Renungan hari ini: “MATA YANG TERTUJU KEPADA YESUS” (Ibrani 12:2 - TB2)
“MATA YANG TERTUJU KEPADA YESUS”
Ibrani 12:2 (TB2) “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, Perintis iman dan yang membawa iman itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib demi sukacita yang ada di depan Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah”
Hebrews 12:2 (NET) “Keeping our eyes fixed on Jesus, the pioneer and perfecter of our faith. For the joy set out for him he endured the cross, disregarding its shame, and has taken his seat at the right hand of the throne of God”
Nas hari ini bertemakan “MATA YANG TERTUJU KEPADA YESUS”. Kehidupan iman dapat diibaratkan seperti sebuah perlombaan lari jarak jauh. Perlombaan ini tidak hanya membutuhkan semangat pada saat memulai, tetapi juga ketekunan untuk terus berlari sampai mencapai garis akhir. Dalam perjalanan tersebut, ada tantangan, kelelahan, kekecewaan, godaan, bahkan keadaan yang membuat kita ingin menyerah.
Surat Ibrani 12:1–2 menggambarkan kehidupan orang percaya sebagai perlombaan yang harus dijalani dengan tekun. Setelah menyebutkan banyak saksi iman dalam pasal 11, penulis Ibrani mengarahkan perhatian pembacanya kepada Yesus. Dialah pusat dan tujuan iman kita. Kita tidak diminta untuk terus-menerus memandang beratnya pergumulan, melainkan mengarahkan mata kepada Yesus yang telah mendahului kita, menanggung salib, dan dimuliakan oleh Allah.
Nas ini mengajarkan bahwa kekuatan untuk bertahan dalam iman bukan terutama berasal dari kemampuan kita sendiri, melainkan dari pandangan yang terus tertuju kepada Yesus Kristus. Ada tiga pesan penting yang dapat kita renungkan.
Pertama, arahkan mata kepada Yesus, bukan hanya kepada pergumulan. Penulis Ibrani menyatakan, “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus.” Ungkapan ini menunjukkan arah dan fokus kehidupan iman. Dalam perlombaan, seorang pelari harus memperhatikan jalur dan tujuan yang hendak dicapainya. Demikian pula orang percaya perlu menjaga fokus hidupnya kepada Kristus. Sering kali perhatian kita lebih banyak tertuju kepada persoalan hidup: kesulitan ekonomi, masalah keluarga, penyakit, konflik, ketidakadilan, kegagalan, atau masa depan yang belum jelas. Persoalan tersebut memang nyata dan tidak boleh diabaikan. Namun, apabila kita hanya memandang persoalan, hati kita dapat dikuasai oleh ketakutan dan keputusasaan. Memandang Yesus bukan berarti berpura-pura bahwa masalah tidak ada. Memandang Yesus berarti menghadapi masalah dengan keyakinan bahwa kita tidak berjalan sendirian. Kita belajar melihat keadaan melalui iman, bukan hanya melalui apa yang tampak di depan mata.
Kedua, tekunlah mengikuti Yesus, sekalipun jalan iman tidak mudah. Nas ini menyebut Yesus sebagai “Perintis iman dan yang membawa iman itu kepada kesempurnaan.” Yesus disebut Perintis karena Ia telah membuka jalan dan memberikan teladan bagi umat-Nya. Ia tidak hanya mengajarkan tentang iman, tetapi juga menjalani ketaatan kepada Bapa sampai tuntas. Yesus menanggung salib dan mengabaikan kehinaan yang menyertainya. Salib pada zaman itu merupakan lambang penderitaan, penghinaan, dan hukuman yang memalukan. Namun, Yesus tetap menjalani jalan salib karena ketaatan-Nya kepada Bapa dan sukacita yang terbentang di hadapan-Nya. Ini tidak berarti bahwa Yesus menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Sebaliknya, Ia tetap setia menjalankan kehendak Bapa sekalipun harus melewati penderitaan yang berat. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia membuka jalan keselamatan bagi manusia. Sebagai pengikut Kristus, kita juga dapat menghadapi jalan yang tidak mudah. Ada kalanya kita harus memilih kejujuran ketika kebohongan tampak lebih menguntungkan. Ada kalanya kita harus mengampuni ketika hati masih terluka. Ada kalanya kita harus melayani dengan setia meskipun tidak dihargai atau tidak mendapat pujian.
Ketiga, pandanglah sukacita dan kemuliaan yang Allah sediakan. Ibrani 12:2 menyatakan bahwa Yesus tekun memikul salib “demi sukacita yang ada di depan Dia” dan sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Kalimat ini mengarahkan perhatian kita kepada kemenangan Allah. Salib bukanlah akhir dari kisah Yesus. Setelah penderitaan dan kematian-Nya, Ia bangkit dan dimuliakan. Karena itu, kehidupan orang percaya juga tidak boleh dipahami hanya berdasarkan kesulitan yang sedang dialami. Harapan Kristen bukan sekadar keyakinan bahwa semua persoalan akan segera selesai sesuai keinginan kita. Harapan Kristen berakar pada karya keselamatan Kristus dan janji Allah bahwa penderitaan serta kematian tidak akan menjadi kata terakhir. Di dalam Kristus, kita memiliki pengharapan akan kehidupan dan kemuliaan yang kekal. Pengharapan ini memberi kekuatan untuk menjalani hari ini. Kita dapat bekerja dengan jujur, melayani dengan setia, membangun keluarga dengan kasih, dan memperjuangkan kebenaran meskipun hasilnya belum segera terlihat. Kita tahu bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak sia-sia. Ketika doa belum terjawab seperti yang kita harapkan, kita tetap berdoa. Ketika pelayanan menghadapi tantangan, kita tetap melayani. Ketika perubahan berjalan lambat, kita tetap menabur kebaikan. Kita melakukan semuanya bukan karena yakin mampu mengendalikan masa depan, melainkan karena percaya kepada Kristus yang telah menang. Karena itu, tetaplah memandang Yesus, sebab ketika mata kita tertuju kepada-Nya, kita menemukan arah untuk melangkah, kekuatan untuk bertahan, dan pengharapan untuk terus melayani. (rsnh)
Selamat memulai karya dalam Minggu ini untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar