KOTBAH MINGGU ADVENT III Minggu, 14 Desember 2025 “BERHARAP KEPADA ALLAH YANG MENYELAMATKAN” (Mikha 7:7-13)

 KOTBAH MINGGU ADVENT III

Minggu, 14 Desember 2025

 

“BERHARAP KEPADA ALLAH YANG MENYELAMATKAN” 

Kotbah: Mikha 7:7-13  Bacaan: Markus 1:1-8 


 

Pada Minggu Advent III ini, kita berkumpul dengan hati yang penuh pengharapan, menantikan kedatangan Yesus yang membawa keselamatan dan damai sejahtera. Dalam perayaan Advent, kita tidak hanya menantikan perayaan peringatan kelahiran Yesus di Betlehem, tetapi kita juga diajak untuk mengingat dan merayakan pengharapan kita akan kedatangan Kristus yang kali kedua. Tema kita hari ini adalah "Berharap kepada Allah yang Menyelamatkan", yang tertulis dalam Kitab Mikha 7:7-13.

 

Mikha 7:7-13 adalah bagian yang mengungkapkan pengharapan umat Tuhan di tengah kegelapan dan keputusasaan. Umat Israel pada waktu itu sedang berada dalam situasi yang sulit, dikelilingi oleh kejahatan, ketidakadilan, dan penindasan. Namun, meskipun mereka merasa terhimpit, Mikha menyatakan harapan yang teguh kepada Allah yang menyelamatkan. Sebagai umat Tuhan, kita diajak untuk berharap kepada Allah yang menyela-matkan, yang tidak hanya membawa keselamatan pada masa lalu, tetapi yang akan menggenapi janji keselama-tan-Nya melalui kedatangan Kristus yang kedua kali.

 

Ada beberapa poin penting yang kita pelajari dari tema Advent III ini:

 

Pertama, menghadapi keputusasaan dengan pengha-rapan (ay. 7). "Tetapi aku, aku akan melihat kepada TUHAN, akan menanti Allah keselamatanku; Allahku akan mendengarkan aku." Mikha memulai bagian ini dengan pernyataan keyakinan dan pengharapan yang kuat kepada Tuhan meskipun keadaan di sekelilingnya sangat gelap. Umat Israel berada dalam keputusasaan, banyak ketidakadilan dan penindasan yang terjadi, dan seolah-olah tidak ada jalan keluar. Namun, Mikha memilih untuk berharap kepada Tuhan, dengan percaya bahwa Allah adalah sumber keselamatan yang tidak akan pernah gagal.

 

Kita harus punya harapan di tengah kegelapan. Terkadang kita juga merasa seperti umat Israel yang digambarkan dalam Mikha—dikelilingi oleh masalah, ketidakadilan, atau kegelapan dunia. Namun, pengha-rapan kita tidak harus tergantung pada keadaan. Mikha mengajarkan kita untuk menunggu dengan penuh harapan kepada Allah yang menyelamatkan, yang adalah sumber kekuatan dan pemulihan kita. Mikha mengingatkan kita bahwa ketika kita berdoa dan berharap kepada Tuhan, Allah mendengar kita. Meskipun dunia tampak tidak peduli atau penuh dengan kejahatan, Allah selalu mendengarkan dan menjawab doa umat-Nya.

 

Kedua, pengharapan yang berpusat pada Kasih Allah yang Tak Terbatas (ay. 8-9). "Janganlah aku bersukacita karena musuhku, sebab aku jatuh, aku akan bangkit; apabila aku duduk dalam kegelapan, TUHAN akan menjadi terang bagiku." Mikha berbicara tentang pengharapan yang tidak tergoyahkan meskipun dalam kegelapan. Kegelapan di sini menggambarkan kesulitanpenderitaan, dan kejahatan yang melingkupi kehidupan. Namun, Mikha menegaskan bahwa Tuhan adalah terang yang akan membawa pemulihan. Pengharapan umat Tuhan adalah bahwa meskipun jatuh, mereka akan bangkit karena kasih Tuhan yang tak terbatas.

 

Mikha mengajarkan kita bahwa meskipun kita mengalami kegagalan atau kejatuhan, kita tidak boleh kehilangan harapan. Tuhan memberi kita kekuatan untuk bangkit dan memperbaiki keadaan kita. Setiap kali kita jatuh, kita dapat mengandalkan kasih Tuhan yang tidak akan meninggalkan kita, untuk membantu kita bangkit kembali. Ketika kita mengalami kegelapan dalam hidup—baik itu dalam bentuk kesulitan pribadi, kecemasan, atau ketidakadilan sosial—kita diajak untuk menantikan Tuhan sebagai terang yang akan memimpin kita keluar dari kegelapan itu.

 

Ketiga, menghadapi dunia yang rusak dengan keyakinan pada Janji Tuhan (ay. 10-13). "Musuhku akan melihatnya, dan malu karena dia berkata: ‘Dimanakah TUHAN, Allahmu?’" Bagian ini menggam-barkan bahwa meskipun dunia ini penuh dengan ketidakadilan dan kejahatan, Tuhan akan membela umat-Nya. Musuh-musuh yang menertawakan atau meren-dahkan umat Tuhan akan menjadi malu ketika Tuhan menepati janji-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya. Pengharapan ini berfokus pada janji Allah yang pasti—Tuhan tidak akan meninggalkan umat-Nya, meskipun dunia ini sering kali tampak penuh dengan kekuatan yang jahat.

 

Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk hidup dengan keyakinan bahwa janji keselamatan Tuhan akan digenapi. Meskipun dunia ini sering tidak adil, kita tahu bahwa Tuhan akan menghakimi dengan adil dan menggenapi janji-Nya. Dunia yang rusak dan penuh dengan penderitaan tidak boleh menghalangi pengharapan kita. Kita diingatkan bahwa Tuhan selalu hadir dan akan membawa keselamatan bagi umat-Nya. Kita dipanggil untuk mencari pengharapan dalam janji-janji Tuhan, bukan pada apa yang dunia tawarkan.

 

Keempat, berharap pada Tuhan yang akan datang. Pengharapan kita sebagai umat Kristen bukan hanya untuk keselamatan yang ada sekarang, tetapi juga untuk kedatangan Tuhan yang kedua kali yang akan membawa keselamatan penuh bagi umat-Nya. Kita hidup dengan harapan yang teguh bahwa Tuhan akan datang untuk menggenapi kerajaan-Nya, di mana tidak ada lagi penderitaan, kejahatan, atau kesulitan.

 

Kita harus hidup dengan pengharapan bahwa Kristus akan datang kembali untuk menggenapi Kerajaan Allah yang sempurna. Pengharapan ini memberi kita kekuatan untuk bertahan dan melayani Tuhan meskipun kita menghadapi kesulitan. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai, menyebarkan harapan bahwa Kerajaan Allah yang penuh kedamaian akan datang. Kita tidak hanya menunggu, tetapi juga berperan aktif dalam mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah di dunia ini.

 

Pertanyaan kita sekarang, bagaimana cara kita “Berharap kepada ALLAH yang menyelamatkan” berdasarkan kitab Mikha 7:7-13? Ada beberapa cara untuk berharap kepada Allah:

 

Pertama, kita menunggu dengan keyakinan (ay. 7). Mikha menunjukkan contoh pengharapan yang tegas dengan berkata, “Tetapi aku, aku akan melihat kepada TUHAN, akan menanti Allah keselamatanku; Allahku akan mendengarkan aku.” Pemazmur ini mengajarkan kita bahwa harapan sejati dimulai dengan pengakuan penuh bahwa keselamatan hanya berasal dari Tuhan. Di tengah segala penderitaan dan ketidakadilan, Mikha memilih untuk menantikan Tuhan dengan penuh harapan, karena Tuhan adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan dan memberikan keadilan.

 

Ketika segala sesuatu terasa gelap dan penuh dengan kesulitan, kita sering kali merasa terhimpit. Namun, seperti Mikha, kita dipanggil untuk berharap pada Tuhan yang setia. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri atau solusi duniawi, tetapi kita diundang untuk menantikan Tuhan dengan sabar dan iman, yakin bahwa Dia mendengarkan kita. Salah satu bentuk pengharapan kita adalah meyakini bahwa Allah mendengarkan setiap doa dan jeritan hati kita. Tidak ada doa yang sia-sia. Walaupun terkadang jawaban Tuhan tidak langsung datang sesuai dengan harapan kita, kita harus percaya bahwa Tuhan akan menjawab pada waktu-Nya yang sempurna.

 

Kedua, tidak bersukacita karena kejatuhan kita (ay. 8). Mikha mengingatkan musuh-musuhnya dengan mengatakan, "Janganlah bersukacita karena aku, hai musuhku; sebab aku jatuh, aku akan bangkit." Meskipun pemazmur merasakan kejatuhan, dia tetap memiliki harapan untuk bangkit. Mikha menunjukkan bahwa kejatuhan bukanlah akhir dari segalanya, karena Tuhan adalah sumber pemulihan dan kebangkitan. Kejatuhan mungkin sementara, namun dengan Tuhan, kita akan bangkit kembali.

 

Ketika kita menghadapi kegagalan atau kejatuhan, sering kali kita merasa putus asa. Namun, Mikha mengajarkan kita untuk tidak berlarut dalam keputusasaan. Kejatuhan bukan akhir, dan kita dapat bangkit kembali dalam kekuatan Tuhan. Tuhan yang menyelamatkan kita, tidak membiarkan kita tinggal dalam kehancuran. Menghadapi kegagalan dengan harapan akan kebangkitan berarti kita tidak menyerah pada keadaan, tetapi percaya bahwa Tuhan akan membawa pemulihan dan memberi kita kesempatan untuk memulai kembali.

 

Ketiga, mengakui dosa dan menunggu pembelaan Tuhan (ay. 9). Mikha mengakui bahwa dia telah berdosa dan menyatakan, "Aku akan menanggung murka TUHAN, sebab aku telah berdosa terhadap Dia, sampai Dia membela perkaraku dan mengadili aku." Mikha menyadari bahwa walaupun dia berada dalam penderitaan, dia harus bertanggung jawab atas dosa-dosanya. Namun, dia menunggu Tuhan untuk membela dan mengadili dirinya. Ini menunjukkan bahwa pengharapan kita kepada Allah yang menyelamatkan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga rohani, yaitu pengampunan dan pembenaran dari Tuhan.

 

Ketika kita berhadapan dengan masalah atau penderitaan, kita sering kali perlu menyadari apakah dosa kita menjadi hambatan bagi berkat Tuhan. Mengakui dosa dan bertobat dengan tulus adalah langkah pertama dalam memperbarui hubungan kita dengan Tuhan dan menerima pemulihan rohani. Kita harus percaya bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil yang akan membela kita, meskipun kita merasa tidak layak. Dalam Kristus, kita telah dibebaskan dari hukuman dosa dan diberikan kesempatan untuk hidup baru dalam pengampunan-Nya.

 

Keempat, mengharapkan Tuhan yang akan membela dan memberi Keadilan (ay. 10-13). Mikha berbicara tentang keadilan Tuhan yang akan datang. Dalam ayat-ayat berikutnya, dia menggambarkan bahwa musuh-musuhnya akan melihat keadilan Tuhan dan mendapatkan malu. Mikha percaya bahwa Allah yang menyelamatkan akan memberikan keadilan dan pembalasan bagi mereka yang menindas umat-Nya. Di tengah ketidakadilan yang ada di dunia ini, kita harus mengharapkan keadilan Tuhan yang sempurna. Meskipun kita mungkin melihat ketidakadilan di sekitar kita, kita tahu bahwa Tuhan yang adil akan menghakimi segala sesuatu pada waktunya. : Kita dipanggil untuk percaya bahwa Tuhan akan membela kita dan memberikan keadilan bagi mereka yang tertindas. Mengharapkan keadilan Tuhan berarti berharap pada rencana-Nya yang sempurna, yang akan menggenapi semuanya sesuai dengan kehendak-Nya.

 

RENUNGAN

 

Apa yang perlu direnungkan dari tema “Berharap Kepada Allah Yang Menyelamatkan” berdasarkan kitab Mikha 7:7-13 pada masa Advent III? Mari kita merenungkan apa yang perlu kita pelajari dari Mikha 7:7-13 pada masa Advent III ini.

 

Pertama, menunggu dengan pengharapan kepada Tuhan yang menyelamatkan (ay. 7). Mikha menga-jarkan kita untuk menunggu dengan sabar dan percaya bahwa Tuhan mendengarkan kita dalam setiap situasi hidup. Advent adalah waktu untuk memperbaharui harapan kita bahwa Tuhan akan datang membawa keselamatan dan pemulihan. Seperti Mikha, kita dipanggil untuk menantikan Tuhan dengan iman. Meskipun dunia ini penuh dengan kegelapan dan penderitaan, kita percaya bahwa Tuhan akan datang membawa terang dalam hidup kita.

 

Kedua, kesadaran akan dosa dan pengharapan akan pemulihan (ay. 9). Mikha mengakui bahwa umat Israel berada dalam penderitaan karena dosa dan ketidaktaatan mereka kepada Tuhan. Namun, dia juga memiliki pengharapan yang teguh bahwa Tuhan akan membela umat-Nya, mengadili dengan adil, dan memberikan pemulihan. Pengharapan kita dalam Kristus yang datang juga berhubungan dengan pengampunan dosa dan pembenaran yang kita terima dari Tuhan.Sebagai umat Tuhan, kita harus mengakui dosa kitadan berharap pada pengampunan Tuhan. Mikha mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah sumber keselamatanyang datang untuk menyucikan dan mengampuni dosa kita melalui Kristus. Selama masa Advent, kita diundang untuk bertobat dan menantikan keselamatan yang datang melalui Kristus. Meskipun kita seringkali dihadapkan pada ketidakadilan, kita harus percaya bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil yang akan membawa keadilan kepada umat-Nya. Tuhan akan membela kita dan memberikan keadilan-Nya.

 

Ketiga, pengharapan akan pemulihan dan Kemenangan (ay. 8, 10). Mikha menunjukkan bahwa meskipun umat Tuhan sedang menderita, Tuhan akan membawa pemulihan dan memenangkan umat-Nya. Musuh-musuh umat Tuhan yang merendahkan akan melihat keadilan Tuhan dan mereka akan malu. Ini mengingatkan kita bahwa meskipun dunia ini sering kali penuh dengan ketidakadilan, Tuhan akan datang untuk memberikan keadilan dan memenangkan umat-Nya.Kita seringkali merasa dikecewakan oleh ketidakadilan dunia, tetapi kita dipanggil untuk percaya bahwa Tuhan akan menggenapi janji-Nya untuk membawa pemulihan dan keadilanbagi umat-Nya. Pengharapan kita adalah pada Tuhan yang menyelamatkan dan yang akan mengubah segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagai umat Kristiani, kita tidak hanya menantikan kelahiran Yesus di Betlehem, tetapi juga kedatangan-Nya yang kedua kali untuk mendapatkan kemenangan penuh atas segala kejahatan dan ketidakadilan.

 

Keempat, mengandalkan Janji Tuhan yang tergenapi dalam Kristus. Mikha 7:13 menunjukkan bahwa, meskipun umat Tuhan menghadapi penderitaan, mereka memiliki harapan yang pastidalam Tuhan. Penderitaan mereka tidak akan berakhir begitu saja, karena Tuhan akan menggenapi janji-Nya. Selama masa Advent, kita juga mengingat bahwa janji keselamatan yang diberikan melalui Yesus telah tergenapi pada kelahiran-Nya, dan kita menantikan penggenapan penuh pada kedatangan-Nya yang kedua kali. Meskipun kita tidak selalu mengerti waktu dan cara Tuhan bekerja, kita dipanggil untuk percaya bahwa Tuhan selalu menepati janji-Nya. Pengharapan kita tidak sia-sia, karena Tuhan yang menyelamatkan akan membawa keselamatan yang penuh bagi umat-Nya.

 

Mikha 7:7-13 mengajarkan kita untuk berharap kepada Allah yang menyelamatkan meskipun kita menghadapi kesulitan dan ketidakadilan. Kita diajak untuk menantikan dengan sabar dan percaya penuh bahwa Tuhan akan menggenapi janji-Nya, membawa pemulihan, keadilan, dan kemenangan melalui Kristus. Karena itu, selama masa Advent ini, mari kita memperbaharui pengharapan kita akan keselamatan yang datang melalui Kristus, hidup dalam pengharapan yang teguh, dan menjadi saksi kasih-Nya di dunia ini. (rsnh)

 

Selamat Merayakan Advent III!

Komentar

Postingan Populer