Renungan hari ini: “MENELADANI IMAN YANG HIDUP DAN SETIA” (Ibrani 13:7)

 Renungan hari ini:

 

“MENELADANI IMAN YANG HIDUP DAN SETIA”


 

Ibrani 13:7 (TB2) "Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan teladanilah iman mereka"

 

Hebrews 13:7 (NET) "Remember your leaders, who spoke God’s message to you; reflect on the outcome of their lives and imitate their faith"

 

Nas hari ini berbicara mengenai “Meneladani Iman yang Hidup dan Setia.” Nas ini mengajak kita untuk melihat iman bukan hanya sebagai kata-kata yang diajarkan, tetapi sebagai kehidupan yang dijalani. Penulis Ibrani mengingatkan jemaat untuk mengingat para pemimpin rohani—orang-orang yang setia memberitakan firman Allah—dan kemudian memperhatikan bagaimana mereka menjalani hidup sampai akhir, lalu meneladani iman mereka.

 

Ayat ini menegaskan bahwa iman Kristen yang sejati selalu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Pemimpin yang dimaksud bukan hanya mereka yang pandai berbicara atau mengajar, tetapi mereka yang hidupnya menjadi kesaksian: setia dalam penderitaan, rendah hati dalam keberhasilan, dan teguh dalam pengharapan sampai akhir hidupnya.

 

Penulis Ibrani mengajak kita untuk mengingat akan pemimpin-pemimpin kita. Meng-ingat di sini bukan sekadar mengenang, tetapi menghargai dan mensyukuri peran pemimpin rohani yang Tuhan pakai untuk menuntun kita kepada kebenaran. Tuhan sering memakai manusia—pendeta, guru, penatua, orang tua rohani—sebagai alat-Nya untuk menanamkan iman di hati kita.

 

Selain pemimpin, kita juga harus mengingat mereka yang telah menyampaikan firman Allah kepadakita. Ukuran utama seorang pemimpin rohani adalah kesetiaannya menyampaikan firman Allah, bukan pendapat pribadi atau kepentingan sendiri. Firman itulah yang menumbuhkan iman, menguatkan pengharapan, dan menuntun hidup.

 

Lalu kita juga perlu memerhatikan akhir hidup mereka. Iman yang sejati terlihat dari ketekunan sampai akhir. Banyak orang memulai dengan baik, tetapi tidak semua mengakhiri dengan setia. Karena itu, Alkitab mengajak kita melihat buah iman dalam perjalanan hidup, bukan hanya awalnya.

 

Terakhir kita harus mampu meneladani iman mereka. Yang diteladani bukan gaya hidup, jabatan, atau kepribadian, melainkan iman mereka—iman yang percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, iman yang taat, dan iman yang berharap kepada Kristus sampai akhir.

 

Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Berikut adalah hal-hal penting yang perlu direnungkan dari nas ini:

 

Pertama, iman datang melalui kesetiaan para pemimpin yang dipakai Tuhan. Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan sering bekerja melalui pemimpin rohani—pendeta, guru, penatua, orang tua rohani—untuk menyampaikan firman-Nya. Iman kita tidak bertumbuh dengan sendirinya, tetapi melalui kesetiaan orang-orang yang rela dipakai Tuhan.

 

Kedua, Firman Allah harus diingat dan dihidupi. “Ingatlah” berarti tidak melupakan, tetapi menyimpan dalam hati dan mempraktikkan. Firman yang disampaikan para pemimpin rohani bukan untuk sekadar didengar, melainkan untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ketiga, iman sejati terlihat dari akhir hidup, bukan hanya awalnya. Ayat ini menekankan: “Perhatikanlah akhir hidup mereka.”Artinya, iman yang sejati adalah iman yang setia sampai akhir, bukan iman yang hanya bersemangat di awal pelayanan atau kehidupan rohani.

 

Keempat, yang diteladani bukan pribadi, melainkan Iman. Alkitab tidak berkata “teladanilah gaya hidup mereka”, tetapi “teladanilah iman mereka.” Pemimpin rohani adalah manusia biasa yang punya keterbatasan, tetapi iman mereka kepada Kristuslah yang layak diteladani.

 

Kelima, kita dipanggil menjadi teladan iman bagi orang lain. Ibrani 13:7 tidak hanya mengajak kita melihat ke belakang, tetapi juga bercermin ke diri sendiri. Suatu hari, hidup kita pun akan “diperhatikan” oleh orang lain—anak, keluarga, jemaat, atau generasi berikutnya.

 

Ibrani 13:7 mengingatkan kita bahwa iman Kristen adalah iman yang diwariskan melalui keteladanan hidup. Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk mengagumi iman orang lain, tetapi untuk meneladaninya dan meneruskannya. Karena itu, mari kita setia mengingat, menghargai, dan meneladani iman para pemimpin rohani, sambil terus bertumbuh menjadi pribadi yang hidupnya juga memuliakan Tuhan sampai akhir. (rsnh)

 

Selamat memulai karya untuk TUHAN dalam Minggu ini

Komentar

Postingan Populer