Renungan hari ini: "DINAUNGI PANJI CINTA-NYA" (Kidung Agung 2:4)

 Renungan hari ini:

 

"DINAUNGI PANJI CINTA-NYA"


 

Kidung Agung 2:4 (TB2) "Telah dibawanya aku ke rumah anggur, dan panjinya di atasku adalah cinta"

 

Song of Songs 2:4 (NET) "The Beloved about Her Lover: He brought me into the banquet hall, and he looked at me lovingly"

 

Nas hari ini berbicara mengenai tema "Dinaungi Panji Cinta-Nya." Kitab Kidung Agung adalah kumpulan syair cinta yang menggambarkan kedalaman hubungan kasih antara seorang mempelai laki-laki dan perempuan. Namun bagi kita sebagai orang beriman, kitab ini juga sering dipandang sebagai alegori atau gambaran indah tentang kasih antara Tuhan dengan umat-Nya, atau Kristus dengan jemaat-Nya.  Dalam ayat ini, kita menemukan tiga pesan penting tentang bagaimana Tuhan mengasihi kita:

 

Pertama, inisiatif Kasih: "Telah dibawanya aku..." Perhatikan bahwa sang mempelai perempuan tidak masuk ke rumah anggur dengan kekuatannya sendiri. Ia dibawa oleh kekasihnya. Ini mengingatkan kita bahwa kasih Tuhan selalu dimulai dengan inisiatif-Nya. Bukan kita yang terlebih dahulu mencari Tuhan, melainkan Dialah yang menarik kita dengan tali kasih-Nya. Ia rindu membawa kita masuk ke dalam hadirat-Nya yang intim, keluar dari kesunyian atau kelelahan hidup menuju persekutuan yang manis dengan-Nya.

 

Kedua, sukacita yang melimpah: "Rumah Anggur" Dalam budaya Alkitab, "rumah anggur" (sering juga diterjemahkan sebagai rumah pesta) adalah simbol kelimpahan, kegembiraan, dan perayaan. Anggur sering melambangkan sukacita yang menyegarkan jiwa. Saat Tuhan membawa kita ke hadirat-Nya, Ia tidak membawa kita ke tempat penghakiman yang menakutkan, melainkan ke sebuah perjamuan di mana jiwa kita dipuaskan. Di dalam Tuhan, ada "anggur" sukacita yang tidak bisa diberikan oleh dunia ini. 

 

Ketiga, identitas dan perlindungan: "Panjinya di atasku adalah cinta" Pada zaman kuno, "panji" atau bendera digunakan oleh pasukan tentara sebagai tanda identitas dan perlindungan. Sebuah panji menyatakan siapa pemilik pasukan tersebut. Ketika ayat ini mengatakan panji Tuhan di atas kita adalah cinta, artinya identitas utama kita di hadapan Tuhan adalah sebagai "orang yang dicintai". Di tengah dunia yang mungkin memberi kita panji kegagalan, rasa bersalah, atau ketidakberdayaan, Tuhan membentangkan panji kasih di atas hidup kita. Kasih-Nya adalah pelindung kita, dan kasih-Nya adalah tanda bahwa kita adalah milik-Nya yang berharga. 

 

Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Berikut adalah 4 poin mendalam yang perlu direnungkan dari ayat tersebut:

 

Pertama, cinta Tuhan kepada kita adalah karena inisiatif-Nya ("Telah dibawanya aku..."). Seringkali kita merasa bahwa kitalah yang harus bekerja keras mencari Tuhan, mendaki gunung kesucian, atau berjuang sendirian untuk sampai kepada-Nya. Namun, ayat ini mengatakan: "Telah dibawanya aku." Sadarilah bahwa Tuhanlah yang mengambil inisiatif. Dia yang menjemput kita dari kegelapan, menarik kita dengan kasih, dan membawa kita ke tempat yang lebih tinggi. Kita tidak sampai pada titik ini hanya karena kekuatan kita, melainkan karena kebaikan-Nya yang menuntun kita.

 

Kedua, kepuasan sejati ada di dalam TUHAN ("Ke rumah anggur"). "Rumah anggur" (atau dalam beberapa terjemahan disebut "rumah perjamuan") melambangkan tempat kelimpahan, sukacita, dan perayaan. Anggur dalam Alkitab sering menjadi simbol sukacita yang menyegarkan jiwa. Di dalam Tuhan, ada "perjamuan" yang tersedia bagi jiwa kita. Dunia menawarkan kepuasan sementara, tetapi Tuhan menawarkan kepuasan yang melimpah. Rumah anggur berarti hubungan yang intim, bukan sekadar peraturan agama.

 

Ketiga, milikilah identitas kita yakni milik TUHAN ("Panjinya di atasku..."). Pada zaman kuno, panji atau bendera digunakan sebagai tanda kepemilikan dan tanda pasukan. Panji menyatakan: "Siapa pemilik tempat ini?" atau "Siapa yang berkuasa di sini?" Saat Tuhan membentangkan "panji" di atas kita, Dia sedang mendeklarasikan kepada seluruh alam semesta bahwa kita adalah milik-Nya. Di bawah panji-Nya, kita memiliki keamanan dan otoritas. Kita tidak lagi berjalan di bawah panji ketakutan, panji masa lalu, atau panji kegagalan.

 

Keempat, motivasi tertinggi Tuhan ("...adalah cinta")Ini adalah bagian yang paling menyentuh. Panji yang Tuhan kibarkan di atas hidup kita bukan tertulis "Hukum", "Tuntutan", atau "Penghakiman", melainkan "Cinta". Segala sesuatu yang Tuhan lakukan dalam hidup kita—baik saat Dia memberkati maupun saat Dia mendisiplin—didasari oleh kasih. Kasih adalah atap yang menaungi kita, atmosfer yang kita hirup dalam kerajaan-Nya, dan alasan mengapa Dia menyelamatkan kita.

 

Hari ini, mari kita sadari bahwa kita sedang berjalan di bawah "panji cinta" Tuhan. Apa pun tantangan yang kita hadapi—entah itu tekanan pekerjaan, pergumulan keluarga, atau kecemasan akan masa depan—ingatlah bahwa kita berada di bawah perlindungan kasih-Nya. Karena itu, Tuhan tidak sedang memandang kita dengan tatapan menghakimi, melainkan Ia rindu membawa kita lebih dekat ke "rumah anggur-Nya" untuk memulihkan sukacita kita yang sempat hilang. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer