KOTBAH MINGGU III SETELAH EPIPHANIAS Minggu, 25 Januari 2026 “ALLAH MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA” (Hagai 2:1b-10)

 KOTBAH MINGGU III SETELAH EPIPHANIAS

Minggu, 25 Januari 2026

 

“ALLAH MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA” 

Kotbah: Hagai 2:1b-10  Bacaan: Roma 15:7-13 


 

Minggu Epiphanias Ketiga membawa kita merenungkan sebuah tema yang sangat relevan dalam kehidupan kita, yaitu damai sejahtera yang datang dari Allah. Dalam Kitab Hagai 2:1-10, kita melihat pesan penghiburan dan janji Tuhan kepada umat-Nya yang sedang mengalami masa-masa sulit, setelah kembali dari pembuangan di Babel dan mulai membangun kembali Bait Suci yang telah hancur. Ketika umat Allah merasa tidak ada harapan dan mereka membandingkan kondisi rumah Tuhan yang baru dengan kemuliaan masa lalu, Tuhan datang dengan pesan yang kuat: "Aku akan memberikan damai sejahtera". Dalam konteks ini, kita akan melihat bagaimana Allah memberikan damai sejahtera yang bukan hanya berkaitan dengan ketenangan jasmani, tetapi juga dengan restorasi spiritual dan kedamaian yang datang dari hadirat-Nya.

 

Situasi Umat Allah di Masa Hagai

Pada saat Hagai menyampaikan nubuat ini, umat Israel baru saja kembali dari pembuangan di Babel. Mereka mulai membangun kembali Bait Allah yang telah hancur, namun kondisi mereka sangat sulit. Banyak dari mereka yang merasa frustrasi dan kehilangan harapan. Ketika mereka melihat Bait Suci yang sedang dibangun, mereka membandingkannya dengan Bait Suci yang megah di zaman Salomo dan merasa bahwa usaha mereka tidak ada artinya. Bahkan ada yang merasa bahwa kemuliaan Tuhan tidak ada lagi di tengah mereka. Mereka merasakan ketidakmampuan untuk mewujudkan kembali kemuliaan masa lalu. Namun, Tuhan datang melalui nabi Hagai untuk mengingatkan mereka bahwa Tuhan masih hadir dan menyertai mereka meskipun dalam kondisi yang sangat sederhana dan penuh tantangan.


Sering kali kita juga merasa tidak mampu untuk menghadapi tantangan hidup. Kita mungkin memban-dingkan diri kita dengan masa-masa lalu yang lebih baik atau dengan orang lain yang tampaknya lebih diberkati. Tetapi, Tuhan mengingatkan kita bahwa kemuliaan-Nya tidak terbatas pada apa yang tampak secara fisik. Damai sejahtera yang Tuhan beri tidak bergantung pada keadaan duniawi, tetapi pada hadirat-Nya yang tetap menyertai kita.

 

Di tengah situasi itu datanglah janji Tuhan, “Aku akan memberikan Damai Sejahtera.” Tuhan memberikan janji yang sangat menguatkan kepada umat-Nya melalui nabi Hagai. Tuhan mengatakan bahwa kemuliaan rumah-Nya yang baru akan lebih besar daripada yang dahulu. Allah tidak hanya akan mengem-balikan kemuliaan fisik Bait Suci, tetapi juga memberikan damai sejahtera yang lebih besar dari sebelumnya. Janji ini juga mencakup bahwa Tuhan akan menggoncangkan segala bangsa dan membawa kemakmuran dan harta benda yang akan memenuhi rumah-Nya. Allah mengi-ngatkan umat-Nya bahwa semua perbendaharaan langit dan bumi adalah milik-Nya, dan Dia yang memiliki segala sesuatu ini akan memberikan damai sejahtera yang sejati kepada umat-Nya.


Di dunia yang penuh dengan ketegangan, konflik, dan kecemasan, kita mungkin merasa seolah-olah damai sejahtera itu jauh dari jangkauan kita. Namun, damai sejahtera yang diberikan Tuhan bukan hanya tentang keadaan eksternal, tetapi tentang kedamaian yang datang dari hadirat-Nya yang menyertai hidup kita. Apakah kita membuka hati untuk menerima damai sejahtera dari Tuhan, yang lebih besar daripada yang dunia tawarkan?

 

Selain itu, Tuhan menyertai dan memberikan kekuatan bagi umat Israel. Di tengah kesulitan yang dihadapi umat Israel, Tuhan mengingatkan mereka: “Aku menyertai kamu”. Allah yang penuh kemurahan hati ini berjanji untuk memberi mereka kuat dalam keterbatasan mereka, dan itu adalah dasar dari damai sejahtera yang mereka terima. Mereka tidak perlu takut, karena Allah yang menguasai langit dan bumi menyertai mereka. Tuhan mengingatkan kita bahwa damai sejahtera yang sejati datang dari kesadaran akan penyertaan-Nya. Meskipun mungkin kita merasa lemah dan tidak cukup, Tuhan akan memberi kita kekuatan untuk melanjutkan, dan dengan penyertaan-Nya, kita dapat menjalani hidup dengan damai.

 

Allah memberikan Damai Sejahtera agar umat Israel kuat menghadapi tantangan yang mereka hadapi. Janji Tuhan ini bukan berarti tidak akan ada lagi tantangan atau penderitaan, tetapi dengan Tuhan yang menyertai, kita dapat menghadapi segala sesuatu dengan damai sejahtera yang melampaui pengertian. Umat Tuhan dipanggil untuk tetap kuat, tidak takut, dan terus bekerja di tengah tantangan, karena Allah menyertai mereka. Dalam hidup kita, kita juga dihadapkan pada banyak kesulitan, baik itu masalah pribadi, keluarga, pekerjaan, atau situasi dunia yang tidak menentu. Namun, Tuhan mengingatkan kita bahwa damai sejahtera-Nya cukup bagi kita. Kita dipanggil untuk menjalani hidup dengan damai, karena penyertaan Tuhan tidak pernah gagal.

 

Pertanyaan kita sekarang, damai sejahtera yang bagaimanakah yang akan Allah berikan kepada umat Israel berdasarkan kitab Hagai 2:1b-10? Damai sejahtera yang Allah berikan kepada Umat Israel adalah:

 

Pertama, Allah memberikan Damai Sejahtera melalui penyertaan-Nya (ay. 4-5). Pada ayat Hagai 2:4-5, Tuhan mengingatkan umat Israel bahwa meskipun mereka merasa kecil dan tidak mampu dalam membangun kembali Bait Suci yang hancur, "Aku menyertai kamu," demikianlah firman Tuhan. Janji ini adalah dasar dari damai sejahtera yang diberikan Tuhan kepada umat-Nya. Penyertaan Tuhan berarti bahwa umat Israel tidak berjalan sendiri dalam segala tantangan yang mereka hadapi. Bahkan dalam keterbatasan mereka, mereka dapat merasa tenang dan aman, karena Tuhan yang berkuasa atas langit dan bumi menyertai mereka dalam setiap langkah mereka. Damai sejahtera yang pertama kali diberikan Allah kepada umat Israel adalah damai yang datang dari penyertaan-Nya yang tak terbatas. Ketika Tuhan menyertai kita, kita tidak perlu takut atau cemas, karena kita tahu bahwa Dia yang berkuasa atas segala sesuatu berjalan bersama kita.

 

Kedua, Allah memberikan Damai Sejahtera yang melampaui keadaan fisik dan materi (ay. 6-7). Dalam Hagai 2:6-7, Tuhan berjanji untuk menggon-cangkan segala bangsa, dan harta benda bangsa-bangsa akan datang untuk memenuhi Bait Suci. Ini bukan hanya berbicara tentang kekayaan materi, tetapi juga tentang restorasi rohani dan kedamaian yang akan datang bersama pemulihan Bait Suci. Tuhan menjanjikan bahwa kemuliaan rumah-Nya yang baru akan lebih besar daripada kemuliaan yang dahulu, dan di tempat ini akan diberikan damai sejahtera. Damai sejahtera yang Tuhan janjikan tidak hanya terbatas pada pemulihan fisik atau materi (seperti perbaikan Bait Suci), tetapi lebih dari itu—damai sejahtera rohani yang memulihkan hubungan umat dengan Allah. Ketika Bait Suci dibangun kembali, umat Israel akan merasakan kedamaian yang datang dari hadirat Tuhan yang kembali memimpin dan menyertai mereka.


Seringkali kita mencari damai sejahtera hanya dalam keadaan yang baik atau dalam hal materi. Namun, Tuhan mengajarkan kita bahwa damai sejahtera sejati datang dari hubungan yang pulih dengan-Nya, bukan hanya dari keadaan fisik kita. Apakah kita cukup mencari damai sejahtera yang datang dari hadirat Allah, meskipun dunia di sekitar kita penuh dengan kekhawatiran dan ketegangan?

 

Ketiga, Allah memberikan Damai Sejahtera dengan memberikan harapan di tengah penderitaan (ay. 8). Di dalam Hagai 2:8, Tuhan berkata, “Milik-Ku adalah emas dan perak, demikianlah firman Tuhan semesta alam”. Ini adalah pengingat bahwa semua kekayaan dan kemakmuran dunia adalah milik Tuhan, dan Dia dapat memberikannya kepada umat-Nya menurut kehendak-Nya. Namun, lebih dari itu, janji Tuhan adalah bahwa kemuliaan rumah Tuhan yang baru akan lebih besar, dan di tempat itu Tuhan akan memberikan damai sejahtera. Damai sejahtera yang Allah berikan adalah damai yang membawa harapan bagi umat-Nya, meskipun mereka sedang dalam masa-masa sulit. Umat Israel yang kembali dari pembuangan mengalami banyak tantangan dalam pembangunan kembali Bait Suci, namun Tuhan berjanji bahwa ada harapan yang lebih besar—kemuliaan yang akan datang melalui hadirat Tuhan yang memberi kedamaian.

 

Keempat, Allah memberikan Damai Sejahtera dengan menyentuh seluruh kehidupan umat-Nya (ay. 9). Di akhir ayat Hagai 2:9, Tuhan mengatakan, “Kemuliaan rumah ini yang kemudian akan lebih besar daripada yang dahulu dan di tempat ini akan Kuberikan damai sejahtera.” Janji Tuhan untuk memberikan damai sejahtera di tempat yang telah dibangun kembali mencakup lebih dari sekadar tempat fisik—itu adalah damai yang menyentuh seluruh kehidupan umat-Nya. Bait Suci adalah tempat pertemuan dengan Tuhan, dan damai sejahtera yang Tuhan berikan bukan hanya di dalam Bait, tetapi dalam seluruh hidup umat-Nya. Damai sejahtera yang diberikan Tuhan adalah damai yang menyentuh seluruh aspek kehidupan kita—baik itu dalam hubungan kita dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri kita sendiri. Apakah kita sudah merasakan damai itu dalam setiap bagian hidup kita, dan membagikan damai itu kepada orang lain?

 

Damai sejahtera yang dijanjikan Allah kepada umat Israel dalam Hagai 2:1-10 adalah damai yang datang dengan penyertaan Tuhan, restorasi rohani, pengharapan di tengah penderitaan, dan kedamaian yang menyentuh seluruh aspek kehidupan umat-Nya. Janji ini tidak hanya berlaku bagi Israel pada zaman Hagai, tetapi juga bagi kita hari ini. Damai sejahtera yang Tuhan berikan adalah lebih dari sekadar ketenangan fisik; itu adalah kedamaian yang datang dari hadirat Tuhan yang terus menyertai kita dalam setiap langkah hidup kita.

 

RENUNGAN

 

Apa yang perlu direnungkan dari tema “Allah Memberikan Damai Sejahtera” berdasarkan kitab Hagai 2:1b-10? Berikut adalah beberapa hal yang perlu kita renungkan terkait dengan damai sejahtera yang diberikan Allah melalui ayat-ayat ini:

 

Pertama, Damai Sejahtera kita rasakan dalam penyertaan Tuhan. Hagai 2:4-5 berkata, "Sekarang kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN, kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kuatkanlah hati semua rakyat negeri itu... sebab Aku menyertai kamu." Allah memberi damai sejahtera yang berasal dari penyertaan-Nya. Ketika umat Israel merasa lemah dan tidak mampu untuk melanjutkan pembangunan Bait Suci, Tuhan mengingatkan mereka bahwa Dia tidak pernah meninggalkan mereka. Penyertaan Tuhan adalah sumber utama damai sejahtera. Tanpa penyertaan Tuhan, segala usaha kita akan terasa sia-sia. Dengan Tuhan yang menyertai, kita dapat merasakan kedamaian meskipun di tengah tantangan.



Kedua, Damai Sejahtera itu melampaui kondisi fisik dan materi. Dalam Hagai 2:7-9, Tuhan berjanji untuk menggoncangkan segala bangsa dan membawa kemakmuran. "Kemuliaan rumah ini yang kemudian akan lebih besar daripada yang dahulu, dan di tempat ini akan Kuberikan damai sejahtera". Janji Tuhan ini menunjukkan bahwa damai sejahtera yang diberikan-Nya bukan bergantung pada kondisi fisik atau materi. Meskipun Bait Suci yang sedang dibangun tidak sehebat yang dahulu, Tuhan menjanjikan bahwa kemuliaan-Nya akan ada di sana dan akan membawa damai sejahtera. Hal ini mengingatkan kita bahwa damai sejahtera sejati tidak bergantung pada harta, kedudukan, atau kondisi duniawi, tetapi pada hadirat Allah dan janji-Nya yang pasti.

 

Ketiga, Damai Sejahtera itu memberikan harapan. Hagai 2:6-7 berkata, “Sekarang sekali lagi dalam sedikit waktu lagi, Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat.” Tuhan berbicara tentang pemulihan yang akan datang, bukan hanya dalam bentuk material, tetapi dalam bentuk harapan yang dibangkitkan melalui kemuliaan-Nya. Bahkan dalam kesulitan, umat Israel diberi pengharapan bahwa masa depan mereka akan lebih baik karena Tuhan akan bekerja untuk membawa kedamaian dan kemuliaan-Nya ke dalam kehidupan mereka.

 

Keempat, Damai Sejahtera itu datang dari kemurahan Hati Allah. Hagai 2:8 berkata, "Milik-Ku adalah emas dan perak, demikianlah firman TUHAN semesta alam." Tuhan adalah Pemilik segala sesuatu, dan Dia berjanji untuk memberikan yang terbaik kepada umat-Nya. Damai sejahtera yang diberikan-Nya datang dari kemurahan hati-Nya yang tak terbatas, yang berkuasa untuk memenuhi segala kebutuhan umat-Nya, baik dalam hal material maupun rohani. Tuhan tidak hanya menyediakan penghiburan dan kekuatan dalam masa sulit, tetapi juga menggenapi janji-Nya untuk memulihkan umat-Nya dan memberikan damai.

 

Kelima, Damai Sejahtera itu memulihkan hubungan dengan Allah. Dalam Hagai 2:9, Tuhan berjanji untuk memberikan damai sejahtera di tempat yang telah dibangun kembali. Penghiburan dan damai sejahtera ini bukan hanya tentang kedamaian fisik atau materi, tetapi lebih dari itu—itu adalah pemulihan hubungan umat dengan Tuhan. Tuhan kembali mengundang umat-Nya untuk mendekat kepada-Nya melalui persekutuan di rumah-Nya, yang dipulihkan dan penuh dengan kemuliaan-Nya. Damai sejahtera sejati datang ketika kita berada dalam hubungan yang erat dengan Allah dan merasakan hadirat-Nya dalam hidup kita.

 

Damai sejahtera yang Allah janjikan dalam Hagai 2:1-10 adalah damai yang datang dari penyertaan Tuhan, harapan dalam pemulihan-Nya, kemurahan hati-Nya yang tidak terbatas, dan hubungan yang dipulihkan dengan Allah. Janji Tuhan kepada umat Israel untuk memberikan damai sejahtera ini juga berlaku bagi kita hari ini. Karena itu, tidak peduli seberapa sulit keadaan kita, damai sejahtera dari Allah adalah sumber kekuatan dan pengharapan yang sejati. (rsnh)

 

Selamat beribadah dan menikmati lawatan TUHAN

Komentar

Postingan Populer