Renungan hari ini: “DIPILIH OLEH KASIH SEBELUM DUNIA ADA” (Efesus 1:4-5)

 Renungan hari ini:

 

“DIPILIH OLEH KASIH SEBELUM DUNIA ADA”


 

Efesus 1:4-5 (TB2) "Sebab, di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya"

 

Ephesians 1:4-5 (NET) "For he chose us in Christ before the foundation of the world that we may be holy and unblemished in his sight in love. He did this by predestining us to adoption as his sons through Jesus Christ, according to the pleasure of his will"

 

Nas hari ini membahas topik “Dipilih oleh Kasih Sebelum Dunia Ada.” Banyak orang menghabiskan hidupnya untuk mencari pengakuan. Kita ingin dipilih dalam tim olahraga, dipilih untuk jabatan tertentu, atau dipilih oleh seseorang untuk menjadi pasangan hidupnya. Rasanya luar biasa ketika kita "dipilih," karena itu berarti kita dianggap berharga.

 

Namun, Rasul Paulus mengungkapkan sebuah rahasia ilahi yang jauh lebih besar: Kita telah dipilih oleh Tuhan semesta alam. Dan pemilihan ini bukan terjadi kemarin atau saat kita berbuat baik, melainkan "sebelum dunia dijadikan."

 

Pemilihan itu melampaui waktu dan usaha kita. Tuhan memilih kita sebelum dunia ada. Ini berarti Tuhan memilih kita bukan karena Dia melihat kita akan menjadi orang hebat, bukan karena kita rajin beribadah, dan bukan karena jasa-jasa kita. Dia memilih kita saat kita bahkan belum ada. Ini adalah Kasih Karunia murni. Jika pemilihan Tuhan didasarkan pada kebaikan kita, kita akan selalu takut kehilangan status itu saat kita gagal. Namun, karena Dia memilih kita berdasarkan rencana-Nya yang kekal, identitas kita di dalam Dia aman dan kokoh.

 

Nas ini juga menegaskan kita diadopsi menjadi Keluarga Allah (Anak-anak-Nya). Tujuan Tuhan memilih kita bukan sekadar untuk menyelamatkan kita dari hukuman, melainkan untuk menjadikan kita anak-anak-Nya. Melalui Yesus Kristus, kita diadopsi masuk ke dalam keluarga kerajaan surga. Seorang budak bekerja karena takut pada tuannya, tetapi seorang anak melayani karena kasih kepada bapanya. Kita tidak lagi dianggap sebagai orang asing, melainkan sebagai ahli waris kerajaan-Nya.

 

Paulus dalam keyakinannya bahwa kita dipanggil untuk suatu tujuan yakni: untuk hidup kudus dan tak bercacat. Pemilihan Tuhan membawa tanggung jawab. Kita dipilih "supaya kita kudus dan tak bercacat." Kekudusan bukanlah syarat agar dipilih, melainkan tujuan setelah kita dipilih. Tuhan menerima kita apa adanya, tetapi Dia terlalu mengasihi kita jika membiarkan kita tetap apa adanya. Dia ingin karakter kita semakin serupa dengan Kristus.

 

Apa yang perlu direnungkan dari nas ini? Jika kita merenungkan ayat ini lebih dalam, berikut adalah poin-poin refleksinya:

 

Pertama, akar identitas kita. Dari mana kita mendapatkan rasa percaya diri kita? Apakah dari pencapaian, penampilan, atau pendapat orang lain? Nas ini mengajak kita untuk menaruh identitas kita pada fakta bahwa kita adalah "pilihan Tuhan". Ketika dunia menolak Kita, ingatlah bahwa Pencipta dunia telah memilih Kita.

 

Kedua, keamanan di dalam Tuhan. Renungkan kalimat "sebelum dunia dija-dikan." Jika Tuhan sudah menetapkan kasih-Nya kepada Kita jauh sebelum Kita melakukan kesalahan pertama kita, maka kegagalan kita hari ini tidak akan membuat-Nya berhenti mengasihi kita. Sejauh mana kita merasakan keamanan dan kedamaian dalam kasih Tuhan yang kekal ini?

 

Ketiga, memahami makna Kasih (Agape). Paulus menulis bahwa semua ini dila-kukan "dalam kasih" dan "sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya." Tuhan memilih kita bukan karena terpaksa, melainkan karena Dia ingin melakukannya. Dia senang menjadikan kita anak-Nya. Bagaimanakah perasaan kita mengetahui bahwa Tuhan senang memiliki hubungan dengan kita?

 

Keempat, tujuan hidup kita. Jika tujuan pemilihan Tuhan adalah agar kita menjadi "kudus dan tak bercacat," apakah hidup kita hari ini mencerminkan tujuan itu? Kudus berarti "dipisahkan untuk Tuhan." Apakah pikiran, perkataan, dan tindakan saya hari ini sudah mencerminkan bahwa saya adalah milik Tuhan?

 

Kelima, rasa syukur yang menggerakkan. Merenungkan nas ini seharusnya melahirkan ucapan syukur yang dalam. Kita yang tidak layak, dijadikan anak-anak Allah. Biarlah syukur ini menjadi bahan bakar bagi Kita untuk melayani Tuhan, bukan karena merasa wajib, melainkan karena merasa sangat dicintai.

 

Hidup Kita bukan sebuah kebetulan. Kita bukan produk dari nasib atau keberuntungan. Kita adalah pribadi yang direncanakan, dikasihi, dan dipilih oleh Tuhan sebelum bintang-bintang diciptakan. Karena itu, hiduplah hari ini dengan martabat sebagai anak Tuhan, karena kita sangat berharga di mata-Nya. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer