1 Timotius 1:5 (TB2) "Tujuan peringatan itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas"
1 Timothy 1:5 (NET) "But the aim of our instruction is love that comes from a pure heart, a good conscience, and a sincere faith"
Nas hari ini berbicara mengenai "Muara dari Segala Pengajaran". Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus memperingatkan tentang adanya pengajar-pengajar sesat yang lebih suka berdebat tentang silsilah dan dongeng-dongeng yang tidak berujung. Di tengah kebingungan teologis itu, Paulus menarik garis yang sangat tegas tentang apa sebenarnya tujuan dari semua pengajaran, firman, dan peringatan yang diberikan dalam gereja. Tujuannya bukanlah kepintaran berdebat, melainkan Kasih.
Namun, kasih yang dimaksud Paulus bukanlah kasih yang dangkal. Kasih yang sejati harus bersumber dari tiga saluran "penyaring" di dalam diri kita:
Kasih dimulai dari motivasi. Hati yang suci berarti hati yang telah dikuduskan oleh Allah dan tidak memiliki agenda tersembunyi. Seringkali manusia mengasihi karena ingin dibalas atau agar terlihat baik. Namun, pengajaran firman yang benar seharusnya mengubah hati kita sehingga kita mampu mengasihi orang lain demi kebaikan mereka dan demi kemuliaan Tuhan, bukan demi kepentingan diri sendiri.
Hati nurani adalah "kompas moral" batiniah kita. Memiliki hati nurani yang murni berarti hidup dalam integritas—antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan adalah sama. Sulit bagi kita untuk membagikan kasih jika di dalam batin kita ada rahasia dosa atau rasa bersalah yang tidak terselesaikan. Kasih yang sejati mengalir dengan bebas ketika kita hidup dalam kejujuran di hadapan Tuhan dan sesama.
Kata asli untuk "tulus ikhlas" dalam bahasa Yunani adalah anypokritos, yang secara harfiah berarti "tanpa topeng" atau tidak munafik. Iman yang tulus tidak berpura-pura menjadi suci di hari Minggu tetapi hidup sembarangan di hari Senin. Kasih yang sejati lahir dari kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada Kristus. Karena kita tahu betapa Kristus mengasihi kita, maka kita tidak perlu memakai "topeng" untuk memikat orang lain; kita cukup membagikan kasih yang telah kita terima dari-Nya.
Seringkali kita merasa sudah menjadi orang Kristen yang "baik" hanya karena kita tahu banyak ayat Alkitab atau rajin beribadah. Namun, 1 Timotius 1:5 mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan pertumbuhan rohani kita bukanlah seberapa banyak pengetahuan yang kita miliki, melainkan seberapa besar kasih yang kita hasilkan.
Jika pengetahuan Alkitab membuat kita menjadi sombong, suka menghakimi, atau cepat marah, maka kita telah meleset dari tujuan aslinya. Mari kita memeriksa diri: Apakah ibadah, saat teduh, dan pelayanan kita sudah membuahkan kasih yang lahir dari hati yang bersih, integritas yang terjaga, dan iman yang tanpa kepura-puraan?
Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Berikut adalah 4 poin mendalam yang perlu direnungkan dari ayat tersebut:
Pertama, "Tujuan Akhir" Iman Kita (Tujuan peringatan itu ialah kasih). Seringkali kita terjebak dalam perdebatan doktrin, aturan gerejawi, atau kesibukan pelayanan. Paulus menegaskan bahwa semua kotbah, pendalaman Alkitab, dan teguran (peringatan) hanya memiliki satu tujuan akhir: KASIH. Jika pengetahuan Alkitab membuat kita menjadi sombong, suka menghakimi, atau merasa lebih suci dari orang lain, maka kita telah meleset dari tujuannya. Pengetahuan rohani yang benar seharusnya membuat kita semakin lembut dan penuh kasih kepada sesama.
Kedua, Sumber Kasih: "Hati yang Suci". Kasih yang Paulus maksud bukan sekadar perasaan suka, melainkan kasih yang mengalir dari hati yang telah disucikan oleh Allah. Hati yang suci adalah hati yang tidak memiliki agenda tersembunyi. Seringkali kita "mengasihi" karena ingin dipuji atau ingin mendapatkan sesuatu kembali. Kasih yang sejati muncul ketika hati kita bersih dari motivasi egois.
Ketiga, Pentingnya "Hati Nurani yang Murni". Hati nurani adalah suara batin yang menilai tindakan kita. Hati nurani yang murni berarti tidak ada ganjalan antara kita dengan Tuhan atau sesama. Kita tidak bisa membagikan kasih Tuhan dengan efektif jika kita sendiri sedang menyimpan dosa tersembunyi atau kepahitan yang tidak diselesaikan. Integritas (keselarasan antara apa yang diyakini dan apa yang dilakukan) adalah saluran bagi kasih Tuhan.
Keempat, bahaya "Iman yang Memakai Topeng" (Iman yang tulus ikhlas). Kata asli untuk "tulus ikhlas" adalah anypokritos, yang berarti tanpa kemuna-fikan atau tanpa topeng. Iman yang tulus tidak berpura-pura kuat saat sedang lemah, atau berpura-pura suci saat sedang bergumul. Tuhan lebih menghargai kejujuran kita akan kelemahan kita daripada kepura-puraan kita akan kesalehan kita. Iman yang tuluslah yang memungkinkan kasih Tuhan yang nyata mengalir melalui hidup kita. Karena itu, nas ini mengajarkan bahwa Kasih adalah buah, sementara Hati yang Suci, Hati Nurani yang Murni, dan Iman yang Tulus adalah akarnya. Jika akarnya sehat, buah kasih itu akan muncul secara alami dalam hidup kita. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar