KOTBAH MINGGU ADVENT II Minggu, 07 Desember 2025 “BERTOBATLAH, KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” (Matius 3:1-12)

 KOTBAH MINGGU ADVENT II

Minggu, 07 Desember 2025

 

BERTOBATLAH, KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” 

Kotbah: Matius 3:1-12   Bacaan: Mazmur 72:1-19 


 

Pada Minggu Advent II ini, kita diajak untuk merenungkan tentang panggilan pertobatan yang datang melalui suara yang berseru di padang gurun. Panggilan ini datang dari Yohanes Pembaptis, yang dengan tegas mengingatkan kita bahwa "Kerajaan Allah sudah dekat." Advent adalah masa penantian dan persiapan menyambut kedatangan Yesus Kristus, baik dalam perayaan Natal maupun dalam kedatangan-Nya yang kedua. Oleh karena itu, tema kita hari ini sangat relevan: "Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat."

 

Kata “bertobat” dalam bahasa Yunani, "metanoia", yang berarti perubahan pikiran atau perubahan hati yang mendalam. Bertobat bukan hanya sekadar perasaan penyesalan atau permintaan maaf atas kesalahan yang kita lakukan, tetapi berbalik dari cara hidup yang salah dan berubah untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Yohanes Pembaptis menyerukan kepada orang-orang untuk: mengakui dosa dan kesalahan mereka di hadapan Tuhan, berhenti dari hidup yang tidak sesuai dengan perintah Allah dan memperbaiki jalan hidup mereka, dan menghasilkan buah pertobatan yang nyata, yaitu perubahan dalam cara berpikir dan bertindak, yang mencerminkan hidup yang lebih kudus dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Seruan Yohanes untuk bertobat adalah panggilan untuk perubahan hidup yang lebih dari sekadar pengakuan verbal, tetapi perubahan total dalam cara hidup yang sesuai dengan ajaran Tuhan.

 

Bertobat adalah langkah pertama untuk memasuki Kerajaan Allah. Yohanes mengajak orang-orang untuk memeriksa hati mereka, mengubah cara hidup mereka, dan bersiap untuk menerima Yesus sebagai Raja mereka. Pertobatan adalah pengunduran diri dari kerajaan dunia yang sementara, untuk menerima Kerajaan Allah yang kekal. Ini adalah undangan untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah yang membawa damai, keadilan, dan pengampunan.

 

Ada beberapa hal yang perlu kita pelajari dari tema kotbah Minggu Advent II ini:

 

Pertama, panggilan untuk bertobat (ay. 1-2). Minggu Advent adalah masa persiapan, bukan hanya untuk merayakan kelahiran Yesus, tetapi juga untuk mempersiapkan hati kita dalam menyambut Kerajaan Allah yang sudah dekat. Yohanes Pembaptis datang dengan seruan yang kuat dan jelas, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!" (ay. 2). Ini adalah panggilan pertama yang harus kita dengar. Yohanes datang ke padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus. Ini bukan hanya tentang menunggu kelahiran bayi Yesus di Betlehem, tetapi tentang memperbaiki hidup kita, membersihkan hati kita, dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Bertobat berarti berbalik dari cara hidup yang salah dan mengikuti jalan Tuhan. Ini adalah perubahan hati dan pikiran yang mengarah pada tindakan yang konkret untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

 

Kedua, Kerajaan Allah sudah dekat (ay. 3). Matius 3:3 mengutip nubuat Yesaya tentang suara yang berseru di padang gurun, "Persiapkanlah jalan bagi Tuhan, buatlah lurus jalan-Nya." Ketika Yohanes berseru, dia tidak hanya mengingatkan orang-orang tentang kedatangan Yesus sebagai bayi di Betlehem, tetapi juga tentang kedatangan-Nya sebagai Raja dan Hakim yang akan datang untuk memerintah dunia ini. Kerajaan Allah sudah dekat! Dalam konteks kita hari ini, ini mengingatkan kita bahwa kedatangan Yesus yang kedua kali itu juga semakin dekat. Oleh karena itu, masa Advent ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk memperbaiki hidup kita, memperbarui komitmen kita untuk hidup dalam kebenaran, dan menantikan dengan penuh pengharapan kedatangan Tuhan. Kita hidup di dunia yang sering kali terjebak dalam godaan dan kesibukan duniawi. Namun, kita diajak untuk mengingat bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan kita harus menyesuaikan hidup kita dengan nilai-nilai Kerajaan-Nya.

 

Ketiga, buah pertobatan (ay. 8-10). Yohanes Pembaptis tidak hanya meminta orang untuk mengakui dosa mereka, tetapi juga untuk menghasilkan buah pertobatan yang nyata. Dia berkata, "Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan" (ay. 8). Yohanes menegaskan bahwa pertobatan bukan hanya tentang pengakuan dosa, tetapi juga tentang perubahan hidup yang terlihat dalam tindakan sehari-hari kita. Buah pertobatan adalah bukti nyata dari perubahan hati dan pikiran. Yohanes memperingatkan orang-orang yang datang kepadanya untuk dibaptis, terutama orang Farisi dan Saduki yang datang hanya untuk mengikuti tradisi, bahwa pertobatan sejati harus mengubah hidup. Jangan hanya berkata bahwa kita adalah anak-anak Abraham dan berharap bahwa itu cukup untuk membuat kita diterima oleh Allah.

 

Keempat, menghadapi murka Allah (ay. 7-10). Dalam bagian ini, Yohanes juga menegur keras orang-orang yang datang kepadanya dengan sikap yang salah. Ketika dia melihat orang Farisi dan Saduki, dia berkata, "Hai kamu keturunan ular berbisa (beludak), siapakah yang memberitahukan kepadamu untuk lari dari murka yang akan datang?" (ay. 7). Yohanes sangat jelas bahwa pertobatan sejatiadalah sesuatu yang lebih dari sekadar ritual luar; itu adalah perubahan hati yang sejati yang menghasilkan buah yang baik. Peringatan ini relevan bagi kita semua, karena sering kali kita merasa aman dalam identitas kita sebagai orang Kristen, tanpa benar-benar merenungkan dan bertobat dari dosa-dosa kita. Yohanes mengingatkan kita bahwa kerajaan Allah tidak akan diterima hanya oleh mereka yang mengandalkan status atau tradisi agama, tetapi oleh mereka yang benar-benar membuka hati dan hidup mereka untuk Tuhan.

 

Kelima, panggilan untuk hidup dalam harapan (ay. 11-12). Akhirnya, Yohanes menegaskan bahwa meskipun ia membaptis dengan air, akan ada seseorang yang lebih besar dari dia yang akan datang, yaitu Yesus, yang akan membaptis dengan Roh Kudus dan api. "Ia akan membersihkan tempat pengirikannya dan mengumpulkan gandumnya ke dalam lumbung, tetapi lahan yang tidak menghasilkan buah akan dibakar dengan api yang tidak terpadamkan" (ay. 12). Ini adalah pengingat bagi kita untuk hidup dalam pengharapan, menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali. Kehidupan kita harus siap untuk disucikan oleh Roh Kudus dan dibersihkan oleh api-Nya. Kita harus terus bertumbuh dalam iman dan hidup yang menghasilkan buah yang baik, karena kelak kita akan menghadapi penghakiman Allah yang adil.

 

Pertanyaan kita sekarang, apa yang menjadi respons kita menjawab seruan Yohanes Pembaptis, “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat” yang tercatat dalam Matius 3:1-12? Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita ambil untuk merespons seruan Yohanes secara praktis:

 

Pertama, mari mengakui dan menyesali dosa-dosa kita. Yohanes pertama-tama menyerukan pertobatan kepada orang-orang yang datang kepadanya untuk dibaptis. Pertobatan dimulai dengan pengakuan dosa—mengakui di hadapan Tuhan bahwa kita telah menyimpang dari jalan-Nya. Dalam Matius 3:6, disebutkan bahwa orang-orang datang dan mengaku dosa mereka sebelum dibaptis oleh Yohanes. Ini menunjukkan bahwa pertobatan sejati dimulai dengan pengakuan hati yang jujur tentang kesalahan kita dan kesediaan untuk berubah.

 

Kedua, kita harus menghasilkan buah pertobatan yang nyata. Dalam Matius 3:8, Yohanes menekankan pentingnya "buah yang sesuai dengan pertobatan." Artinya, pertobatan yang sejati akan menghasilkan perubahan hidup yang nyata, tidak hanya pengakuan lisan. Yohanes memperingatkan orang-orang untuk tidak hanya mengandalkan status agama mereka atau keturunan mereka sebagai anak-anak Abraham. Pertobatan yang sejati akan terwujud dalam tindakan dan kehidupan sehari-hari yang berkenan kepada Tuhan.

 

Ketiga, mari mempersiapkan hati untuk menerima Kerajaan Allah. Yohanes mengingatkan kita bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (ay. 2). Ini adalah seruan untuk mempersiapkan hati kita untuk menyambut kedatangan Kristus, baik dalam kelahiran-Nya yang pertama (yang kita rayakan dalam perayaan Natal), maupun dalam kedatangan-Nya yang kedua kali untuk menghakimi dunia dan mendirikan Kerajaan Allah yang kekal. Dalam konteks ini, persiapan yang dimaksud bukan hanya untuk merayakan Natal, tetapi juga untuk hidup dengan pengharapan akan kedatangan-Nya yang kedua kali.

 

Keempat, menghindari kemunafikan dan keter-gantungan pada tradisi. Yohanes menegur orang-orang Farisi dan Saduki, yang datang untuk dibaptis tanpa hati yang tulus. Mereka merasa aman hanya karena keturunan mereka sebagai anak-anak Abraham dan tradisi keagamaan mereka, tetapi Yohanes memperingatkan bahwa kerajaan Allah tidak akan diterima oleh mereka yang hanya mengandalkan status agama. Pertobatan sejati adalah perubahan hati yang disertai dengan tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

 

Kelima, bersiap untuk pencurahan Roh Kudus. Dalam Matius 3:11, Yohanes berbicara tentang "baptisan dengan Roh Kudus dan api" yang akan dilakukan oleh Yesus. Ini mengacu pada pencurahan Roh Kudus yang akan membimbing umat Tuhan untuk hidup benar dan menggenapi kehendak-Nya. Pencurahan Roh Kudus dalam hidup kita adalah tanda bahwa kita dipilih untuk menjadi bagian dari Kerajaan Allah yang kekal. Yohanes ingin orang-orang memahami bahwa pertobatan sejati dan penerimaan Kristus membawa perubahan yang dipimpin oleh Roh Kudus.

 

Seruan Yohanes untuk bertobat dan mempersiapkan diri untuk Kerajaan Allah adalah panggilan yang sangat relevan bagi kita hari ini. Kita diajak untuk mengakui dosa kita, menghasilkan buah pertobatan yang nyata, menghidupi pengharapan akan kedatangan Kristus yang kedua kali, dan menghindari kemunafikan. Sebagai orang percaya, kita tidak hanya diundang untuk bertobat di awal kehidupan iman kita, tetapi juga dipanggil untuk hidup dalam pertobatan setiap hari, dengan penuh pengharapan akan Kerajaan Allah yang sudah dekat.

 

RENUNGAN DAN RELEVANSI

 

Apa yang Menjadi relevansi dan refleksi tema “Bertobatlah, Kerajaan Allah Sudah Dekat” berdasarkan kitab Matius 3:1-12 bagi kehidupan kita saat ini? 

 

Pertama, bertobatlah demi masa depan kita.  Pernyataan "Bertobatlah demi masa depan kita" memiliki makna yang sangat dalam, baik dalam konteks spiritual maupun praktis. Secara keseluruhan, pertobatan bukan hanya tentang perubahan hidup yang terjadi pada saat ini, tetapi juga tentang dampak jangka panjang yang akan dirasakan, baik dalam kehidupan kita di dunia ini maupun dalam kehidupan kekal yang akan datang. Mari kita telaah lebih lanjut mengapa pertobatan sangat penting untuk masa depan kita. Pertobatan membawa pemulihan hubungan dengan Tuhan. Pertobatan adalah langkah pertama untuk memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan yang telah rusak karena dosa. Dosa memisahkan kita dari Allah dan membawa konsekuensi fatal, baik dalam hidup ini maupun dalam hidup yang akan datang. Ketika kita bertobat, kita mengakui dosa-dosa kita dan memohon pengampunan Tuhan, yang membawa pemulihan hubungan kita dengan-Nya. Dengan bertobat, kita dipulihkan dalam hubungan yang intim dengan Tuhan, dan ini menjadi fondasi yang kuat untuk masa depan rohani kita. Tidak ada yang lebih berharga daripada memiliki hubungan yang dekat dengan Pencipta kita, yang memberi kita arah, kedamaian, dan pengharapan sejati. Ini adalah masa depan yang kita dambakan—hidup yang diberkati dan dipimpin oleh Tuhan.

 

Kedua, hiduplah dalam harapan dan persiapan menanti Kerajaan Allah. Kehidupan kita harus dipenuhi dengan harapan dan persiapan rohani untuk Kerajaan Allah yang kekal. Di tengah segala kesulitan dan kegelisahan dunia ini, kita diingatkan bahwa Kerajaan Allah adalah tempat yang akan membawa kedamaian dan pengharapan sejati. Kita harus hidup dalam kesadaran bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, dan kita harus siap menyambut-Nya dengan hati yang bersih dan hidup yang penuh kasih.

 

Pernyataan "Hiduplah dalam harapan dan persiapan menanti Kerajaan Allah" mengandung makna penting bagi kehidupan orang percaya, terutama dalam konteks tema Advent dan ajaran Alkitab. Itu adalah panggilan untuk hidup dengan kesadaran akan kedatangan Kerajaan Allah yang sudah dimulai melalui kedatangan Yesus yang pertama kali dan yang akan disempurnakan dengan kedatangan-Nya yang kedua kali. Hidup dalam persiapan berarti menyiapkan diri kita secara rohani untuk menyambut Kerajaan Allah. Ini berkaitan dengan cara kita hidup sehari-hari dan bagaimana kita menyambut kedatangan Yesus yang kedua kali. Yohanes Pembaptis dalam Matius 3:2 berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Panggilan ini adalah panggilan untuk mempersiapkan hati kita menyambut kedatangan Kerajaan Allah.

 

Ketiga, mari menghasilkan buah yang layak. Yohanes menegur keras orang-orang yang datang kepadanya untuk dibaptis tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda pertobatan yang sejati. Dia berkata kepada mereka, “Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (ay. 8). Ini menunjukkan bahwa pertobatan sejati tidak hanya tentang mengaku dosa tetapi juga tentang mengubah cara hidup. Yohanes mengingatkan mereka, terutama orang Farisi dan Saduki, bahwa mereka tidak bisa hanya mengandalkan keturunan atau tradisi mereka sebagai alasan untuk dianggap benar di hadapan Allah. Pertobatan yang sejati akan menghasilkan buah yang nyata, yaitu hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

 

Panggilan Yohanes ini sangat relevan bagi kita. Sebagai orang Kristen, kita tidak hanya diminta untuk mengaku dosa dan datang ke gereja, tetapi juga untuk menghasilkan buah pertobatan. Ini artinya hidup kita harus berubah dan tercermin dalam tindakan yang mencerminkan kasih, keadilan, dan kebenaran Allah. Buah pertobatan dapat terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain, dalam cara kita hidup dengan integritas, dalam cara kita berbagi berkat kepada yang membutuhkan, dan dalam cara kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Pertobatan sejati harus mempengaruhi cara kita hidup sehari-hari.

 

Tema “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat” mengajak kita untuk merenung, bertobat, dan mempersiapkan diri menyambut Kerajaan Allah yang akan datang. Pertobatan sejati harus menghasilkan perubahan hati dan hidup yang nyata, dan kita harus hidup dengan pengharapan akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Ini adalah panggilan untuk memperbaiki hidup kita dan menghasilkan buah yang layak sebagai tanda bahwa kita siap menyambut Kerajaan Allah yang dekat. Karena itu, mari kita buka hati kita untuk pertobatan sejati dan hidup dalam pengharapan yang penuh akan kedatangan Kristus. Tuhan memberkati kita semua. (rsnh)

 

Selamat Merayakan Advent II!

Komentar

Postingan Populer