Renungan hari ini: “HATI YANG DIARAHKAN KEPADA KASIH ALLAH DAN KETABAHAN KRISTUS” (2 Tesalonika 3:5 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

“HATI YANG DIARAHKAN KEPADA KASIH ALLAH DAN KETABAHAN KRISTUS”


 

2 Tesalonika 3:5 (TB2) “Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus”

 

2 Thessalonians 3:5 (NET) “Now may the Lord direct your hearts toward the love of God and the endurance of Christ”

 

Nas hari ini bertemakan “HATI YANG DIARAHKAN KEPADA KASIH ALLAH DAN KETABAHAN KRISTUS.”Hati manusia mudah berubah. Ketika keadaan baik, hati kita mudah bersyukur. Tetapi ketika persoalan datang, hati dapat dipenuhi kekhawatiran. Ketika dihargai, kita mudah mengasihi. Tetapi ketika disakiti, hati dapat dipenuhi kepahitan. Ketika pelayanan berjalan lancar, kita bersemangat. Tetapi ketika menghadapi tekanan, kita bisa menjadi lelah dan ingin menyerah. 

 

Paulus tidak hanya berdoa agar jemaat memiliki pengetahuan yang benar, tetapi agar hati mereka terus diarahkan kepada Allah. Menarik bahwa Paulus menggunakan dua arah: “kepada kasih Allah” dan “kepada ketabahan Kristus.” Kasih Allah menjadi dasar kehidupan kita, sedangkan ketabahan Kristus menjadi teladan dan kekuatan ketika kita menghadapi perjalanan yang tidak mudah.

 

Ada tiga hal penting yang dapat kita renungkan.

 

Pertama, arahkan hati kepada kasih ALLAH. Paulus berkata, “Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah...” Perhatikan kata “tetap”. Hati kita perlu terus diarahkan kepada kasih Allah, karena perhatian manusia mudah berpindah. Kita bisa lebih fokus kepada masalah daripada kepada Tuhan. Kita bisa lebih memikirkan perkataan orang daripada firman Tuhan. Kita bisa lebih mengingat luka daripada mengingat kasih karunia. Paulus mengingatkan bahwa hati kita perlu kembali kepada sumber yang benar: kasih Allah. Kasih Allah bukan sekadar perasaan bahwa Tuhan menyayangi kita. Kasih Allah dinyatakan secara nyata dalam karya keselamatan melalui Yesus Kristus. Ketika kita menyadari bahwa kita dikasihi Allah, kita tidak perlu terus-menerus mencari nilai diri dari pengakuan manusia. Kita boleh bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa harus hidup untuk pujian. Kita boleh menerima kritik tanpa merasa seluruh diri kita ditolak. Kita dapat mengalami kegagalan tanpa menganggap bahwa hidup kita tidak berarti. Sebab identitas kita tidak terutama ditentukan oleh apa yang dikatakan manusia. Seorang pelayan Tuhan dapat mengalami banyak hal: dipuji, dikritik, diterima, ditolak, berhasil, bahkan mengalami kekecewaan. Kalau hati tidak berakar pada kasih Allah, pelayanan dapat berubah menjadi pencarian penghargaan. Tetapi kalau hati berakar pada kasih Allah, kita dapat berkata: “Saya melayani bukan supaya dikasihi manusia; saya melayani karena terlebih dahulu telah dikasihi Allah.” Inilah yang membuat pelayanan menjadi lebih tulus.

 

Kedua, belajar dari ketabahan Kristus. Paulus melanjutkan, “...dan kepada ketabahan Kristus.” Kristus adalah teladan ketabahan yang sempurna. Yesus menjalani jalan yang tidak mudah. Ia menghadapi penolakan, penghinaan, penderitaan dan salib. Namun Ia tidak meninggalkan misi yang dipercayakan Bapa kepada-Nya. Ketabahan Kristus bukan sekadar kemampuan untuk bertahan, tetapi keteguhan untuk tetap melakukan kehendak Allah di tengah penderitaan.Inilah perbedaan antara sekadar bertahan dengan ketabahan iman. Kita bisa bertahan karena terpaksa. Tetapi ketabahan Kristus berarti tetap setia karena kita percaya bahwa kehendak Allah lebih besar daripada kesulitan yang sedang kita alami. Firman Tuhan mengarahkan hati kita kepada Kristus. Lihatlah Kristus. Ia tidak berhenti ketika menghadapi penolakan. Ia tidak menyerah ketika menghadapi penderitaan. Ia tidak meninggalkan kehendak Bapa ketika jalan menjadi berat. Jangan menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti setia. Kesulitan boleh membuat kita menangis.Kesulitan boleh membuat kita beristirahat. Kesulitan boleh membuat kita meminta pertolongan. Tetapi jangan biarkan kesulitan membuat kita meninggalkan Tuhan.

 

Ketiga, hati yang terarah kepada Allah akan teguh dalam pelayanan. Ayat ini sebenarnya berbicara tentang arah hati. Bukan berarti orang percaya tidak akan mengalami masalah. Bukan berarti orang percaya tidak akan kecewa. Bukan berarti orang percaya tidak akan merasa lelah. Tetapi ketika hati kita diarahkan kepada kasih Allah dan ketabahan Kristus, kita mempunyai tempat untuk kembali. Ketika kecewa, kembali kepada kasih Allah. Ketika lelah, kembali kepada ketabahan Kristus. Ketika takut, kembali kepada janji Tuhan. Ketika gagal, kembali kepada kasih karunia. Ketika menghadapi tantangan pelayanan, kembali kepada panggilan Tuhan. Karena itu, kekuatan kita bukan berasal dari keadaan yang selalu baik, tetapi dari Tuhan yang selalu (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar