Renungan hari ini: HIKMAT DALAM MENGANDALKAN TUHAN DI ATAS PENGERTIAN MANUSIA (Amsal 3:5-6)

 Renungan hari ini:

 

HIKMAT DALAM MENGANDALKAN TUHAN DI ATAS PENGERTIAN MANUSIA


 

Amsal 3:5-6 (TB2) "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu"

 

Proverbs 3:5-6 (NET) "Trust in the Lord with all your heart, and do not rely on your own understanding. Acknowledge him in all your ways,  and he will make your paths straight"

 

Nas hari ini membahas “Hikmat dalam Mengandalkan Tuhan di Atas Pengertian Manusia.”  Nas ini dimulai dengan kalimat, "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu..." Kata "Percayalah" dalam bahasa Ibrani adalah batakh, yang menggambarkan perasaan aman, berharap, dan bersandar tanpa ragu—seperti seorang anak yang menjatuhkan diri ke pelukan orang tuanya.  Dalam pemikiran Ibrani, "hati" (leb) bukan hanya pusat emosi, melainkan pusat intelektual, kehendak, dan keputusan. Percaya dengan "segenap hati" berarti melibatkan seluruh aspek keberadaan kita, bukan sekadar perasaan emosional yang pasif. 

 

Fras "...dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." Manusia memiliki akal budi, namun Amsal mengingatkan bahwa logika manusia itu terbatas, subjektif, dan sering kali dipengaruhi oleh keinginan yang salah. Kata "bersandar" (sha'an) berarti menumpukan seluruh berat badan pada sesuatu (seperti memakai tongkat). Jika kita menumpukan hidup hanya pada logika kita yang rapuh, kita berisiko jatuh. Ayat ini tidak melarang kita berpikir, tetapi melarang kita menjadikan pikiran kita sebagai otoritas tertinggi di atas firman Tuhan.

 

"Akuilah Dia dalam segala lakumu..." Menggunakan kata yada, yang berarti "mengenal secara intim/pengalaman". Mengakui Tuhan bukan sekadar menyebut nama-Nya, melainkan melibatkan Dia dalam setiap keputusan, rencana, dan tindakan. Ini mencakup aspek besar (karier, pasangan hidup) maupun aspek kecil (perkataan sehari-hari, sikap hati). Tidak ada area kehidupan yang dianggap "sekuler" atau terpisah dari kendali Allah.

 

"...maka Ia akan meluruskan jalanmu." Dalam bahasa Ibrani yashar, yang berarti membuat jalan menjadi rata, lurus, dan bebas dari rintangan yang menyesatkan.  Ini bukan berarti hidup akan selalu mulus tanpa masalah, tetapi Tuhan akan memastikan bahwa langkah kaki kita sampai pada tujuan yang benar (tujuan-Nya) dan memberikan kita hikmat untuk melewati rintangan yang ada.

 

Apa yang perlu direnungkan dari nas ini? Berikut adalah poin-poin perenungan yang mendalam untuk diaplikasikan:

 

Pertama, kita haru memiliki "Kejujuran Hati". Sering kali kita merasa percaya kepada Tuhan, tetapi sebenarnya kita sedang mendikte Tuhan. Percaya dengan "segenap hati" berarti memberikan ruang bagi Tuhan untuk bekerja dengan cara-Nya, bukan cara kita. Renungkan apakah masih ada area dalam hidupmu (keuangan, jodoh, masa depan) yang masih kamu genggam erat dan belum kamu serahkan sepenuhnya.

 

Kedua, berhenti mengandalkan logika semata. Ayat ini tidak menyuruh kita menjadi bodoh atau tidak berpikir. Namun, ia memperingatkan tentang "bersandar" (menjadikan tumpuan utama). Renungkanlah: Apakah saat masalah datang, refleks pertamamu adalah mencari koneksi manusia, menghitung uang di bank, atau berlutut berdoa? Mengandalkan pengertian sendiri sering kali membuat kita cemas, karena kapasitas manusia memang terbatas.

 

Ketiga, area yang tersembunyi. Kita sering melibatkan Tuhan dalam urusan besar (seperti pelayanan atau keputusan besar), tetapi mengabaikan-Nya dalam hal kecil seperti cara kita berbicara di media sosial, cara kita bekerja saat atasan tidak melihat, atau cara kita memperlakukan orang di rumah. Renungkan: Adakah bagian dari hidupmu yang kamu beri label "Pribadi" sehingga Tuhan tidak boleh ikut campur di sana?

 

Amsal 3:5-6 adalah panggilan untuk melakukan pergeseran pusat hidup: dari diri sendiri (self-centered) menjadi berpusat pada Tuhan (God-centered). Karena itu, ketika kita melepaskan kontrol atas pengertian kita yang terbatas dan menyerahkannya kepada hikmat Allah yang tak terbatas, di situlah hidup kita akan diarahkan pada jalan yang benar dan berujung pada kebaikan sesuai kehendak-Nya. (rsnh)

 

Selamat memulai karya untuk TUHAN dalam Minggu ini

Komentar

Postingan Populer