Renungan hari ini: “KESETIAAN YANG MEMILIH UNTUK TETAP TINGGAL” (Rut 1:16)
Renungan hari ini:
“KESETIAAN YANG MEMILIH UNTUK TETAP TINGGAL”
Rut 1:16 (TB) Tetapi Rut berkata, "Janganlah desak aku meninggalkan engkau untuk pulang dan tidak mengikutimu. Ke mana pun engkau pergi, ke situ aku pergi. Di mana pun engkau bermalam, di situ aku bermalam. Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku"
Ruth 1:16 (NET) But Ruth replied, “Stop urging me to abandon you! For wherever you go, I will go. Wherever you live, I will live. Your people will become my people, and your God will become my God.
Nas hari ini merupakan pengakuan dari Rut untuk “Kesetiaan yang memilih untuk Tetap Tinggal.” Ayat ini adalah salah satu pengakuan iman dan kesetiaan yang paling kuat dalam Alkitab. Rut mengucapkannya di tengah situasi yang sulit: kehilangan suami, masa depan yang tidak pasti, dan pilihan untuk kembali ke tanah asalnya yang mungkin lebih aman. Namun Rut memilih jalan yang berbeda. Ia memilih tetap tinggal, tetap setia, dan tetap berjalan bersama Naomi, sekalipun jalan itu penuh risiko.
Kesetiaan Rut bukan sekadar kesetiaan kepada manusia, tetapi juga kesetiaan kepada Allah. Ketika Rut berkata, “Allahmulah Allahku,” ia sedang mengambil keputusan iman yang besar. Ia meninggalkan allah-allah Moab, meninggalkan kenyamanan masa lalu, dan mempercayakan hidupnya sepenuhnya kepada Allah Israel. Kesetiaan ini lahir bukan karena keadaan mudah, melainkan justru karena keadaan sulit.
Renungan ini mengingatkan kita bahwa iman sejati sering kali dinyatakan melalui pilihan untuk tetap setia saat tidak ada jaminan, tetap mengasihi saat tidak ada keuntungan, dan tetap percaya saat masa depan tampak gelap. Rut tidak tahu apa yang menantinya di Betlehem, tetapi ia tahu kepada siapa ia mempercayakan hidupnya.
Dalam kehidupan kita hari ini, sering kali kita tergoda untuk mundur ketika keadaan tidak sesuai harapan: ketika doa belum dijawab, ketika relasi melukai, atau ketika iman diuji. Melalui Rut, kita belajar bahwa kesetiaan adalah keputusan, bukan perasaan. Kesetiaan berarti memilih untuk berjalan bersama Tuhan, apa pun keadaannya.
Allah menghargai kesetiaan seperti ini. Kita tahu bahwa pada akhirnya Tuhan mengangkat Rut, memberkatinya, dan menjadikannya bagian dari rencana keselamatan yang besar. Dari seorang perempuan asing, Rut menjadi nenek moyang Raja Daud, bahkan bagian dari garis keturunan Mesias. Semua itu berawal dari satu keputusan sederhana namun mendalam: tetap setia.
Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Ayat ini mengajak kita merenungkan makna kesetiaan, komitmen, dan iman yang sejati, terutama ketika hidup berada dalam situasi yang sulit dan penuh ketidakpastian.
Pertama, kesetiaan di tengah ketidakpastian. Rut mengucapkan kata-kata ini bukan dalam keadaan nyaman. Ia adalah seorang janda, orang asing, dan tidak memiliki jaminan masa depan. Namun justru dalam kondisi seperti itulah Rut memilih untuk tetap setia. Ini mengajak kita merenung: apakah kita tetap setia ketika masa depan terasa tidak pasti? Kesetiaan yang sejati diuji bukan saat hidup mudah, tetapi saat hidup terasa berat.
Kedua, kasih yang tidak mementingkan diri. Rut tidak memikirkan keuntungan pribadi. Ia rela meninggalkan tanah asal, budaya, dan kemungkinan hidup yang lebih aman demi menyertai Naomi. Perenungan bagi kita: apakah kasih kita kepada sesama bersifat tulus, atau hanya hadir ketika menguntungkan diri sendiri? Kasih sejati sering kali menuntut pengorbanan.
Ketiga, keputusan iman yang tegas. Ketika Rut berkata, “Allahmulah Allahku,” itu bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah pengakuan iman dan keputusan hidup. Rut memilih Allah Israel sebagai Allahnya, meninggalkan kepercayaan lama dan masa lalunya. Ini mengajak kita bertanya: apakah iman kita hanya tradisi, atau sungguh menjadi pilihan hidup yang kita pegang dengan komitmen penuh?
Keempat, mengikut Tuhan tanpa syarat. Rut tidak menanyakan apa yang akan ia dapatkan. Ia tidak menuntut jaminan. Ia hanya memilih untuk berjalan dan percaya. Dari sini kita belajar bahwa mengikut Tuhan berarti berserah sepenuhnya, bukan dengan syarat-syarat tertentu. Perenungan bagi kita: apakah kita mengikut Tuhan apa adanya, atau hanya ketika doa-doa kita dijawab sesuai keinginan kita?
Kelima, kesetiaan yang mengundang berkat Tuhan. Rut tidak mengetahui bahwa kesetiaannya akan membawanya masuk ke dalam rencana besar Allah. Namun Tuhan melihat kesetiaan hatinya. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan bekerja melalui ketaatan sederhana yang sering kali tidak kita anggap besar. Kesetiaan kecil yang dilakukan dengan iman dapat membawa dampak besar dalam rencana Tuhan.
Rut 1:16 menantang kita untuk hidup dengan iman yang teguh, kasih yang setia, dan komitmen yang tidak bergantung pada keadaan. Karena itu, ayat ini mengajak kita berkata kepada Tuhan: “Ke mana Engkau memimpin, ke situ aku pergi. Allahmulah Allahku.” (rsnh)
Selamat memulai karya dalam Minggu ini untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar