Renungan hari ini: “JANGAN MEMBALAS, TETAPI KASIHILAH” (Imamat 19:18 - TB2)
“JANGAN MEMBALAS, TETAPI KASIHILAH”
Imamat 19:18 (TB2) “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN”
Leviticus 19:18 (NET) “You must not take vengeance or bear a grudge against the children of your people, but you must love your neighbor as yourself. I am the Lord”
Nas hari ini menegaskan agar kita “JANGAN MEMBALAS, TETAPI KASIHILAH.” Salah satu pergumulan manusia yang paling sulit adalah ketika kita disakiti oleh orang lain. Ketika diperlakukan tidak adil, hati kita ingin membalas. Ketika dihina, kita ingin membalas perkataan. Ketika dikecewakan, kita ingin membuat orang itu merasakan kekecewaan yang sama. Ketika disakiti, kita sering berpikir: “Dia sudah melakukan sesuatu kepada saya. Mengapa saya tidak boleh melakukan hal yang sama kepadanya?” Namun firman Tuhan memberikan jalan yang berbeda: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam...”
Perintah ini bukan berarti Tuhan menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang benar. Bukan pula berarti kita harus membiarkan ketidakadilan. Tetapi Tuhan tidak menghendaki hati kita dikuasai oleh dendam, kebencian, dan keinginan membalas. Sebaliknya, Tuhan berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini adalah panggilan yang sangat tinggi. Bahkan bagi manusia yang telah terluka, perintah ini terasa sangat sulit. Tetapi justru di sinilah iman kita diuji.
Ada beberapa hal yang menjadi perenungan dari nas hari ini:
Pertama, jangan biarkan luka berubah menjadi dendam. Tuhan berkata, “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam...” Perhatikan bahwa Tuhan menyebut dua hal: membalas dan dendam. Membalas adalah keinginan untuk membuat orang lain menerima penderitaan yang kita rasakan. Dendam lebih dalam lagi. Dendam adalah ketika luka disimpan dalam hati dan terus dipelihara. Seseorang mungkin tidak lagi berbicara tentang masalah itu, tetapi hatinya masih menyimpan luka. Ia berkata: “Saya sudah memaafkan.” Tetapi setiap kali nama orang itu disebut, kemarahan muncul kembali. Di sinilah firman Tuhan mengingatkan kita: jangan menjadikan luka sebagai rumah bagi kebencian. Luka memang membutuhkan waktu untuk sembuh. Kita tidak harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ketika seseorang menyakiti kita, jangan langsung bertanya: “Bagaimana saya bisa membalasnya?” Belajarlah bertanya: “Tuhan, bagaimana saya dapat merespons keadaan ini tanpa kehilangan kasih dan kebenaran?” Itulah kedewasaan iman.
Kedua, mengasihi sesama berarti memilih jalan yang lebih tinggi. Firman Tuhan berkata, “Melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini menarik. Tuhan tidak hanya mengatakan, “Jangan membalas.” Tuhan memberikan sesuatu yang lebih positif: “Kasihilah.” Artinya, kehidupan Kristen bukan hanya tentang menghindari kejahatan, tetapi juga tentang melakukan kebaikan. Tidak cukup hanya tidak membalas. Kita dipanggil untuk tetap melakukan kasih. Kasih berarti menginginkan kebaikan bagi sesama. Kasih berarti tidak menjadikan kesalahan orang lain sebagai alasan untuk kita berbuat salah. Kasih berarti kita tidak membiarkan keburukan orang lain menentukan karakter kita. Karena identitas kita tidak ditentukan oleh perlakuan orang lain, tetapi oleh Tuhan.
Ketiga, kasih kepada sesama adalah bentuk ketaatan kepada TUHAN. Bagian terakhir ayat ini sangat penting:“Akulah TUHAN.” Mengapa kalimat ini muncul setelah perintah tentang kasih? Karena dasar kasih bukan sekadar perasaan manusia. Kita mengasihi bukan hanya karena orang lain layak dikasihi. Kita mengasihi karena Tuhan memerintahkannya. Ini sangat penting. Ada orang yang mudah kita kasihi. Tetapi ada juga orang yang sangat sulit kita kasihi. Ada orang yang menyenangkan. Ada orang yang mengecewakan. Ada orang yang menghargai kita. Ada orang yang merendahkan kita. Namun Tuhan berkata: “Kasihilah sesamamu manusia...” Artinya, ukuran kasih kita bukan hanya berdasarkan apakah seseorang menyenangkan hati kita atau tidak. Kasih Kristen berakar pada ketaatan kepada Tuhan. Ketika kita memilih tidak membalas dendam, kita sedang berkata, “Tuhan, saya menyerahkan hak untuk membalas kepada-Mu.” Ketika kita memilih mengampuni, kita sedang berkata, “Tuhan, saya tidak mau hidup saya dikuasai kebencian.” Ketika kita tetap berbuat baik kepada orang yang menyakiti kita, kita sedang berkata, “Saya ingin karakter saya ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh perlakuan orang lain.”
Ayat ini juga perlu dipahami dengan bijaksana. Tidak membalas bukan berarti tidak boleh mencari keadilan.Mengasihi bukan berarti membiarkan orang terus melakukan kekerasan. Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan tidak penting. Tidak menaruh dendam bukan berarti kita harus membiarkan diri terus-menerus disakiti. Dalam situasi tertentu, kasih justru berarti mengambil tindakan yang benar untuk menghentikan kejahatan, melindungi korban, mencari pertanggungjawaban, dan menetapkan batas yang sehat. Perbedaannya adalah motivasinya. Kita tidak bertindak karena kebencian atau keinginan membalas. Kita bertindak karena kasih, kebenaran, dan keadilan. Karena itu, kasih tidak bertentangan dengan keadilan. Kasih menuntun cara kita memperjuangkan keadilan agar hati kita tidak berubah menjadi penuh kebencian. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar