Renungan hari ini: “DIPANGGIL UNTUK MOMEN YANG TEPAT” (Ester 4:14)

 Renungan hari ini:

 

“DIPANGGIL UNTUK MOMEN YANG TEPAT”


 

Ester 4:14 (TB2) "Sebab, jika engkau berdiam diri saja saat ini, pertolongan dan kelepasan bagi orang Yahudi akan muncul dari pihak lain, tetapi engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu" 

 

Esther 4:14 (NET) “Don’t imagine that because you are part of the king’s household you will be the one Jew who will escape. If you keep quiet at this time, liberation and protection for the Jews will appear from another source, while you and your father’s household perish. It may very well be that you have achieved royal status for such a time as this!”

 

Nas hari ini berbicara tentang topik “Dipanggil untuk Momen yang Tepat.” Sering kali kita menganggap keberhasilan, jabatan, atau posisi yang kita miliki saat ini semata-mata adalah hasil kerja keras kita atau sekadar keberuntungan. Kita menikmati kenyamanan "istana" kita—baik itu pekerjaan yang mapan, pengaruh di masyarakat, atau pendidikan yang tinggi—dan lupa bahwa ada maksud Tuhan di balik semua itu.

 

Dalam nas ini, Ester berada di zona nyaman. Sebagai ratu, ia punya pilihan untuk tetap diam demi keselamatan nyawanya sendiri sementara bangsanya terancam genosida. Namun, Mordekhai memberikan teguran yang sangat tajam sekaligus menggugah. Ada tiga hal penting yang bisa kita renungkan dari pesan ini:

 

Pertama, kehendak Tuhan tidak bergantung pada kita, tetapi kesempatan itu terbatas. Mordekhai berkata bahwa jika Ester diam, pertolongan akan datang "dari pihak lain." Ini menunjukkan kedaulatan Tuhan. Rencana Tuhan untuk menyelamatkan umat-Nya tidak akan gagal hanya karena satu orang menolak. Namun, jika Ester menolak, ia kehilangan kesempatan untuk menjadi bagian dari rencana mulia itu. Tuhan tidak butuh kita, tapi Dia memilih untuk memakai kita. Jangan sampai kesempatan itu berlalu dan diberikan kepada orang lain karena kita terlalu takut atau egois.

 

Kedua, bahaya dari sikap diam (Pasif). Berdiam diri di tengah ketidakadilan atau kebutuhan orang lain sering kali dianggap aman, padahal Mordekhai mengingatkan bahwa "engkau dengan kaum keluargamu akan binasa." Sikap masa bodoh (apatis) tidak akan menyelamatkan kita dalam jangka panjang. Ketika Tuhan menempatkan kita di suatu posisi, dan kita melihat ada sesuatu yang salah atau ada orang yang membutuhkan pertolongan, diam adalah sebuah kegagalan tanggung jawab.

 

Ketiga, "Mungkin justru untuk saat seperti ini". Inilah inti dari panggilan hidup. Keberadaan Ester di istana bukan sekadar agar dia hidup mewah, melainkan untuk sebuah "momen krisis" yang sudah Tuhan rancang sebelumnya. Kita perlu bertanya pada diri sendiri: "Mengapa saya berada di posisi ini sekarang? Mengapa saya bekerja di tempat ini? Mengapa saya memiliki pengaruh ini?" Mungkin Tuhan menempatkan Anda di sana bukan untuk kenyamanan pribadi, melainkan untuk menjadi suara bagi mereka yang tidak bisa bersuara, atau menjadi tangan yang menolong di saat yang kritis.

 

Apa yang perlu direnungkan dari nas ini? Jika kita ingin mendalami ayat ini secara pribadi, berikut adalah poin-poin refleksinya:

 

Pertama, evaluasi posisi saat ini. Apakah aku menyadari bahwa jabatan, pengaruh, atau berkat yang aku miliki saat ini bukan milikku pribadi, melainkan titipan Tuhan untuk tujuan-Nya?

 

Kedua, Keberanian vs. Ketakutan. Apakah aku sedang berdiam diri melihat sesuatu yang salah atau melihat orang lain menderita hanya karena aku takut kehilangan kenyamananku?

 

Ketiga, memahami waktu Tuhan (Kairos). Apakah aku peka melihat "momen" yang Tuhan berikan? Terkadang panggilan Tuhan tidak datang dalam bentuk peristiwa besar, melainkan melalui krisis di sekitar kita yang membutuhkan kehadiran kita.

 

Keempat, Kedaulatan Tuhan. Sadarkah aku bahwa jika aku menolak melakukan kehendak-Nya, Tuhan sanggup memakai orang lain, namun akulah yang akan merugi karena kehilangan berkat untuk menjadi alat-Nya?

 

Kelima, tanggung jawab atas berkat. Semakin tinggi "kedudukan" (dalam hal apa pun) yang kita peroleh, semakin besar tanggung jawab moral dan spiritual yang Tuhan tuntut dari kita. Ester harus mempertaruhkan nyawanya; apa yang berani kita pertaruhkan untuk kebenaran?

 

Tuhan tidak pernah menempatkan kita di suatu posisi tanpa alasan. Janganlah kita menjadi "ratu" atau "pemimpin" yang hanya memikirkan diri sendiri. Karena itu, milikilah keberanian untuk bertindak, sekalipun ada risiko, karena mungkin memang untuk saat seperti inilah Tuhan memberikan semua yang Anda miliki sekarang. (rsnh)

 

Selamat memulai karya dalam Minggu ini untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer