KOTBAH MINGGU ESTOMIHI Minggu, 15 Pebruari 2026 “YESUS DIMULIAKAN DI ATAS GUNUNG” (Lukas 9:28–36)
Minggu, 15 Pebruari 2026
“YESUS DIMULIAKAN DI ATAS GUNUNG”
Kotbah: Lukas 9:28–36 Bacaan: 2 Samuel 22:44-51
Hari ini kita merayakan Minggu Estomihi. Nama ini diambil dari bahasa Latin Mazmur 31:3, "Esto mihi in Deum protectorem"—"Jadilah bagiku gunung batu perlindungan." Secara liturgis, Minggu Estomihi adalah gerbang terakhirsebelum kita memasuki masa Prapaskah (Rabu Abu).
Hari ini kita berdiri di atas gunung bersama Yesus dalam peristiwa Transfigurasi. Secara historis-kritis, peristiwa ini bukan sekadar "pertunjukan cahaya" surgawi, melainkan sebuah proklamasi politik dan teologis yang menentukan arah perjalanan Yesus menuju Yerusalem.
Lukas mencatat bahwa Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus ke atas gunung untuk berdoa. Dalam sejarah Israel, gunung adalah tempat teofani (penampakan Allah). Kita diingatkan pada Musa di Gunung Sinai dan Elia di Gunung Horeb.
Hadirnya Musa dan Elia di samping Yesus (ay. 30) memiliki makna historis-kritis yang mendalam:
- Musa mewakili Taurat (hukum).
- Elia mewakili nabi-nabi.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa Yesus tidak sedang menciptakan agama baru yang terputus dari masa lalu. Sebaliknya, Yesus adalah pemenuhan (klimaks) dari seluruh sejarah keselamatan Israel. Secara kritis, teks ini membantah pandangan bahwa Yesus adalah seorang pemberontak yang mengabaikan tradisi Yahudi; Ia justru adalah Telos (tujuan) dari tradisi tersebut.
Ada beberapa pelajaran penting dari perikop kotbah Minggu ini:
Pertama, analisis Teologis: "Exodus" yang baru (ay. 31). Ada detail unik yang hanya dicatat oleh Lukas. Lukas mencatat bahwa Musa, Elia, dan Yesus berbicara tentang "tujuan kepergian-Nya" (dalam bahasa Yunani asli digunakan kata Exodos). Ini adalah poin teologis yang sangat krusial. Mengapa istilah Exodus digunakan?
- Exodus pertama (Musa) adalah tentang pembebasan Israel dari perbudakan Mesir.
- Exodus kedua (Yesus) adalah tentang pembebasan umat manusia dari perbudakan dosa dan maut melalui Yerusalem (Salib dan Kebangkitan).
Kemuliaan Yesus di atas gunung tidak bisa dipisahkan dari penderitaan-Nya di atas salib. Secara teologis, kemuliaan Kristus (Theologia Gloriae) hanya dapat dipahami secara benar melalui jalan salib (Theologia Crucis). Wajah-Nya yang bercahaya di atas gunung adalah pratinjau dari kemenangan yang akan diraih melalui penumpahan darah di Bukit Golgota.
Kedua, kritik terhadap "Kenyamanan Spiritual": kesalahan Petrus (ay. 33). Reaksi Petrus sangat menarik secara kritis: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah..." Petrus mengalami apa yang sering kita alami: Godaan Estetika Spiritual. Ia ingin membekukan momen kemuliaan itu. Ia ingin menetap di atas gunung, jauh dari kekacauan di kaki gunung, jauh dari salib yang baru saja dinubuatkan Yesus (Luk. 9:22). Secara kritis, kita harus waspada terhadap "kekristenan puncak gunung" yang hanya mengejar pengalaman emosional, mukjizat, dan kenyamanan, namun enggan turun ke "lembah" untuk melayani dan menderita. Suara dari awan menegur Petrus (dan kita): "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!" Mendengarkan Yesus berarti mengikuti langkah-Nya turun dari gunung menuju Yerusalem—menuju ketaatan dan pengorbanan.
Pertanyaan kita sekarang adalah bagaimanakah cara kita untuk memuliakan Yesus? Berdasarkan teks Lukas 9:28–36, memuliakan Yesus bukan sekadar memuji-muji dengan kata-kata, melainkan sebuah respons menyeluruh terhadap identitas dan misi-Nya. Berikut adalah cara kita memuliakan Yesus menurut nats tersebut:
Pertama, menjadikan doa sebagai prioritas utama. Lukas mencatat bahwa perubahan rupa Yesus terjadi "ketika Ia sedang berdoa" (ay. 29). Kemuliaan Allah dinyatakan dalam suasana persekutuan yang intim. Kita memuliakan Yesus ketika kita menyediakan waktu khusus untuk "naik ke atas gunung" (menjauh dari kebisingan dunia) untuk bersekutu dengan-Nya. Hidup yang memuliakan Tuhan adalah hidup yang akarnya tertanam dalam doa, bukan hanya dalam aktivitas yang sibuk.
Kedua, mendengarkan Firman-Nya di atas segala suara lain. Puncak dari peristiwa ini adalah suara dari awan yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!" (ay. 35). Di sana ada Musa (hukum) dan Elia (nabi), namun Allah Bapa memerintahkan murid-murid untuk fokus mendengarkan Yesus. Kita memu-liakan Yesus dengan memberikan otoritas tertinggi kepada perkataan-Nya. Dalam dunia yang penuh dengan suara-suara ideologi, opini publik, dan keinginan diri sendiri, memuliakan Yesus berarti menjadikan ajaran-Nya sebagai kompas utama dan menaatinya secara radikal.
Ktiga, memahami dan menerima "Jalan Salib" (Misi-Nya). Musa dan Elia berbicara dengan Yesus tentang "tujuan kepergian-Nya (Exodus-Nya) yang akan digenapi -Nya di Yerusalem" (ay. 31). Mereka tidak membicarakan tentang takhta di bumi, melainkan tentang pengorbanan Yesus di salib. Kita memuliakan Yesus ketika kita tidak hanya mencari "Yesus yang memberikan berkat/ kemuliaan", tetapi juga menerima "Yesus yang menderita di salib". Kita memuliakan-Nya dengan cara menghargai karya penebusan-Nya dan bersedia memikul salib kita sendiri untuk mengikuti-Nya.
Keempat, tidak berhenti pada "Kenyamanan Spiritual" (Turun dari Gunung). Petrus ingin mendi-rikan tiga kemah agar bisa tetap tinggal di atas gunung karena ia merasa bahagia (ay. 33). Namun, Yesus tidak mengizinkan itu; mereka harus turun kembali ke lembah di mana ada orang-orang yang sakit dan membutuhkan pertolongan (lih. Ay. 37 dst).Memuliakan Yesus berarti tidak menjadi egois secara rohani. Kita tidak boleh hanya menikmati ibadah yang megah atau perasaan damai secara pribadi, lalu melupakan penderitaan dunia. Kita memu-liakan Yesus dengan cara membawa "cahaya kemuliaan" yang kita dapatkan di gereja ke dalam kehidupan nyata—ke tengah masyarakat, pekerjaan, dan keluarga yang membutuhkan kasih.
Kelima, mengakui Keunikan dan Keunggulan Kristus. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Yesus jauh lebih tinggi dari Musa dan Elia. Setelah suara itu terdengar, "Yesus didapati seorang diri" (ay. 36). Musa dan Elia menghi-lang, hanya Yesus yang tinggal. Kita memuliakan-Nya dengan tidak menyamakan Yesus dengan tokoh hebat mana pun di dunia ini. Ia bukan sekadar guru moral atau nabi besar. Kita memuliakan-Nya dengan mengakui bahwa Dialah satu-satunya Juruselamat, Sang Anak Allah yang Terpilih. Segala aspek hidup kita (hobi, karier, ambisi) harus tunduk di bawah keunggulan-Nya.
Memuliakan Yesus menurut Lukas 9:28-36 adalah dengan berdoa dengan tekun, mendengarkansuara-Nya di atas segala suara, menerima jalan pengorbanan-Nya, dan membawa kasih-Nya dari "puncak gunung" ibadah ke "lembah" pelayanan sehari-hari.
RENUNGAN
Apa yang menjadi perenungan dan refleksi dari tema kotbah ini? Berikut adalah poin-poin perenungan dan refleksi mendalam dari tema “Yesus Dimuliakan di Atas Gunung” yang dapat kita terapkan dalam kehidupan iman sehari-hari:
Pertama, Kemuliaan Tuhan hadir di tengah Keletihan kita. Ayat 32 mencatat bahwa Petrus dan teman-temannya "sangat mengantuk," namun ketika mereka terjaga, mereka melihat kemuliaan-Nya. Sering kali kita merasa terlalu lelah dengan beban hidup, rutinitas, atau bahkan pelayanan, sehingga kita merasa "mengantuk" secara spiritual. Namun, peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan Tuhan tidak bergantung pada stamina kita. Tuhan sering kali menyatakan diri justru saat kita berada di titik nadir atau kelelahan. Jangan biarkan keletihan membuat Anda berhenti "mendaki gunung" doa, karena di titik terjaga kita, kemuliaan itu menanti.
Kedua, definisi Kemuliaan Tuhan adalah pengur-banan. Poin yang sangat tajam dalam teks ini adalah apa yang dibicarakan Yesus bersama Musa dan Elia: "tujuan kepergian-Nya (Exodus-Nya) yang akan digenapi-Nya di Yerusalem" (ay. 31). Mereka tidak membicarakan kejayaan politis, melainkan kematian Yesus di salib. Bagi dunia, "dimuliakan" berarti naik takhta, mendapatkan pujian, dan menjadi kuat. Namun bagi Yesus, kemuliaan justru dinyatakan melalui jalan salib (Exodus). Perenungan bagi kita: Apakah kita mencari kemuliaan yang duniawi (kekuasaan dan kenyamanan), ataukah kita bersedia dimuliakan melalui jalan ketaatan, meskipun itu berarti harus berkorban bagi sesama?
Ketiga, godaan untuk menetap di "Zona Nyaman" Rohani. Petrus berkata, "Betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah" (ay. 33). Petrus ingin menghentikan waktu dan menghindari kenyataan pahit di bawah gunung. Sering kali kita ingin terjebak dalam "eufori rohani"—kita hanya ingin beribadah, menyanyi, dan merasa damai di dalam gereja, tetapi enggan turun ke "lembah" kenyataan dunia yang kotor, penuh pergumulan, dan penderitaan. Memuliakan Yesus berarti siap untuk turun kembali. Pengalaman di puncak gunung (ibadah) harus menjadi bahan bakar untuk melayani di lembah (kehidupan sehari-hari).
Keempat, fokus pada Suara Kristus di tengah kebingungan. Dalam ayat 34, awan datang meliputi mereka dan mereka ketakutan. Di tengah kegelapan dan ketakutan itu, hanya satu perintah Bapa: "Dengarkanlah Dia!" (ay. 35). Hidup sering kali seperti awan yang gelap; penuh ketidakpastian, penyakit, atau kegagalan yang menakutkan. Di saat kita tidak tahu harus berbuat apa (seperti Petrus yang "tidak tahu apa yang dikatakannya"), solusi satu-satunya adalah berhenti bicara dan mulai mendengarkan Yesus.Apakah suara Firman Tuhan lebih nyaring di telinga kita daripada suara ketakutan kita?
Kelima, Yesus yang "Seorang Diri" adalah Cukup. Setelah suara itu hilang dan awan berlalu, "Yesus didapati seorang diri" (ay. 36). Musa (simbol hukum) pergi, Elia (simbol nabi) pergi, pengalaman spektakuler berakhir. Hanya tinggal Yesus. Pengalaman emosional yang hebat bisa hilang, orang-orang hebat yang kita kagumi bisa pergi, dan mukjizat mungkin tidak terjadi setiap hari. Namun, refleksi terpenting adalah: Jika hanya ada Yesus dalam hidup kita, apakah itu cukup bagi kita? Peristiwa transfigurasi mengajarkan bahwa pada akhirnya, yang kita butuhkan untuk menatap masa depan (masa Prapaskah/masa sulit) bukanlah "pemandangan spektakuler," melainkan kehadiran Yesus yang sederhana namun nyata di samping kita.
Minggu Estomihi adalah pintu menuju masa Prapaskah. Peristiwa di gunung ini diberikan sebagai "bekal" agar para murid tidak putus asa saat melihat Yesus dihina di salib nanti. Ingatlah momen-momen saat Tuhan menolong Anda di masa lalu. Gunakan memori tentang "kemuliaan Tuhan" itu sebagai kekuatan saat Anda harus memasuki masa-masa sulit atau masa pertobatan yang berat. Tuhan memberi kita cahaya di atas gunung agar kita tidak tersesat saat berjalan di dalam kegelapan lembah.
Memuliakan Yesus di atas gunung berarti mengakui bahwa Dialah pemilik otoritas tunggal atas hidup kita. Karena itu, kita dipanggil untuk mendaki gunung dalam doa, diubahkan oleh perjumpaan dengan-Nya, mendengarkan suara-Nya di atas segala suara, dan akhirnya turun ke dunia untuk membagikan terang kemuliaan itu melalui pelayanan yang penuh kasih dan pengorbanan. (rsnh)
Selamat beribadah dan menikmati lawatan TUHAN



Komentar
Posting Komentar