Renungan hari ini: "BELAS KASIHAN YANG MENGGERAKKAN TINDAKAN" (Matius 15:32)

 Renungan hari ini:

 

"BELAS KASIHAN YANG MENGGERAKKAN TINDAKAN"


 

Matius 15:32 (TB2) Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka bersama Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan"

 

Matthew 15:32 (NET) Then Jesus called the disciples and said, “I have compassion on the crowd, because they have already been here with me three days and they have nothing to eat. I don’t want to send them away hungry since they may faint on the way”

 

Nas hari ini membahas tema "Belas Kasihan yang Menggerakkan Tindakan." Seringkali kita terfokus pada kebutuhan pribadi atau bahkan kekhawatiran tentang diri kita sendiri. Namun, dalam Matius 15:32, kita melihat contoh yang luar biasa dari belas kasihan Yesus, yang tergerak bukan hanya oleh kebutuhan-Nya sendiri, tetapi oleh kebutuhan orang lain. Ini adalah contoh kasih yang begitu besar, yang mengajarkan kita untuk memperhatikan sesama dengan hati yang penuh belas kasihan.

 

“Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan…” Yesus menunjukkan kepada kita bahwa belas kasihan bukan hanya sekadar perasaan kasihan atau simpati terhadap orang lain, tetapi perasaan yang mendalam yang mendorong tindakan konkret. Belas kasihan Yesus terhadap orang banyak ini bukan hanya tentang perasaan kasihan, tetapi juga tentang keinginan untuk bertindak demi kebaikan orang lain. Dia tidak hanya merasa prihatin, tetapi mengambil langkah untuk memenuhi kebutuhan mereka.

 

Dalam kehidupan kita, belas kasihan harus menjadi motivasi utama kita untuk melayani sesama. Belas kasihan menggerakkan kita untuk melihat kebutuhan orang lain, baik itu kebutuhan fisik, emosional, maupun rohani. Ini juga mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap penderitaan orang lain dan tidak hanya sibuk dengan diri kita sendiri. Belas kasihan bukan hanya tentang merasakan apa yang dirasakan orang lain, tetapi tentang mengambil tindakan. Yesus mengajarkan kita bahwa ketika kita merasakan belas kasihan, kita harus bertindak untuk membawa pertolongan, baik melalui doa, bantuan fisik, atau dukungan yang dibutuhkan.

 

Yesus memperhatikan bahwa orang banyak yang telah mengikuti-Nya selama tiga hari tidak memiliki makanan, dan Dia tahu bahwa mereka akan kesulitan jika mereka harus pulang dalam keadaan lapar. Ini mengingatkan kita bahwa belas kasihan Yesus mencakup perhatian terhadap kebutuhan fisik orang lain, bukan hanya kebutuhan rohani. Kadang-kadang, kita terlalu fokus pada kebutuhan rohani dan melupakan bahwa orang juga membutuhkan kebutuhan fisik yang mendasar, seperti makanan, tempat tinggal, dan kesehatan. Yesus mengajarkan kita untuk memperhatikan kesejahteraan fisik dan material orang lain, karena kedua aspek ini sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Tindakan belas kasihan kita harus mencakup kepedulian terhadap kebutuhan fisik dan kesejahteraan mereka. Ini bisa berupa memberikan bantuan materi, menyediakan dukungan praktis, atau hanya mendengarkan dan menyemangati orang yang membutuhkan.

 

Yesus menunjukkan sikap yang sangat peduli dengan kesejahteraan orang banyak. Dia tidak ingin mereka pergi dalam keadaan lapar atau terjatuh dalam perjalanan. Yesus tidak ingin mereka meninggalkan-Nya dalam kekurangan. Ini menunjukkan betapa besar kasih-Nya terhadap orang banyak, dan betapa pentingnya bagi kita untuk memenuhi kebutuhan orang lain, baik yang jasmani maupun rohani.

 

Kasih Yesus yang tak terbatas bukan hanya memperhatikan kebutuhan rohani kita, tetapi juga kebutuhan fisik kita. Sebagai orang Kristen, kita harus menjadi agen kasih Kristus yang memperhatikan baik kebutuhan jasmani maupun rohani orang-orang di sekitar kita. Kita dipanggil untuk memberi pertolongan dan berbagi berkat kepada mereka yang kekurangan. Seperti Yesus, kita diajak untuk peduli tidak hanya pada kesejahteraan spiritual, tetapi juga pada kebutuhan fisik sesama. Ini berarti kita harus memiliki belas kasihan yang mendorong kita untuk bertindak, bukan hanya merasa kasihan, tetapi berusaha membantu mereka yang membutuhkan.

 

Yesus tidak hanya merasa kasihan, tetapi Dia juga bertindak untuk memenuhi kebutuhan orang banyak. Dalam bagian selanjutnya dari cerita ini, Yesus memberitahukan murid-murid-Nya untuk memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan (Matius 15:34-36). Dia tidak hanya mengandalkan cara duniawi untuk menyelesaikan masalah, tetapi mempercayakan penyelesaian masalah ini kepada Allah, yang kemudian mengalirkan berkat berlimpahmelalui mukjizat-Nya.

 

Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Ada beberapa hal yang perlu direnungkan:

 

Pertama, belas kasihan yang menggerakkan hati Yesus. Dalam Matius 15:32, kita melihat belas kasihan Yesus yang mendalam terhadap orang banyak yang sudah lama bersama-Nya, tetapi kehilangan makanan dan kekuatan fisik. Yesus, sebagai Raja dan Tuhan, memiliki hati yang penuh belas kasihan terhadap kebutuhan fisik mereka. Belas kasihan-Nya bukan hanya perasaan, tetapi menggerakkan-Nya untuk bertindak untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk mengembangkan belas kasihan yang mendalam terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Namun, belas kasihan ini bukan hanya sekadar perasaan, tetapi menggerakkan kita untuk bertindak. Ketika kita melihat orang yang menderita, tidak hanya kita merasa kasihan, tetapi kita juga dipanggil untuk membantu mereka dalam cara yang konkret.

 

Kedua, menghargai perjalanan dan usaha orang lain. Orang banyak yang mengikuti Yesus sudah tiga hari bersama-Nya tanpa makanan. Ini menunjukkan kesungguhan dan ketekunan mereka untuk mendengarkan ajaran-Nya dan mengalami persekutuan dengan-Nya. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, dan kenyamanan untuk dekat dengan Kristus. Yesus tidak hanya melihat kebutuhan fisik mereka, tetapi juga menghargai kesediaan mereka untuk bersama-Nya dalam waktu yang lama. Sama seperti Yesus yang mengakui dan menghargai kesetiaan orang banyak yang rela mengikuti-Nya berhari-hari, kita juga dipanggil untuk memiliki kesetiaan dan komitmen dalam mengikuti Tuhan. Tidak hanya dalam waktu yang nyaman atau singkat, tetapi juga dalam perjalanan iman kita yang panjang dan penuh tantangan.

 

Ketiga, kebutuhan fisik yang tidak diabaikan Tuhan. Yesus dengan tegas berkata, "Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak mengabaikan kebutuhan fisik kita. Meskipun yang lebih penting adalah kebutuhan rohani, Tuhan juga peduli dengan kebutuhan jasmani kita. Yesus mengerti bahwa mereka yang sudah bersama-Nya begitu lama pasti akan merasa lelah dan lapar, sehingga Tuhan bertindak untuk memberikan mereka makanan. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita merasa khawatir dengan berbagai kebutuhan fisik kita—seperti pekerjaan, kesehatan, dan keuangan. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa Tuhan peduli dengan semua kebutuhan kita, dan Dia akan memberikan yang terbaik bagi kita. Kita harus percaya dan bergantung pada Tuhan, karena Dia tidak akan membiarkan kita kekurangan.

 

Keempat, tindakan Yesus yang mengajarkan kepedulian dan tanggung jawab. Yesus tidak hanya merasakan belas kasihan terhadap orang banyak, tetapi Dia bertindak untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ini mengajarkan kita bahwa belas kasihan yang sejati harus selalu disertai dengan tindakan nyata untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Yesus tidak hanya mengabaikan keadaan mereka atau memberitahukan mereka untuk pulang, tetapi Dia memastikan bahwa mereka mendapatkan apa yang mereka perlukan. Kita diajak untuk tidak hanya merasa kasihan terhadap orang yang membutuhkan, tetapi juga untuk bertindak dengan cara yang membantu mereka. Ini bisa berarti memberikan dukungan praktis, berbagi berkat, atau bahkan hanya mendengarkan mereka dengan penuh perhatian.

 

Matius 15:32 mengajarkan kita banyak hal tentang belas kasihan Yesus dan bagaimana kita dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya. Belas kasihan yang Yesus miliki tidak hanya sekadar perasaan, tetapi mendorong-Nya untuk bertindak untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dalam kehidupan kita, kita juga dipanggil untuk memiliki belas kasihan yang menggerakkan kita untuk bertindak, memperhatikan kebutuhan fisik dan rohani orang lain, dan menjadi saluran berkat Tuhan. Karena itu, mari kita belajar dari belas kasihan Yesus yang peduli dengan keadaan orang banyak dan bertindak untuk memberi mereka apa yang mereka butuhkan. Semoga kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang-orang di sekitar kita, baik dengan kata-kata maupun tindakan nyata, untuk memuliakan Tuhan. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer