Renungan hari ini: “MENEMUKAN KEDAMAIAN DALAM WAKTU TUHAN” (Pengkhotbah 3:1)

 Renungan hari ini:

 

“MENEMUKAN KEDAMAIAN DALAM WAKTU TUHAN”


 

Pengkhotbah 3:1 (TB2) "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya"

 

Ecclesiastes 3:1 (NET) "For everything there is an appointed time, and an appropriate time for every activity on earth"

 

Nas hari ini mengajak kita untuk “Menemukan Kedamaian dalam Waktu Tuhan.” Kita hidup dalam dunia yang sangat menghargai kecepatan. Kita ingin doa segera dijawab, karir segera naik, dan masalah segera selesai. Namun, firman Tuhan melalui Raja Salomo dalam kitab Pengkhotbah mengingatkan kita akan satu realitas ilahi: hidup ini tidak berjalan menurut jam tangan kita, melainkan menurut kalender Tuhan.

 

Apa yang bisa kita pelajari dari ayat yang singkat namun sangat dalam ini?

 

Pertama, kehidupan memiliki irama dan musim. Sama seperti alam memiliki musim semi, panas, gugur, dan dingin, hidup kita pun demikian. Ada masa untuk menanam, ada masa untuk menuai. Ada masa untuk tertawa, ada pula masa untuk menangis. Sering kali kita merasa frustrasi karena kita sedang berada di "musim menangis" atau "musim menunggu". Namun, ayat ini menegaskan bahwa setiap musim itu valid dan ada batas waktunya. Tidak ada musim yang abadi; kesulitan kita akan berlalu, dan sukacita pun akan datang pada saatnya.

 

Kedua, Kedaulatan Tuhan di balik "Di Bawah Langit" Frasa "di bawah langit" menunjukkan keterbatasan manusia. Kita tidak bisa mengontrol kapan hujan turun atau kapan bunga mekar. Begitu juga dengan hidup kita. Kesadaran bahwa ada "waktu untuk segala sesuatu" seharusnya membawa kelegaan, bukan keputusasaan. Artinya, kita tidak perlu memikul beban dunia di pundak kita sendiri. Ada Tuhan yang berdaulat, yang memegang kendali atas setiap detik kehidupan kita. Tugas kita bukan mengontrol waktu, melainkan setia dalam waktu yang Tuhan berikan.

 

Ketiga, belajar menghargai masa kini. Sering kali kita kehilangan kebahagiaan hari ini karena terlalu sibuk meratapi masa lalu atau mencemaskan masa depan. Jika hari ini kita sedang dalam masa sulit, percayalah itu adalah masa untuk bertumbuh dan berakar lebih dalam. Jika hari ini kita dalam masa kelimpahan, itu adalah masa untuk berbagi. Setiap waktu memiliki tujuannya sendiri. Janganlah kita menghabiskan "waktu untuk menanam" dengan terus-menerus bertanya kapan "waktu menuai" tiba.

 

Apa artinya bagi kita hari ini? Mungkin saat ini kita merasa Tuhan terlambat menolong, atau kita merasa terjebak dalam musim yang tidak menyenangkan. Ingatlah, bahwa Tuhan tidak pernah terburu-buru, tetapi Dia juga tidak pernah terlambat. Di tangan-Nya, segala sesuatu akan dijadikan indah pada waktu-Nya (Pkh. 3:11). Kedamaian sejati ditemukan bukan saat semua keinginan kita terpenuhi dengan cepat, melainkan saat kita mampu percaya bahwa waktu Tuhan adalah waktu yang terbaik.

 

Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Berikut poin-poin mendalam yang perlu kita renungkan dari ayat tersebut:

 

Pertama, kita tidak memegang kendali hidup yang penuh. Frasa "di bawah langit" mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk yang terbatas. Kita bisa merencanakan, bekerja keras, dan berusaha, tetapi kita tidak bisa memaksa "musim" dalam hidup kita berubah sesuai kemauan kita. Belajarlah untuk melepaskan kendali dan percaya pada pengaturan-Nya.

 

Kedua, setiap musim memiliki tujuan. Pengkhotbah tidak mengatakan "segala sesuatu ada musimnya" hanya untuk hal-hal yang enak saja. Jika kita baca ayat-ayat selanjutnya (ay. 2-8), ada waktu untuk menangis, merombak, dan berduka.Jika saat ini kita berada di musim yang sulit, renungkanlah bahwa musim ini tidak sia-sia. Tuhan menggunakan musim "gugur" dalam hidup kita untuk merontokkan kesombongan, dan musim "dingin" untuk memperkuat akar iman kita. 

 

Ketiga, ketidakkekalan masalah dan keberhasilan. Prinsip "ada masanya" berarti tidak ada situasi yang permanen di dunia ini. Bagi yang sedang menderita: Musim ini akan berlalu. Badai tidak akan tinggal selamanya; ia hanya sedang "lewat". Ini memberikan kita pengharapan. Bagi yang sedang di atas: Jangan sombong. Keberhasilan, kekayaan, dan jabatan juga ada "masanya". Ini mengajarkan kita untuk tetap rendah hati dan menggunakan kesempatan yang ada untuk memuliakan Tuhan.

 

Keempat, pentingnya menghargai "Hari Ini". Sering kali kita tidak bahagia karena kita ingin berada di musim yang lain. Saat melajang, ingin menikah. Saat bekerja, ingin pensiun. Saat sedih, ingin cepat-cepat tertawa. Jika segala sesuatu ada waktunya, maka hari ini pun ada maknanya. Jangan habiskan waktu kita hanya dengan menunggu masa depan atau menyesali masa lalu sehingga kita lupa berbakti dan bersyukur di masa kini. Tuhan hadir di setiap musim, bukan hanya di musim panen saja.

 

Meskipun Pengkhotbah 3:1 berbicara tentang perubahan waktu yang fluktuatif, kesimpulannya ada di ayat 11: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." Waktu Tuhan mungkin tidak selalu terasa "nyaman", tetapi selalu "tepat". Karena itu, seperti seorang koki yang tahu kapan harus memasukkan garam dan kapan harus mematikan api agar masakan lezat, Tuhan tahu persis berapa lama kita harus menunggu dan kapan kita harus melangkah. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer