Renungan hari ini: BUKAN KARENA "HEBATKU", TAPI KARENA "IMANKU" (Galatia 2:16)
Renungan hari ini:
BUKAN KARENA "HEBATKU", TAPI KARENA "IMANKU"
Galatia 2:16 (TB2) Kita tahu bahwa ttidak seorang pun yang yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu, kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab, "tidak ada seorang pun yang dibenarkan" karena melakukan hukum Taurat
Galatians 2:16 (NET) "Yet we know that no one is justified by the works of the law but by the faithfulness of Jesus Christ. And we have come to believe in Christ Jesus, so that we may be justified by the faithfulness of Christ and not by the works of the law, because by the works of the law no one will be justified"
Nas hari ini membahas tema “Bukan Karena "Hebatku", Tapi Karena "Imanku" Dunia kita hari ini bekerja dengan sistem "prestasi". Untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus, kita harus punya nilai yang bagus. Untuk mendapatkan pujian, kita harus berperilaku baik. Kita terbiasa berpikir bahwa untuk diterima oleh seseorang, kita harus melakukan sesuatu yang layak bagi mereka.
Tanpa sadar, kita sering membawa pola pikir ini ke dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita merasa Tuhan akan lebih mengasihi kita jika kita rajin ke gereja, banyak memberi persembahan, atau tidak melakukan dosa tertentu. Namun, melalui suratnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus menegaskan sebuah kebenaran yang radikal: Tidak ada seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat.
Apa artinya bagi kita hari ini?
Pertama, menyadari batas kemampuan manusia. Hukum Taurat itu suci dan baik, tetapi ia berfungsi seperti cermin. Cermin bisa menunjukkan bahwa wajah kita kotor, tetapi cermin tidak bisa membersihkan kotoran tersebut. Melakukan peraturan agama atau berusaha menjadi orang baik dengan kekuatan sendiri tidak akan pernah cukup untuk menghapus dosa kita. Standar Tuhan adalah kesempurnaan, dan tidak ada manusia yang sanggup mencapainya.
Kedua, inti dari pembenaran: Hubungan, bukan Peraturan. Kata "dibenarkan" bukan berarti kita memang tidak bersalah, melainkan kita "dinyatakan tidak bersalah" oleh Sang Hakim karena hutang kita sudah dilunasi oleh orang lain. Kristus telah memenuhi seluruh tuntutan hukum Taurat yang tidak sanggup kita penuhi. Ketika kita beriman kepada-Nya, maka kebenaran Kristus itu diperhitungkan sebagai kebenaran kita. Kita diterima Tuhan bukan karena apa yang kita kerjakan, tetapi karena apa yang Kristus telah kerjakan bagi kita.
Ketiga, iman yang mengubah kehidupan. Iman bukan sekadar percaya di otak bahwa Yesus itu Tuhan. Iman berarti meletakkan seluruh kepercayaan kita kepada-Nya. Jika kita sudah tahu bahwa kita selamat karena iman, maka perbuatan baik kita bukan lagi sebuah "beban" untuk mencari muka di hadapan Tuhan, melainkan sebuah "ucapan syukur" karena kita sudah lebih dulu dikasihi.
Apa yang perlu direnungkan dari nas ini? Jika kita ingin mendalami ayat ini secara pribadi, berikut adalah poin-poin refleksinya:
Pertama, apakah saya masih sering merasa bersalah? Apakah kita merasa Tuhan menjauh ketika kita gagal melakukan sesuatu yang baik? Nas ini mengingatkan bahwa status kita sebagai anak Tuhan tidak ditentukan oleh naik-turunnya performa rohani kita, melainkan oleh iman kita kepada Kristus.
Kedua, motivasi dalam melayani. Tanyakan pada diri sendiri: "Mengapa saya melayani Tuhan? Apakah supaya saya dipandang baik oleh Tuhan (dan orang lain), atau sebagai ungkapan syukur karena saya sudah dibenarkan?" Perbuatan baik tanpa iman adalah beban, tetapi perbuatan baik yang lahir dari iman adalah sukacita.
Ketiga, bahaya kesombongan Rohani. Nas ini menekankan bahwa "tidak ada seorang pun" yang dibenarkan karena Taurat. Ini artinya, di hadapan salib Kristus, semua orang sama. Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa lebih suci atau lebih layak daripada orang lain, karena kita semua selamat hanya karena anugerah (kasih karunia).
Keempat, berhenti mengandalkan diri sendiri. Bagian mana dalam hidup kita yang masih kita coba selesaikan dengan kekuatan sendiri tanpa melibatkan iman? Belajarlah untuk mengandalkan janji Kristus lebih dari mengandalkan kemampuan moral Anda sendiri.
Merenungkan ayat ini membawa kelegaan. kita tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan akan "tidak cukup baik". kita sudah cukup di dalam Kristus. Bagaimana kesadaran ini mengubah cara kita memandang hidup hari ini? Karena itu, berhenti mencoba untuk "membeli" kasih Tuhan dengan kebaikan-kebaikan kita. Terimalah kasih karunia-Nya dengan rendah hati. Kita selamat bukan karena kita hebat, tetapi karena Tuhan kita yang sangat hebat telah menyelamatkan kita. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar