Renungan hari ini: “MELAMPAUI BATAS DAN LABEL MELALUI DOA” (1 Tawarikh 4:10)
Renungan hari ini:
“MELAMPAUI BATAS DAN LABEL MELALUI DOA”
1 Tawarikh 4:10 (TB2) Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya, "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku. Kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Permintaannya itu dikabulkan Allah"
1 Chronicles 4:10 (NET) Jabez called out to the God of Israel, “If only you would greatly bless me and expand my territory! May your hand be with me! Keep me from harm so I might not endure pain!” God answered his prayer.
Nas hari ini membahas tema “Melampaui Batas dan Label Melalui Doa.” Dalam daftar silsilah yang panjang di kitab 1 Tawarikh, nama Yabes muncul secara mencolok. Nama "Yabes" sendiri dalam bahasa Ibrani memiliki arti "sakit" atau "penderitaan". Ibunya memberinya nama itu karena ia melahirkan dengan kesakitan yang luar biasa. Bayangkan, setiap kali orang memanggil namanya, Yabes diingatkan bahwa ia adalah pembawa kesedihan atau produk dari penderitaan. Ia hidup dengan sebuah "label" negatif yang melekat sejak lahir.
Namun, Yabes menolak untuk menyerah pada takdir atau label yang diberikan dunia kepadanya. Ia melakukan sesuatu yang luar biasa: ia berseru kepada Allah Israel. Dari doa Yabes, kita belajar empat hal penting:
Pertama, memohon berkat yang berlimpah. Yabes tidak merasa malu untuk meminta berkat Tuhan. Ia tahu bahwa sumber segala kebaikan adalah Allah. Meminta berkat bukan berarti kita serakah, melainkan sebuah pengakuan bahwa kita sepenuhnya bergantung pada kemurahan hati Tuhan, bukan pada usaha kita sendiri.
Kedua, memperluas daerah (Pengaruh). Memperluas daerah bukan sekadar soal kepemilikan tanah, tetapi soal kapasitas dan tanggung jawab. Yabes meminta agar hidupnya berdampak lebih luas. Ia ingin melampaui batas-batas yang mengurungnya. Saat kita meminta Tuhan memperluas "daerah" kita, itu berarti kita siap digunakan Tuhan untuk menjangkau lebih banyak orang dan melakukan hal-hal yang lebih besar bagi kemuliaan-Nya.
Ketiga, membutuhkan penyertaan Tangan Tuhan. Yabes sadar bahwa jika daerahnya semakin luas, tantangannya pun akan semakin besar. Tanpa penyertaan Tuhan, keberhasilan justru bisa menjatuhkan manusia ke dalam kesombongan. Ia tahu ia tidak bisa mengelola berkat Tuhan dengan kekuatannya sendiri; ia butuh "tangan Tuhan" yang menuntun setiap langkahnya.
Keempat, perlindungan dari malapetaka dan kesakitan. Yabes yang namanya berarti "sakit" berdoa agar ia tidak ditimpa kesakitan. Ia ingin memutus rantai penderitaan yang melekat pada namanya. Ia memohon perlindungan dari pengaruh jahat dan malapetaka yang dapat merusak hidup dan sukacitanya.
Apa hasil doa Yabes? Alkitab mencatat dengan sangat indah: "Permintaannya itu dikabulkan Allah." Allah tidak membatasi Yabes berdasarkan masa lalunya atau arti namanya. Allah merespons iman Yabes yang berani datang dan berseru kepada-Nya.
Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Berikut adalah poin-poin mendalam yang perlu direnungkan:
Pertama, kita perlu memutus rantai label negatif. Nama Yabes berarti "Sakit" atau "Penderitaan". Ibunya memberi nama itu karena proses kelahirannya yang sangat menyakitkan. Bayangkan Yabes tumbuh besar dengan label "Si Pembawa Sakit". Bisa saja ada label negatif yang melekat pada kita, semisal "si gagal", "si miskin", atau "si pembuat masalah". Yabes mengajarkan bahwa kita tidak harus hidup sesuai dengan label yang diberikan dunia atau masa lalu kita. Kita punya hak untuk datang kepada Tuhan dan meminta identitas yang baru.
Kedua, kita akan mendapatkan kehormatan melalui hubungan dengan Tuhan. Ayat 9 (sebelum ayat ini) menyebutkan bahwa Yabes lebih dimuliakan daripada saudara-saudaranya. Kehormatan Yabes bukan datang dari warisan atau kekayaan, melainkan dari keberaniannya berseru kepada Allah. Kehormatan sejati di mata Tuhan tidak ditentukan oleh bagaimana kita memulai hidup, tetapi bagaimana kita membangun hubungan dengan-Nya di tengah perjalanan hidup tersebut. Doa adalah jalan menuju "kemuliaan" yang sejati.
Ketiga, kita harus memiliki keberanian meminta hal besar. Yabes meminta empat hal: Berkat berlimpah, perluasan daerah, penyertaan tangan Tuhan, dan perlindungan dari malapetaka. Ini adalah doa yang sangat berani. Seringkali kita berdoa "kecil" karena kita merasa tidak layak atau karena kita menganggap Tuhan terbatas. Yabes tahu bahwa Allah Israel adalah Allah yang Mahabesar. Apakah doa-doa Anda mencerminkan kebesaran Tuhan, atau hanya mencerminkan keterbatasan kemampuan Anda sendiri?
Keempat, kita perlu memperluas daerah dan kapasitas kita. Meminta "perluas daerah" bukan sekadar soal properti atau tanah. Bagi kita saat ini, itu bisa berarti perluasan pengaruh, perluasan tanggung jawab, atau perluasan kapasitas pelayanan. Saat kita meminta perluasan, kita sebenarnya sedang berkata, "Tuhan, gunakan aku lebih lagi." Apakah Anda siap jika Tuhan memperbesar tanggung jawab Anda? Perluasan daerah selalu diikuti dengan tantangan yang lebih besar, itulah sebabnya Yabes juga meminta "tangan Tuhan" menyertainya.
Kelima, kita butuh akan perlindungan TUHAN. Yabes menutup doanya dengan meminta agar ia dilindungi dari malapetaka supaya "kesakitan tidak menimpanya". Ini sangat kontras dengan namanya. Ia ingin Tuhan menjaganya agar hidupnya tidak lagi sesuai dengan arti namanya yang lama. Kita butuh perlindungan Tuhan bukan hanya dari bahaya fisik, tapi dari hal-hal yang bisa merusak karakter dan sukacita kita. Kesuksesan tanpa perlindungan Tuhan bisa menjadi malapetaka tersendiri.
Kalimat penutup ayat ini sangat kuat: "Permintaannya itu dikabulkan Allah." Tuhan tidak tersinggung dengan doa Yabes yang meminta berkat. Tuhan justru senang ketika anak-Nya datang dengan iman dan ketergantungan penuh. Tuhan sedang mendengarkan. Tidak ada doa yang terlalu besar untuk Dia kabulkan jika itu sesuai dengan kehendak-Nya dan bertujuan untuk memuliakan-Nya melalui hidup kita. Doa Yabes adalah doa tentang Transformasi. Ia tidak mau terjebak dalam sejarah keluarganya yang penuh kesakitan. Ia memilih untuk "mengetuk pintu surga" sampai keadaan berubah. Karena itu, Tuhan yang sama yang menjawab Yabes, adalah Tuhan yang sama yang sedang mendengarkan doa kita hari ini. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar