Renungan hari ini: “BERSUKACITALAH SENANTIASA DALAM TUHAN” (Filipi 4:4 - TB2)
“BERSUKACITALAH SENANTIASA DALAM TUHAN”
Filipi 4:4 (TB2) “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”
Philippians 4:4 (NET) “Rejoice in the Lord always. Again I say, rejoice!”
Nas hari ini mengajak kita untuk mampu “BERSUKACITALAH SENANTIASA DALAM TUHAN”. Ada perbedaan antara senang dan bersukacita. Senang biasanya muncul karena keadaan yang menyenangkan. Kita senang ketika pekerjaan berhasil, ketika mendapatkan kabar baik, ketika kebutuhan terpenuhi, ketika orang menghargai kita, atau ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan harapan. Tetapi sukacita yang dimaksud Paulus jauh lebih dalam. Sukacita Kristen tidak terutama bergantung pada keadaan di luar diri kita. Sukacita itu berakar “dalam Tuhan.”
Yang menarik, nasihat ini disampaikan Paulus dalam keadaan yang tidak mudah. Ia sedang mengalami penderitaan dan berada dalam keterbatasan. Namun justru dari situ Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” Paulus tidak sedang mengatakan bahwa orang percaya harus berpura-pura bahagia dan mengabaikan penderitaan. Ia sedang mengajarkan bahwa penderitaan tidak boleh mengambil alih pengharapan kita kepada Tuhan.
Ada tiga hal penting yang dapat kita renungkan dari nas hari ini:
Pertama, sukacita kita berasal dari TUHAN, bukan dari keadaan. Paulus tidak berkata, “Bersukacitalah karena keadaanmu selalu baik.” Ia berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan.” Kata “dalam Tuhan” adalah pusat dari nasihat ini. Paulus memahami bahwa keadaan hidup dapat berubah. Hari ini kita berhasil, besok mungkin mengalami kegagalan. Hari ini kita sehat, suatu saat kita dapat mengalami kelemahan. Hari ini kita mendapatkan penghargaan, suatu saat mungkin kita mengalami penolakan. Hari ini segala sesuatu berjalan sesuai rencana, besok mungkin muncul persoalan yang tidak kita duga. Kalau sukacita kita hanya bergantung pada keadaan, maka sukacita kita akan naik turun mengikuti keadaan. Tetapi jika sukacita kita berakar dalam Tuhan, kita mempunyai dasar yang lebih kuat. Kita dapat berkata, “Keadaanku dapat berubah, tetapi Tuhan tidak berubah.” Inilah dasar sukacita Kristen. Kita bersukacita bukan karena semua persoalan sudah selesai, tetapi karena kita tahu bahwa Tuhan tetap hadir di tengah persoalan itu.
Kedua, sukacita adalah sikap iman. Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa!” Perhatikan kata “senantiasa.”Artinya, sukacita bukan hanya untuk saat-saat tertentu. Kita bersukacita ketika menerima berkat, tetapi juga tetap memiliki pengharapan ketika menghadapi pergumulan. Kita bersukacita ketika pelayanan berhasil, tetapi juga tetap setia ketika hasilnya belum terlihat. Kita bersukacita ketika doa kita dijawab sesuai harapan, tetapi tetap percaya ketika jawaban Tuhan berbeda dengan apa yang kita minta. Di sinilah sukacita menjadi sikap iman. Sukacita berkata, “Saya belum melihat semuanya, tetapi saya percaya Tuhan sedang bekerja.” Sukacita berkata, “Saya belum memahami semuanya, tetapi saya percaya kepada Tuhan.” Sukacita berkata, “Saya belum mengetahui apa yang akan terjadi besok, tetapi saya tahu siapa yang memegang hari esok.” Sukacita tidak berarti menyangkal kenyataan. Kita boleh menangis.Kita boleh merasa lelah. Kita boleh kecewa. Kita boleh mengakui bahwa keadaan sedang sulit. Tetapi di tengah semuanya itu, iman tetap berkata, “Saya tidak kehilangan Tuhan.” Dan selama kita tidak kehilangan Tuhan, kita masih memiliki alasan untuk berharap dan bersukacita.
Ketiga, sukacita harus menjadi kesaksian dalam kehidupan. Sukacita yang berasal dari Tuhan tidak hanya dirasakan di dalam hati. Sukacita itu harus terlihat dalam kehidupan. Orang yang memiliki sukacita dalam Tuhan akan membawa suasana yang berbeda ke mana pun ia pergi. Di dalam keluarga, ia membawa pengharapan. Di tempat kerja, ia membawa semangat. Di dalam pelayanan, ia membawa ketekunan. Di tengah konflik, ia membawa kesejukan. Di tengah kesulitan, ia membawa iman. Ini sangat penting dalam kehidupan bergereja dan pelayanan. Kadang-kadang orang tidak pertama-tama membaca Alkitab melalui buku. Mereka membaca kehidupan orang percaya. Ketika seseorang melihat seorang pelayan Tuhan tetap ramah walaupun sedang menghadapi kesulitan, tetap bekerja dengan sungguh-sungguh walaupun tidak selalu dihargai, tetap bersyukur walaupun memiliki pergumulan, maka kehidupan itu sendiri menjadi kesaksian.Sukacita menjadi kesaksian bahwa Tuhan cukup bagi kita. Karena itu, jangan biarkan persoalan membuat wajah kita kehilangan pengharapan. Bukan berarti kita harus selalu tersenyum secara pura-pura. Tetapi biarlah hati kita memiliki keyakinan bahwa, “Tuhan tidak pernah meninggalkan saya.” (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar