Renungan hari ini: “MENGAKUI DOSA DAN MEMOHON PERTOLONGAN TUHAN” (Hakim-hakim 10:15 - TB2)
“MENGAKUI DOSA DAN MEMOHON PERTOLONGAN TUHAN”
Hakim-hakim 10:15 (TB2) Tetapi, kata orang Israel kepada TUHAN, "Kami telah berbuat dosa. Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu. Hanya tolonglah kiranya kami sekarang ini!"
Judges 10:15 (NET) But the Israelites said to the Lord, “We have sinned. You do to us as you see fit, but deliver us today!”
Nas hari ini mengajak kita untuk “MENGAKUI DOSA DAN MEMOHON PERTOLONGAN TUHAN.” Kitab Hakim-hakim memperlihatkan perjalanan bangsa Israel yang berulang kali mengalami pola yang sama: mereka meninggalkan Tuhan, hidup mengikuti ilah-ilah lain, mengalami penderitaan, lalu berseru memohon pertolongan kepada Tuhan. Ketika keadaan menjadi baik, mereka sering melupakan Tuhan. Namun, ketika menghadapi kesesakan, mereka kembali mencari-Nya.
Dalam Hakim-hakim 10, bangsa Israel kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada berbagai ilah bangsa-bangsa di sekitarnya. Akibatnya, mereka mengalami penindasan dan penderitaan. Ketika mereka berseru kepada Tuhan, Tuhan terlebih dahulu mengingatkan mereka akan ketidaksetiaan mereka dan menyuruh mereka berseru kepada ilah-ilah yang telah mereka pilih.
Pada saat itulah bangsa Israel mengakui dosa mereka dan memohon pertolongan Tuhan. Pengakuan mereka dalam ayat 15 mengandung tiga hal penting: kesediaan mengakui kesalahan, kerendahan hati menerima kehendak Tuhan, dan kesungguhan memohon pertolongan-Nya. Firman ini mengajak kita memeriksa kehidupan iman kita. Apakah kita mencari Tuhan hanya ketika mengalami kesulitan, ataukah kita tetap setia kepada-Nya dalam keadaan baik maupun buruk?
Ada beberapa hal yang menjadi perenungan kita dari nas hari ini:
Pertama, berani mengakui dosa di hadapan Tuhan. “Kami telah berbuat dosa.” Pengakuan ini merupakan langkah penting dalam pemulihan hubungan bangsa Israel dengan Tuhan. Mereka tidak lagi sekadar mengeluhkan penderitaan atau menyalahkan keadaan, melainkan mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan di hadapan Tuhan. Mengakui dosa bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kerendahan hati. Sering kali manusia lebih mudah mencari alasan untuk membenarkan diri daripada mengakui kesalahannya. Kita menyalahkan orang lain, keadaan, lingkungan, bahkan terkadang merasa bahwa penderitaan yang kita alami semata-mata disebabkan oleh ketidakadilan orang lain. Namun, pertumbuhan iman dimulai ketika kita berani berkata, “Tuhan, aku telah bersalah. Ada hal dalam hidupku yang perlu diperbaiki.” Pengakuan dosa juga bukan sekadar mengucapkan kata-kata penyesalan. Pengakuan yang sungguh-sungguh harus disertai kesediaan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki kehidupan.
Kedua, merendahkan diri dan bersedia menerima kehendak Tuhan. “Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu.” Kalimat ini memperlihatkan sikap berserah dari bangsa Israel. Mereka tidak lagi hanya menuntut agar Tuhan segera menghilangkan penderitaan mereka, tetapi menyatakan kesediaan untuk menerima apa yang dipandang baik oleh Tuhan. Sikap ini tidak berarti bahwa kita harus menganggap semua penderitaan sebagai sesuatu yang baik atau berhenti berusaha memperbaiki keadaan. Sebaliknya, kita mengakui bahwa Tuhan adalah Allah yang berdaulat, sedangkan kita adalah manusia yang membutuhkan tuntunan-Nya. Sering kali kita datang kepada Tuhan dengan keinginan yang sudah kita tentukan. Kita meminta Tuhan memberkati rencana kita, menyelesaikan masalah sesuai waktu kita, dan memberikan jawaban seperti yang kita harapkan. Ketika jawaban-Nya berbeda, kita menjadi kecewa atau meragukan kasih-Nya. Firman ini mengajarkan kita untuk berdoa bukan hanya, “Tuhan, lakukanlah apa yang aku inginkan,” melainkan juga, “Tuhan, tuntunlah aku untuk melakukan apa yang benar di hadapan-Mu.” Berserah kepada Tuhan bukan berarti pasif. Kita tetap bekerja, mengambil keputusan, mencari pertolongan yang diperlukan, dan bertanggung jawab atas tindakan kita. Namun, semua itu kita lakukan dengan hati yang mau dibentuk oleh kehendak Tuhan.
Ketiga, berseru memohon pertolongan Tuhan dengan sungguh-sungguh. “Hanya tolonglah kiranya kami sekarang ini!” Seruan ini menunjukkan bahwa bangsa Israel menyadari ketidakberdayaan mereka. Mereka membutuhkan pertolongan Tuhan untuk menghadapi keadaan yang tidak mampu mereka atasi dengan kekuatan sendiri. Dalam kehidupan, ada saatnya kita merasa kuat, mampu menyelesaikan persoalan, dan sanggup mengendalikan keadaan. Namun, ada pula saatnya kita menghadapi masalah yang melampaui kemampuan kita: persoalan keluarga, kesulitan ekonomi, penyakit, konflik, kegagalan, atau pergumulan dalam pelayanan. Dalam keadaan seperti itu, kita perlu menyadari bahwa memohon pertolongan Tuhan bukanlah tindakan terakhir setelah semua usaha gagal. Doa seharusnya menjadi bagian dari seluruh perjalanan hidup kita, baik ketika keadaan sedang baik maupun ketika kita berada dalam kesesakan. Akan tetapi, kita perlu memahami bahwa pertolongan Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk dan waktu yang kita inginkan. Pertolongan-Nya dapat berupa jalan keluar, kekuatan untuk bertahan, hikmat untuk mengambil keputusan, orang-orang yang mendampingi kita, atau keberanian untuk mengubah cara hidup yang keliru. Dalam ayat selanjutnya, Hakim-hakim 10:16, bangsa Israel menyingkirkan ilah-ilah asing dan kembali beribadah kepada TUHAN. Teks itu menunjukkan bahwa permohonan mereka tidak berhenti pada kata-kata. Ada tindakan nyata yang menyertai seruan mereka. Karena itu, iman yang sejati tidak hanya berseru meminta pertolongan Tuhan, tetapi juga bersedia melakukan perubahan yang benar di hadapan-Nya. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar