Renungan hari ini: “KRISTUS, SUMBER SEGALA HIKMAT DAN PENGETAHUAN” (Kolose 2:3 - TB2)
“KRISTUS, SUMBER SEGALA HIKMAT DAN PENGETAHUAN”
Kolose 2:3 (TB2) “Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan”
Colossians 2:3 (NET) “In whom are hidden all the treasures of wisdom and knowledge”
Nas hari ini menegaskan bahwa “KRISTUS, SUMBER SEGALA HIKMAT DAN PENGETAHUAN.” Manusia selalu mencari pengetahuan. Kita belajar di sekolah dan perguruan tinggi. Kita membaca buku. Kita mengikuti perkembangan teknologi. Kita menghadiri seminar dan pelatihan. Kita mengembangkan keterampilan supaya dapat bekerja dan melayani dengan lebih baik. Semua itu penting. Namun Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Kolose bahwa ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar pengetahuan manusia: “Di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.”
“Dialah” yang dimaksud adalah Kristus. Paulus ingin menegaskan bahwa Kristus bukan hanya salah satu sumber pengetahuan rohani. Di dalam Kristus terdapat kepenuhan hikmat dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengenal Allah dan menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya. Orang percaya tidak dipanggil hanya menjadi orang yang tahu banyak, tetapi menjadi orang yang tahu bagaimana hidup benar di hadapan Tuhan.
Ada tiga hal penting yang dapat kita renungkan dari nas hari ini:
Pertama, Kristus adalah sumber hikmat yang sejati. Paulus mengatakan, “Di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.” Hikmat berbeda dengan pengetahuan. Pengetahuan membuat seseorang mengetahui sesuatu. Hikmat membuat seseorang mengetahui bagaimana menggunakan apa yang ia ketahui dengan benar. Seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi tetapi belum tentu memiliki hikmat. Seseorang dapat menguasai teknologi tetapi belum tentu menggunakannya dengan benar. Seseorang dapat memiliki jabatan tinggi tetapi belum tentu mampu mengambil keputusan yang bijaksana. Seseorang dapat banyak berbicara tentang Tuhan tetapi belum tentu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Yang kita perlukan bukan hanya knowledge, tetapi juga wisdom. Dan Paulus menunjukkan bahwa sumber hikmat yang sejati adalah Kristus. Kristus menolong kita memahami: apa yang benar; apa yang baik; apa yang harus dilakukan; kapan harus berbicara; kapan harus diam; kapan harus maju; kapan harus menunggu; dan bagaimana menggunakan kemampuan kita untuk kemuliaan Allah.
Kedua, pengetahuan harus membawa kita semakin mengenal Kristus. Paulus menyebut “hikmat dan pengetahuan” sebagai harta yang ada di dalam Kristus. Artinya, pengetahuan yang paling penting bukan hanya mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi mengenal Kristus secara pribadi. Kita dapat mengetahui banyak hal mengenai Alkitab tetapi belum tentu memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Kita dapat mengetahui teori pelayanan tetapi belum tentu memiliki hati seorang pelayan. Kita dapat memahami banyak hal tentang gereja tetapi belum tentu mengasihi gereja. Kita dapat berbicara tentang iman tetapi belum tentu hidup dalam iman. Tujuan pengetahuan Kristen bukan sekadar membuat kita lebih pintar, tetapi membuat kita lebih mengenal Kristus dan semakin menyerupai-Nya. Semakin kita mengenal Kristus, seharusnya semakin terlihat dalam hidup kita: kasih, kerendahan hati, kesabaran, pengampunan, kejujuran, pengorbanan, dan kesetiaan. Jika pengetahuan kita bertambah tetapi kasih kita berkurang, ada sesuatu yang perlu diperiksa. Jika kemampuan kita bertambah tetapi kerendahan hati kita berkurang, kita perlu berhenti sejenak dan kembali kepada Kristus. Jika jabatan kita bertambah tetapi semangat melayani berkurang, mungkin kita sedang memiliki pengetahuan tanpa hikmat. Mari kita belajar bukan hanya untuk menjadi orang yang mengetahui, tetapi menjadi orang yang mengenal Kristus dan melakukan kehendak-Nya.
Ketiga, hikmat Kristus harus diterapkan dalam pelayanan. Hikmat yang berasal dari Kristus tidak boleh berhenti dalam pikiran. Hikmat harus turun menjadi keputusan, tindakan, pelayanan, dan kehidupan nyata. Dalam gereja, kita membutuhkan orang-orang yang memiliki pengetahuan. Kita membutuhkan pendeta yang memiliki wawasan teologi. Kita membutuhkan pelayan yang memiliki kemampuan administrasi. Kita membutuhkan orang-orang yang memahami teknologi. Kita membutuhkan pemimpin yang mampu melihat masa depan. Kita membutuhkan generasi muda yang kreatif dan inovatif. Tetapi semua kemampuan itu harus diarahkan oleh hikmat Tuhan. Sebab gereja tidak hanya membutuhkan orang yang cerdas, tetapi orang yang berhikmat. Tidak hanya orang yang mampu bekerja, tetapi orang yang tahu untuk apa ia bekerja. Tidak hanya orang yang mampu membuat program, tetapi orang yang memahami mengapa program itu dibuat dan siapa yang akan dilayani. Tidak hanya orang yang mampu menggunakan teknologi, tetapi orang yang mampu menggunakan teknologi untuk membangun, bukan merusak; menyatukan, bukan memecah; melayani, bukan mencari popularitas. Inilah hikmat Kristus dalam pelayanan.
Kita hidup dalam zaman yang berubah sangat cepat. Teknologi berkembang. Informasi semakin mudah diperoleh. Kecerdasan buatan berkembang. Cara manusia berkomunikasi berubah. Generasi muda memiliki cara berpikir yang berbeda. Tantangan pelayanan gereja juga semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, gereja tidak boleh takut terhadap pengetahuan dan perkembangan zaman. Sebaliknya, gereja harus terus belajar. Namun ada satu prinsip penting: Kita boleh menggunakan pengetahuan terbaru, tetapi dasar hikmat kita tetap Kristus. Karena itu, kemajuan pengetahuan harus berjalan bersama kedalaman iman. Pengetahuan memberi kemampuan. Hikmat memberi arah. Kristus memberikan dasar dan tujuan. (rsnh)
Selamat memulai karya dalam Minggu ini untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar