Renungan hari ini: “DIKUDUSKAN DAN DIPELIHARA SAMPAI KEDATANGAN KRISTUS” (1 Tesalonika 5:23 - TB2)
“DIKUDUSKAN DAN DIPELIHARA SAMPAI KEDATANGAN KRISTUS”
1 Tesalonika 5:23 (TB2) “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita”
1 Thessalonians 5:23 (NET) “Now may the God of peace himself make you completely holy and may your spirit and soul and body be kept entirely blameless at the coming of our Lord Jesus Christ”
Nas hari ini memberikan keyakinan bagi kita bahwa kita “DIKUDUSKAN DAN DIPELIHARA SAMPAI KEDATANGAN KRISTUS.” Setiap orang tentu ingin hidupnya terpelihara dengan baik. Kita menjaga kesehatan tubuh, mengembangkan pikiran, membangun relasi, menjaga pekerjaan dan masa depan. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa manusia bukan hanya tubuh yang perlu dijaga. Kita adalah manusia yang utuh: roh, jiwa dan tubuh, yang semuanya berada di bawah pemeliharaan Allah.
Paulus menutup suratnya kepada jemaat Tesalonika dengan sebuah doa yang sangat indah. Ia tidak hanya berdoa agar jemaat diberkati dalam kehidupan sekarang, tetapi agar mereka dikuduskan seluruhnya dan tetap terpelihara sampai kedatangan Yesus Kristus. Dengan demikian, kehidupan orang percaya bukan sekadar bagaimana kita menjalani hari ini, tetapi bagaimana kita hidup dalam kesetiaan sambil menantikan kedatangan Kristus.
Ada tiga hal penting yang dapat kita renungkan dari nas hari ini:
Pertama, Allah damai sejahtera yang menguduskan kita. Paulus berkata, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya...” Kekudusan bukan terutama hasil kemampuan manusia, melainkan pekerjaan Allah dalam kehidupan orang percaya. Allah yang disebut “Allah damai sejahtera” adalah Allah yang menghadirkan keutuhan, pemulihan dan hubungan yang benar dengan-Nya. Dikuduskan berarti dipisahkan untuk Allah dan semakin dibentuk menjadi manusia yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kekudusan bukan hanya persoalan tidak melakukan dosa tertentu. Kekudusan menyangkut seluruh arah kehidupan kita: pikiran, perkataan, sikap, keputusan, pekerjaan, pelayanan dan relasi dengan sesama. Kadang-kadang kita ingin Allah memberkati pekerjaan kita, tetapi kita lupa meminta Allah menguduskan hati kita. Kita ingin pelayanan kita berhasil, tetapi yang lebih penting adalah apakah hidup kita berkenan kepada Tuhan. Allah tidak hanya ingin memakai kita; Allah terlebih dahulu ingin membentuk kita.Dalam kehidupan gereja dan pelayanan, hal ini sangat penting. Jabatan, kemampuan, pengalaman dan pengetahuan memang diperlukan. Tetapi semuanya harus berjalan bersama dengan kehidupan yang dikuduskan.
Kedua, Tuhan memelihara manusia secara utuh: Roh, jiwa dan tubuh. Paulus melanjutkan, “...dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna...” Ayat ini menunjukkan perhatian Allah terhadap keutuhan manusia. Roh berbicara tentang kehidupan kita di hadapan Allah. Jiwa berkaitan dengan kehidupan batin, pikiran, perasaan dan kehendak. Tubuh adalah kehidupan jasmani yang kita jalani setiap hari. Ketiganya tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan iman.Ada orang yang rajin beribadah tetapi mengabaikan kondisi tubuhnya. Ada yang sangat memperhatikan kesehatan fisik tetapi mengabaikan kehidupan rohaninya. Ada pula yang kelihatan kuat secara lahiriah, tetapi sebenarnya sedang mengalami kelelahan dan pergumulan batin. Firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah peduli terhadap seluruh keberadaan kita. Menjaga diri bukanlah tindakan egois. Justru ketika kita memelihara kehidupan yang Tuhan percayakan, kita sedang menghargai pemberian Allah. Bagi orang yang melayani Tuhan, prinsip ini sangat penting. Pelayanan yang panjang membutuhkan kehidupan yang terpelihara. Kita tidak boleh begitu sibuk melayani orang lain sehingga lupa memelihara kehidupan sendiri di hadapan Tuhan.
Ketiga, hiduplah dalam kesetiaan sampai kedatangan Kristus. Tujuan dari semuanya adalah: “...dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Paulus mengarahkan pandangan jemaat kepada kedatangan Kristus. Ini berarti kehidupan Kristen mempunyai orientasi masa depan. Kita tidak hanya hidup untuk hari ini. Kita sedang berjalan menuju suatu perjumpaan dengan Tuhan. Kedatangan Kristus menjadi pengingat bahwa hidup ini mempunyai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan menghendaki kita ditemukan dalam keadaan setia. Yang Tuhan cari bukan manusia yang sempurna karena kekuatannya sendiri, tetapi manusia yang terus-menerus menyerahkan hidupnya kepada karya pengudusan Allah. “Tak bercacat” bukan berarti tidak pernah mengalami kelemahan. Kita semua mempunyai kekurangan. Kita pernah gagal, kecewa, marah, lelah dan mungkin membuat keputusan yang salah. Namun kasih karunia Tuhan terus membentuk kita.Karena itu, jangan berhenti bertumbuh. Hari ini harus lebih baik daripada kemarin dalam hal kedekatan kita dengan Tuhan. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar