Renungan hari ini: "KUALITAS IMAN DI TENGAH PERAPIAN UJIAN" (2 Tesalonika 1:4)

 Renungan hari ini:

 

"KUALITAS IMAN DI TENGAH PERAPIAN UJIAN"


 

2 Tesalonika 1:4 (TB2) "Sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita"

 

2 Thessalonians 1:4 (NET) "As a result we ourselves boast about you in the churches of God for your perseverance and faith in all the persecutions and afflictions you are enduring"

 

Nas hari ini berbicara mengenai "Kualitas Iman di Tengah Perapian Ujian." Dalam hidup ini, kita sering kali ingin dikenal karena kesuksesan, kekayaan, atau pencapaian kita. Namun, dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, Rasul Paulus justru "bermegah" atau membanggakan sesuatu yang sangat berbeda. Ia tidak membanggakan kemegahan gedung gereja mereka atau jumlah anggota mereka, melainkan ketabahan dan iman mereka di tengah penderitaan.

 

Ada tiga hal penting yang dapat kita pelajari dari ayat ini:

 

Pertama, iman yang teruji dalam penderitaan. Iman yang sejati tidak terlihat saat semuanya berjalan baik-baik saja. Iman yang sejati teruji ketika badai datang. Jemaat Tesalonika menghadapi "penganiayaan dan penindasan," namun iman mereka tidak goyah. Seperti emas yang dimurnikan dalam api, demikianlah iman kita. Tekanan hidup sering kali dipakai Tuhan bukan untuk menghancurkan kita, melainkan untuk memunculkan kemurnian iman yang ada di dalam diri kita.

 

Kedua, ketabahan adalah kekuatan untuk bertahan. Kata "ketabahan" (Yunani: hypomone) berarti kemampuan untuk tetap berdiri tegak di bawah beban yang berat. Ini bukan sekadar pasrah pada nasib, tetapi sebuah ketekunan yang aktif. Jemaat Tesalonika tetap setia melakukan kehendak Tuhan meskipun situasinya sangat sulit. Ketabahan lahir ketika kita berhenti mengandalkan kekuatan diri sendiri dan mulai bersandar sepenuhnya pada kekuatan Tuhan.

 

Ketiga, menjadi kesaksian bagi sesame. Ketabahan jemaat Tesalonika menjadi "buah bibir" yang positif. Paulus menceritakan tentang mereka kepada jemaat-jemaat lain untuk memberi semangat. Ini mengingatkan kita bahwa cara kita menghadapi masalah bukan hanya berdampak pada diri kita sendiri, tetapi juga menjadi kesaksian bagi orang lain. Saat kita tetap beriman di tengah air mata, kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa Tuhan yang kita sembah jauh lebih besar daripada masalah yang kita hadapi.

 

Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Berikut adalah 4 poin mendalam yang perlu direnungkan dari ayat tersebut:

 

Pertama, "Iman yang Membumi" (Ketabahan dan Iman). Paulus menyebutkan dua hal: Ketabahan (hypomone) dan Iman (pistis). Iman adalah pondasi—kepercayaan kita kepada Tuhan. Ketabahan adalah bangunan di atasnya—kemampuan untuk tetap bertahan saat badai menghantam. Iman tanpa ketabahan akan cepat luntur saat masalah datang. Sebaliknya, ketabahan tanpa iman hanya akan menjadi ketegaran hati yang pahit. Keduanya harus berjalan bersama.

 

Kedua, "Definisi Kebanggaan Tuhan" (Kami sendiri bermegah tentang kamu). Dunia bermegah karena kemenangan dan kenyamanan. Namun, Paulus bermegah (bangga) karena jemaat Tesalonika tetap setia di tengah penderitaan.Seringkali kita merasa malu atau merasa "dihukum Tuhan" saat kita mengalami kegagalan atau penindasan. Namun ayat ini mengajarkan bahwa bagi Tuhan, kesetiaan di dalam penderitaan adalah sebuah prestasi rohani yang besar. Tuhan bangga melihat anak-anak-Nya yang tidak menjual iman mereka demi kenyamanan sesaat.

 

Ketiga, masalah yang kita hadapi banyak. Kata "segala" menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi jemaat Tesalonika tidaklah tunggal. Mereka menghadapi berbagai macam tekanan: sosial, ekonomi, bahkan fisik. Penderitaan jarang datang satu per satu; seringkali mereka datang bertubi-tubi. Namun, kata "segala" juga berarti bahwa kasih karunia Tuhan cukup untuk "segala" jenis masalah tersebut. Tidak ada jenis penindasan yang terlalu kuat sehingga bisa mematikan iman jika kita memilih untuk tetap tabah.

 

Keempat, "Dampak Kesaksian" (Dalam jemaat-jemaat Allah). Paulus mence-ritakan ketabahan jemaat Tesalonika kepada jemaat-jemaat lain. Perjuangan mereka menjadi "bahan bakar" semangat bagi orang Kristen di tempat lain. Hidup kita adalah buku terbuka. Cara kita menghadapi masa-masa sulit, cara kita tetap berdoa saat dompet kosong, atau cara kita tetap mengasihi saat dikhianati, sedang diperhatikan oleh orang lain. Ketabahan kita bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tidak menyerah pada iman mereka.

 

Ayat ini mengajak kita untuk mengubah cara pandang terhadap masalah. Masalah bukanlah tanda ketidakhadiran Tuhan, melainkan panggung di mana ketabahan dan iman kita dipertunjukkan. Karena itu, melalui masa sulit ini, Tuhan sedang membentuk dua hal dalam diri Anda: Ketabahan dan Iman. Jangan menyerah. Ingatlah bahwa Allah sedang bekerja, dan kesetiaan kita di tengah ujian dapat menjadi inspirasi serta kekuatan bagi orang-orang di sekitar kita yang mungkin juga sedang mengalami perjuangan yang sama. (rsnh)

 

Selamat berakhir pekan dan besok kita beribadah kepada TUHAN

Komentar

Postingan Populer