Renungan hari ini: "MEMPERSEMBAHKAN DIRI KEPADA TUHAN DENGAN SEPENUH HATI" (Imamat 1:1-2)
Renungan hari ini:
"MEMPERSEMBAHKAN DIRI KEPADA TUHAN DENGAN SEPENUH HATI"
Imamat 1:1-2 (TB2) TUHAN memanggil Musa dan berfirman kepadanya dari dalam Kemah Pertemuan: "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu berupa hewan, entah lembu atau kambing domba"
Leviticus 1:1-2 (NET) Then the Lord called to Moses and spoke to him from the Meeting Tent: “Speak to the Israelites and tell them, When someone among you presents an offering to the Lord, you must present your offering from the domesticated animals, either from the herd or from the flock"
Nas hari ini berbicara mengenai "Mempersembahkan Diri kepada Tuhan dengan Sepenuh Hati." Di dalam Imamat 1:1-2, kita membaca bagian awal dari hukum persembahan yang diberikan kepada bangsa Israel. Ayat ini memperkenalkan kita kepada persembahan yang diterima oleh Tuhan dan cara Tuhan ingin dipersembahkan. Dalam konteks ini, persembahan hewan adalah simbol dari penyerahan yang sepenuhnya kepada Tuhan, sebagai bagian dari hubungan yang intim dan penuh hormat antara umat dengan Allah.
Kitab Imamat, yang terletak dalam Perjanjian Lama, memberikan banyak peraturan dan petunjuk tentang bagaimana umat Israel harus menyembah Tuhan melalui berbagai macam persembahan, termasuk persembahan bakaran (holocaust) yang disimbolkan dengan hewan yang disembelih. Tetapi di balik semua ritual ini, kita juga diingatkan bahwa persembahan yang diterima Tuhan adalah yang datang dari hati yang tulus dan dengan penyerahan diri sepenuhnya.
Dalam Imamat 1:1-2, kita melihat bahwa Allah memberikan petunjuk kepada Musa untuk menyampaikan kepada umat-Nya bahwa persembahan kepada Tuhan harus yang terbaik, yaitu hewan yang tanpa cacat. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya memberikan yang terbaik kepada Tuhan dalam hidup kita, tidak hanya dalam bentuk persembahan fisik, tetapi juga dalam aspek rohani.
Nas ini mengajarkan pada kita agar kita mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan. "Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persem-bahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu berupa hewan, entah lembu atau kambing domba." Di sini kita melihat bahwa persembahan kepada Tuhan tidak bisa sembarangan. Persembahan harus berupa hewan yang tidak cacat, yang berarti persembahan yang terbaik. Dalam konteks ini, Tuhan meminta umat Israel untuk memberikan sesuatu yang berharga sebagai tanda pengurbanan dan penghormatan.
Meskipun kita tidak lagi mempersembahkan hewan seperti di masa Perjanjian Lama, prinsip ini tetap berlaku dalam kehidupan Kristen kita. Kita dipanggil untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan, baik dalam hal waktu, talenta, uang, maupun hati kita. Tuhan tidak menginginkan yang sisa atau yang tidak bernilai, tetapi yang terbaik dari diri kita sebagai persembahan hidup yang kudus.
Nas ini juga mengingatkan pada kita bahwa persembahan itu sebagai tanda penyerahan diri. "TUHAN memanggil Musa dan berfirman kepadanya dari dalam Kemah Pertemuan..." Allah memanggil Musa untuk menyampaikan pesan ini, dan pesan ini berasal dari Kemah Pertemuan, tempat Allah berdiam di tengah umat-Nya. Ini menunjukkan bahwa persembahan yang diberikan bukan hanya untuk memenuhi kewajiban agama, tetapi sebagai tanda kedekatan dan hubungan intim dengan Allah. Tuhan berfirman dari Kemah Pertemuan, tempat di mana Allah berkomunikasi langsung dengan umat-Nya. Ini mengingatkan kita bahwa persembahan sejati berasal dari hubungan yang benar dengan Tuhan, bukan dari kewajiban atau rutinitas semata.
Persembahan itu sebagai tanda pertobatan dan penyucian. Pada zaman Perjanjian Lama, persembahan hewan juga berfungsi untuk menebus dosa dan menyucikan umat. Dengan mengorbankan hewan yang tanpa cacat, umat Israel menunjukkan penyesalan atas dosa-dosa mereka dan memohon pengampunan dari Tuhan. Persembahan adalah tindakan pertobatan yang membawa mereka kembali kepada Allah. Persembahan yang diberikan kepada Tuhan bukan hanya sekadar bentuk ritual, tetapi juga simbol penyerahan diri dan pertobatan. Ketika kita datang kepada Tuhan, apakah kita juga datang dengan hati yang sungguh-sungguh bertobat dan siap untuk mempersembahkan hidup kita kepada-Nya sebagai tanda pertobatan? Saat kita mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan, apakah kita sadar bahwa kita adalah makhluk yang membutuhkan pengampunan-Nya, dan persembahan kita adalah bentuk penyucian dan pertobatan?
Nas ini juga menekankan pada kita bahwa hidup sebagai persembahan yang hidup. Pernyataan dalam Imamat 1:2 juga mengarah kepada pemahaman bahwa kita dipanggil untuk hidup sebagai persembahan hidup bagi Tuhan. Dalam Roma 12:1, Paulus mengatakan:"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu untuk mempersembahkan tubuhmu sebagai persem-bahan yang hidup, yang kudus, yang berkenan kepada Allah sebagai ibadahmu yang sejati."Persembahan kepada Tuhan tidak terbatas pada pemberian materi atau simbolis, tetapi lebih pada penyerahan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Ini adalah ibadah yang sejati yang menyenangkan hati Allah.
Apa yang perlu direnungkan dan temanya dari nas hari ini? Ada beberapa poin yang perlu direnungkan:
Pertama, persembahan yang tulus dan berkenan di hadapan Tuhan. Allah memanggil umat-Nya untuk mempersembahkan sesuatu yang berharga dan berkenan di hadapan-Nya. Persembahan bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi sebuah tindakan penyerahan diri yang mendalam. Allah meminta umat Israel untuk mempersembahkan hewan yang sehat dan tanpa cacat, sebagai simbol dari penyerahan yang penuh dan sepenuh hati. Persembahan kita kepada Tuhan tidak hanya berbicara tentang material atau benda fisik, tetapi tentang hati dan hidup kita. Apakah kita memberikan yang terbaik untuk Tuhan, ataukah kita hanya memberi yang sisa-sisa atau yang mudah? Tahun baru ini adalah saat yang tepat untuk merenungkan kembali bagaimana kita mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan. Apakah kita mempersembahkan hati kita yang penuh kasih dan pengabdian kepada-Nya? Atau kita hanya datang kepada Tuhan dengan sikap yang seadanya?
Kedua, persembahan yang memenuhi standar Allah: Tidak cacat. Allah mengajarkan umat-Nya bahwa persembahan yang diterima oleh Tuhan adalah yang terbaik—sebuah hewan yang tanpa cacat. Dalam tradisi Israel, hewan yang cacat atau sakit tidak diperbolehkan sebagai persembahan, karena itu tidak mencerminkan kesetiaan dan penghormatan yang tulus kepada Tuhan. Persembahan yang sempurna menunjukkan penyerahan yang sepenuh hati, yaitu memberi yang terbaik kepada Tuhan. Tuhan tidak hanya menginginkan persembahan fisik yang baik, tetapi yang lebih penting adalah kesediaan kita untuk memberi yang terbaik dari hati kita untuk pelayanan dan untuk memperkenalkan kasih-Nya kepada dunia.
Ketiga, persembahan sebagai tanda pertobatan dan kesediaan mengikuti Allah. Dalam Imamat 1, persembahan ini juga berkaitan dengan pertobatan dan penyucian dosa. Persembahan yang diserahkan kepada Tuhan adalah tanda dari penyesalan atas dosa-dosa yang telah dilakukan dan pengharapan akan pengampunan Allah. Dalam konteks Kristen, kita dipanggil untuk mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup—bukan hanya persembahan material, tetapi penyerahan diri sepenuhnya dalam ketaatan kepada Allah.
Keempat, menghargai keberadaan persembahan dalam ibadah sehari-hari. Imamat 1 mengajarkan bahwa persembahan bukan hanya sebuah ritual keagamaan, tetapi sebuah keterlibatan aktif dalam kehidupan iman. Sebagai umat yang telah menerima keselamatan dari Allah, kita dipanggil untuk memper-sembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup dalam setiap aspek kehidupan kita. Setiap hari adalah kesempatan untuk mempersembahkan hati kita, waktu kita, dan talenta kita kepada Tuhan.
Imamat 1:1-2 mengajarkan kita bahwa persembahan kepada Tuhan adalah tanda penyerahan hidup yang sepenuh hati. Persembahan ini tidak hanya berbicara tentang materi atau ritual, tetapi tentang hati yang tulus dan penuh pengabdian kepada Allah. Tahun baru ini adalah kesempatan bagi kita untuk merenungkan kembali komitmen kita dalam memberi yang terbaik untuk Tuhan, baik dalam hal waktu, tenaga, maupun dalam hati kita yang penuh kasih. Karena itu, mari kita mempersembahkan hidup kita dengan sepenuh hati kepada Tuhan, sebagai persembahan hidup yang berkenan di hadapan-Nya, yang mencerminkan penyerahan penuh kepada-Nya dalam segala aspek kehidupan kita. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar