KOTBAH MINGGU SETELAH NATAL Minggu, 28 Desember 2025 “MEMPERKENALKAN PERBUATAN TUHAN” (Mazmur 105:1-6)
Minggu, 28 Desember 2025
“MEMPERKENALKAN PERBUATAN TUHAN”
Kotbah: Mazmur 105:1-6 Bacaan: Roma 16:17-20
Mazmur 105 merupakan mazmur sejarah yang mengajak umat Allah untuk mengingat, merayakan, dan memberitakan karya-karya Tuhan yang besar. Pemazmur tidak hanya mengajak umat menikmati berkat Tuhan secara pribadi, tetapi juga memanggil mereka untuk memperkenalkan perbuatan Tuhan kepada bangsa-bangsa. Tema ini sangat relevan bagi kehidupan orang percaya masa kini: iman yang sejati bukan iman yang diam, melainkan iman yang bersaksi.
Ada beberapa pelajaran penting dari tema Minggu ini:
Pertama, memperkenlkan perbuatan Tuhan melalui ucapan syukur dan kesaksian (ay. 1). “Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” Pemazmur membuka dengan tiga perintah yang saling berkaitan: bersyukur, memanggil nama Tuhan, dan memperkenalkan perbuatan-Nya. Ucapan syukur bukan sekadar kata-kata rohani, tetapi pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Dari hati yang bersyukur lahir keberanian untuk bersaksi.
Memperkenalkan perbuatan Tuhan berarti menceritakan siapa Tuhan dan apa yang telah Ia lakukan—bukan hanya di masa lalu, tetapi juga dalam kehidupan kita hari ini. Kesaksian adalah bentuk ibadah yang keluar dari mulut orang percaya, sehingga dunia dapat mengenal Tuhan melalui cerita hidup umat-Nya.
Kedua, memperkenalkan perbuatan Tuhan melalui Pujian dan Sukacita (ay. 2–3). “Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, perbincangkanlah segala per-buatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, hendaklah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!” Pemazmur menegaskan bahwa perbuatan Tuhan layak dipuji dan diceritakan. Pujian bukan hanya ritual ibadah, tetapi sarana untuk mengingat dan menyampaikan keajaiban Tuhan. Ketika gereja bernyanyi dan memuliakan Tuhan, sesungguhnya gereja sedang memberitakan karya-Nya.Selain itu, orang yang mencari Tuhan akan bersukacita. Sukacita orang percaya menjadi kesaksian yang hidup. Dunia mungkin tidak selalu membaca Alkitab, tetapi dunia melihat kehidupan kita. Sukacita yang lahir dari pengenalan akan Tuhan memperkenalkan Dia kepada orang lain tanpa banyak kata.
Ketiga, memperkenalkan perbuatan Tuhan dengan hidup yang bergantung kepada-Nya (ay. 4). “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya senantiasa!” Pemazmur mengingatkan bahwa memper-kenalkan Tuhan tidak mungkin dilakukan tanpa relasi yang intim dengan-Nya. Mencari Tuhan berarti hidup bergantung kepada kekuatan-Nya, bukan kepada kemampuan sendiri. Kesaksian yang sejati lahir dari kehidupan yang terus mencari wajah Tuhan. Gereja dan orang percaya dipanggil bukan hanya untuk menceritakan Tuhan, tetapi terlebih dahulu hidup dekat dengan Tuhan. Dari hubungan inilah muncul kuasa, hikmat, dan kepekaan untuk menjadi saksi di tengah dunia.
Keempat, memperkenalkan perbuatan Tuhan dengan mengingat Karya-Nya (ay. 5). “Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan keputusan-p keputusan yang diucapkan-Nya.” Iman yang kuat bertumbuh dari ingatan yang benar akan karya Tuhan. Pemazmur mengajak umat untuk mengingat, karena manusia mudah lupa. Ketika kita lupa apa yang Tuhan telah lakukan, kesaksian kita menjadi lemah. Mengingat perbuatan Tuhan menolong kita tetap setia, rendah hati, dan penuh pengharapan. Dari ingatan akan karya Tuhan di masa lalu, kita memperoleh keberanian untuk memperkenalkan Dia di masa kini.
Kelima, memperkenalkan perbuatan Tuhan sebagai umat pilihan-Nya (ay. 6). “Hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!” Pemazmur menegaskan identitas umat Allah. Mereka adalah hamba dan orang-orang pilihan Tuhan. Identitas ini bukan untuk kesombongan, melainkan untuk tanggung jawab. Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk hidup bagi kemuliaan-Nya dan memperkenalkan perbuatan-Nya kepada dunia.
Mazmur 105:1–6 mengajarkan bahwa memperkenalkan perbuatan Tuhan adalah panggilan setiap orang percaya. Hal itu dilakukan melalui ucapan syukur, pujian, sukacita, ketergantungan kepada Tuhan, ingatan akan karya-Nya, dan hidup sesuai identitas sebagai umat pilihan.
Pertanyaan kita sekarang, bagaimanakah cara kita memperkenalkan perbuatan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Berikut beberapa cara memperkenalkan perbuatan Tuhan:
Pertama, perkenalkanlah perbuatan TUHAN melalui ucapan syukur kepada Tuhan (ay. 1). “Bersyukurlah kepada TUHAN…” Memperkenalkan perbuatan Tuhan dimulai dari hati yang bersyukur. Orang yang sadar akan karya Tuhan dalam hidupnya akan secara alami memuliakan Tuhan melalui perkataan dan sikap hidupnya. Ucapan syukur bukan hanya doa pribadi, tetapi juga kesaksian terbuka bahwa Tuhan itu hidup dan bekerja nyata. Ketika kita bersyukur, orang lain melihat bahwa Tuhan layak dipuji.
Kedua, perkenalkanlah perbuatan TUHAN dengan memanggil dan meninggikan Nama Tuhan (ay. 1). “Serkanlah nama-Nya…” Memperkenalkan perbuatan Tuhan berarti tidak malu menyebut nama Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kita mengakui bahwa pertolongan, berkat, dan kemenangan yang kita alami berasal dari Tuhan, bukan semata-mata dari kekuatan manusia. Nama Tuhan dimuliakan ketika kita berani mengakui peran-Nya dalam hidup kita.
Ketiga, perkenalkanlah perbuatan TUHAN melalui kesaksian tentang perbuatan Tuhan (ay. 1). “Perkenalkanlah perbuatan-perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” Ini adalah panggilan untuk bersaksi. Perbuatan Tuhan perlu diceritakan: bagaimana Tuhan menolong, memelihara, mengampuni, menyembuhkan, dan memimpin hidup kita. Kesaksian tidak harus selalu besar dan spektakuler. Kesetiaan Tuhan dalam hal-hal sederhana pun layak dibagikan.Kesaksian membuka jalan agar orang lain mengenal Tuhan.
Keempat, perkenalkanlah perbuatan TUHAN melalui pujian dan nyanyian (ay. 2). “Menyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya…” Pujian adalah sarana penting untuk memperkenalkan perbuatan Tuhan. Lagu dan pujian menyampaikan kebenaran tentang siapa Tuhan dan apa yang telah Dia lakukan. Melalui pujian, iman dikuatkan dan hati orang lain disentuh. Pujian bukan hanya untuk Tuhan, tetapi juga menjadi kesaksian bagi sesama.
Kelima, perkenalkanlah perbuatan TUHAN dengan menceritakan karya Tuhan senantiasa (ay. 2). “Percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!” Mazmur ini menekankan bahwa perbuatan Tuhan perlu diceritakan berulang-ulang, terutama kepada generasi berikutnya: anak-anak, keluarga, dan jemaat.
Iman tidak boleh berhenti pada satu generasi. Menceritakan perbuatan Tuhan menolong iman tetap hidup.
RENUNGAN
Apa yang Menjadi perenungan kita dari tema Minggu setelah Natal ini? Dari bagian firman ini, ada beberapa hal penting yang menjadi bahan perenungan kita:
Pertama, iman tidak boleh diam, tetapi dinyatakan (ay. 1). “Perkenalkanlah perbuatan-perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” Perenungan pertama adalah bahwa iman Kristen bukan iman yang tersembunyi. Tuhan menghendaki agar perbuatan-Nya dikenal, dice-ritakan, dan dibagikan. Jika Tuhan telah bekerja dalam hidup kita—menolong, memelihara, mengampuni—maka itu bukan hanya untuk kita nikmati, tetapi juga untuk menjadi kesaksian bagi orang lain.
Kedua, ucapan syukur adalah bentuk kesaksian (ay. 1). “Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya…”Mengucap syukur bukan hanya tindakan rohani pribadi, tetapi juga kesaksian iman yang nyata. Orang yang bersyukur menunjukkan bahwa hidupnya bergantung kepada Tuhan, bukan pada kekuatannya sendiri. Syukur memperkenalkan Tuhan sebagai sumber hidup dan pertolongan.
Ketiga, pujian dan cerita iman memuliakan Tuhan (ay. 2). “Menyanyilah bagi-Nya… percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!” Tuhan dimuliakan ketika perbuatan-Nya diceritakan dan dipuji. Mazmur ini mengingatkan bahwa iman perlu diungkapkan lewat kata-kata, nyanyian, dan cerita iman. Ketika kita menceritakan karya Tuhan, iman kita sendiri dikuatkan dan iman orang lain dibangkitkan.
Keempat, hidup yang bermegah di dalam Tuhan (ay. 3). “Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus…” Bermegah di dalam Tuhan berarti tidak meninggikan diri, melainkan meninggikan Tuhan. Hidup kita dipanggil untuk mencerminkan bahwa semua yang kita miliki dan capai adalah karena anugerah Tuhan. Dengan demikian, hidup kita sendiri menjadi alat untuk memperkenalkan perbuatan Tuhan.
Kelima, memperkenalkan Tuhan dimulai dari mencari Tuhan (ay. 4). “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya…”Seseorang tidak dapat memperkenalkan perbuatan Tuhan jika ia sendiri tidak hidup dekat dengan Tuhan. Perenungan penting di sini adalah bahwa kesaksian yang sejati lahir dari relasi yang hidup dengan Tuhan. Semakin kita mencari Tuhan, semakin nyata perbuatan-Nya dalam hidup kita.
Tema ini mengajak kita untuk hidup sebagai saksi Allah yang hidup, bukan hanya sebagai penikmat berkat-Nya.
Mazmur 105:1–6 menegaskan bahwa iman perlu dinyatakan, perbuatan Tuhan perlu diceritakan, dan hidup kita sendiri harus memuliakan Tuhan. Karena itu, kita tidak hanya mengenal perbuatan Tuhan, tetapi juga setia memperkenalkannya, sehingga nama Tuhan dimuliakan dan banyak orang dikuatkan imannya. (rsnh)
Selamat menikmati lawatan TUHAN!



Komentar
Posting Komentar