Renungan hari ini: “HARTA ABADI DALAM BEJANA YANG RAPUH” (2 Korintus 4:7)
Renungan hari ini:
“HARTA ABADI DALAM BEJANA YANG RAPUH”
2 Korintus 4:7 (TB2) "Namun, harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami"
2 Corinthians 4:7 (NET) "But we have this treasure in clay jars, so that the extraordinary power belongs to God and does not come from us"
Nas hari ini membas topik “Harta Abadi dalam Bejana yang Rapuh.” Jika kita memiliki perhiasan yang sangat mahal atau dokumen yang sangat berharga, di mana kita akan menyimpannya? Logika manusia akan menyimpannya di dalam brankas besi yang kuat, kotak emas yang indah, atau lemari yang terkunci rapat. Namun, Tuhan memiliki cara kerja yang sangat berbeda. Ia memilih untuk menaruh "harta" yang paling berharga di dalam "bejana tanah liat".
Apa maksud dari metafora Rasul Paulus ini?
Pertama, harta yang tak ternilai (Injil Kristus). "Harta" yang dimaksud di sini adalah kemuliaan Allah, yaitu berita Injil dan kehadiran Kristus di dalam hidup kita. Ini adalah sesuatu yang kekal, berkuasa, dan mampu mengubah hidup. Ini adalah harta yang memberikan pengharapan di tengah kegelapan.
Kedua, bejana tanah liat (kemanusiaan kita). Tanah liat adalah bahan yang murah, umum, dan sangat mudah pecah. Bejana tanah liat melambangkan diri kita sebagai manusia—tubuh kita yang bisa sakit, emosi kita yang bisa terluka, serta keterbatasan dan kelemahan kita. Kita adalah wadah yang rapuh, tidak sempurna, dan sering kali merasa "retak" oleh beban hidup.
Ketiga, mengapa Tuhan memilih wadah yang rapuh? Tujuan Tuhan sangat jelas: "supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." Jika berita Injil diberitakan oleh malaikat yang gilang-gemilang atau manusia yang sempurna tanpa cacat, maka orang akan memuji wadahnya. Namun, ketika Tuhan memakai manusia yang terbatas—yang bisa menangis, yang pernah gagal, yang punya kelemahan—untuk melakukan perkara-perkara besar, maka dunia akan melihat bahwa ada kekuatan luar biasa yang bekerja di balik kerapuhan itu. Kekuatan itu bukan dari si manusia, melainkan dari Tuhan.
Banyak dari kita sering merasa tidak layak atau minder karena merasa diri kita "retak". Kita merasa kelemahan fisik, kegagalan masa lalu, atau keterbatasan pendidikan membuat kita tidak bisa dipakai Tuhan. Namun, ayat ini justru memberikan penghiburan: Tuhan tidak mencari "bejana emas" yang sombong akan keindahannya sendiri. Ia mencari "bejana tanah liat" yang sadar akan kerapuhannya, sehingga kemuliaan-Nya bisa memancar keluar melalui retakan-retakan hidup kita. Jangan biarkan kelemahanmu membuatmu menyerah; justru di dalam kelemahanmulah, kuasa Tuhan menjadi sempurna (2 Kor. 12:9).
Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Berikut adalah poin-poin mendalam yang perlu kita renungkan dari ayat ini:
Pertama, kontras nilai (konten vs wadah). Paulus sedang membandingkan dua hal yang nilainya sangat jauh berbeda:Harta: Merujuk pada Injil, terang pengenalan akan kemuliaan Allah, dan kehadiran Kristus di dalam kita. Sesuatu yang kekal, tak ternilai, dan maha kuasa. Bejana Tanah Liat: Pada zaman itu, bejana tanah liat adalah wadah yang paling murah, sangat umum, mudah kotor, dan paling penting: mudah pecah. Ini adalah simbol dari tubuh, mental, dan keterbatasan kita sebagai manusia. Sering kali kita terlalu sibuk memoles "bejana" kita (penampilan, prestasi, harga diri) agar terlihat seperti bejana emas. Namun, Tuhan mengingatkan bahwa yang berharga bukanlah kemasan luar kita, melainkan Siapa yang tinggal di dalam kita.
Kedua, makna "Kerapuhan". Sebuah bejana tanah liat tidak perlu berpura-pura menjadi baja. Jika ia jatuh, ia pecah.Mengikut Tuhan tidak berarti kita menjadi manusia super yang tidak bisa sedih, tidak bisa lelah, atau tidak punya kelemahan. Kita tetaplah "tanah liat". Namun, kabar baiknya adalah: Tuhan justru memilih wadah yang rapuh agar kemuliaan-Nya tidak tertutup oleh kehebatan manusiawi kita. Jangan takut mengakui kelemahanmu di hadapan Tuhan, karena di situlah kuasa-Nya bekerja.
Ketiga, "Cahaya dari Retakan". Ada sebuah filosofi yang mengatakan bahwa cahaya hanya bisa masuk (atau keluar) melalui retakan. Terkadang Tuhan mengizinkan bejana hidup kita mengalami "retakan" (melalui kegagalan, penderitaan, atau sakit penyakit) supaya cahaya "Harta" yang ada di dalam kita bisa memancar keluar. Orang lain akan melihat bahwa meskipun kita ditekan, kita tidak hancur; meskipun sesak, kita tidak putus asa (ay. 8-9). Mereka akan sadar: "Pasti ada Kekuatan Besar di dalam orang ini, karena secara logika ia seharusnya sudah hancur."
Keempat, sumber Kekuatan (The Source). Tujuan utama dari skenario "Harta dalam Bejana Tanah Liat" adalah agar dunia tahu bahwa: "Kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." Ayat ini adalah "obat" bagi kesombongan. Jika kita berhasil melakukan perkara besar, ingatlah bahwa kita hanyalah wadah. Jika kita sanggup bertahan di tengah badai, itu bukan karena tanah liat kita yang kuat, melainkan karena Isinya yang luar biasa. Ini memberikan kita ketenangan: kita tidak harus menjadi hebat, kita hanya perlu menjadi wadah yang bersedia dipakai oleh Dia yang Maha Hebat.
Kelima, penerimaan diri. Banyak orang merasa tidak layak melayani Tuhan karena merasa dirinya "bejana yang cacat" atau "bejana murah". Tuhan tidak menunggu kita menjadi "bejana emas" untuk menaruh harta-Nya di dalam kita. Ia justru sengaja mencari bejana tanah liat. Nilai kita tidak ditentukan oleh bahan bejana kita, tetapi oleh Harta yang Tuhan percayakan untuk kita bawa.
Tuhan tidak mencari wadah yang indah dan kuat; Ia mencari wadah yang bersedia menampung-Nya. Kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa hebatnya kita, melainkan pada seberapa besar kita bersandar pada Kekuatan yang melimpah-limpah dari Allah. Karena itu, jadilah bejana yang terbuka, meskipun itu bejana yang sederhana. (rsnh)
Selamat berakhir pekan dan besok kita ke Gereja



Komentar
Posting Komentar