Renungan hari ini: “BERIBADAHLAH KEPADA TUHAN DENGAN TULUS DAN SETIA” (Yosua 24:14 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

“BERIBADAHLAH KEPADA TUHAN DENGAN TULUS DAN SETIA”


 

Yosua 24:14 (TB2) “Jadi, sekarang, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Singkirkanlah ilah-ilah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN”

 

Joshua 24:14 (NET) “Now obey the Lord and worship him with integrity and loyalty. Put aside the gods your ancestors worshiped beyond the Euphrates and in Egypt and worship the Lord”


Nas hari ini mengajak kita untuk “BERIBADAHLAH KEPADA TUHAN DENGAN TULUS DAN SETIA.” Setiap orang dapat mengatakan bahwa dirinya percaya kepada Tuhan. Kita dapat beribadah, berdoa, membaca Alkitab, bahkan terlibat aktif dalam pelayanan. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendalam: apakah Tuhan sungguh-sungguh menjadi pusat kehidupan kita? Sebab, percaya kepada Tuhan tidak hanya berkaitan dengan apa yang kita ucapkan, tetapi juga dengan siapa yang kita utamakan, apa yang kita kejar, dan bagaimana kita mengambil keputusan setiap hari.

 

Dalam Yosua 24, Yosua mengumpulkan bangsa Israel di Sikhem untuk mengingatkan mereka akan perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama Tuhan. Tuhan telah memanggil nenek moyang mereka, membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir, menyertai perjalanan mereka, dan membawa mereka masuk ke negeri yang dijanjikan.

 

Setelah mengingat karya Tuhan, Yosua menyampaikan sebuah tuntutan yang tegas: bangsa Israel harus takut akan Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Mereka juga harus menyingkirkan ilah-ilah lain yang dapat menarik hati mereka menjauh dari Tuhan.

 

Perhatikan kata “sekarang”. Yosua tidak hanya mengajak bangsa Israel mengingat masa lalu, tetapi meminta mereka mengambil keputusan untuk hidup setia pada masa kini. Demikian pula dengan kita. Pengalaman iman masa lalu tidak boleh membuat kita berhenti memperbarui komitmen kepada Tuhan. Setiap hari kita dipanggil untuk memilih siapa yang akan kita ikuti dan kepada siapa kita akan menyerahkan hidup kita.

 

Ada tiga hal penting yang dapat kita renungkan dari nas hari ini:

 

Pertama, takutlah akan TUHAN: Tempatkan TUHAN sebagai yang utama. Yosua berkata, “Jadi, sekarang, takutlah akan TUHAN...” Takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan seolah-olah Tuhan hanya ingin menghukum kita. Takut akan Tuhan berarti menghormati kekudusan-Nya, menyadari otoritas-Nya, dan hidup dengan kesungguhan untuk menaati kehendak-Nya. Orang yang takut akan Tuhan tidak hanya bertanya, “Apakah tindakan ini menguntungkan saya?” Ia juga bertanya, “Apakah tindakan ini benar di hadapan Tuhan?” Takut akan Tuhan memengaruhi cara kita bekerja, menggunakan uang, memperlakukan orang lain, menjalankan tanggung jawab, dan mengambil keputusan. Kita mungkin tidak selalu diawasi oleh manusia. Tidak semua orang mengetahui apa yang kita lakukan ketika tidak ada orang lain di sekitar kita. Namun, iman mengingatkan bahwa hidup kita tetap berada di hadapan Tuhan.

 

Kedua, beribadahlah dengan tulus ikhlas dan setia. Yosua melanjutkan, “...dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.” Ada dua sikap yang ditekankan: ketulusan dan kesetiaan. Tulus ikhlas berarti beribadah dengan hati yang sungguh-sungguh, bukan sekadar untuk dilihat, dipuji, atau memperoleh keuntungan tertentu. Setia berarti tetap berpegang kepada Tuhan dan menjalankan kehendak-Nya, bukan hanya ketika keadaan menyenangkan, tetapi juga ketika menghadapi kesulitan. Kita dapat melakukan banyak kegiatan rohani tanpa sungguh-sungguh menyerahkan hati kepada Tuhan. Kita dapat melayani karena ingin dihormati. Kita dapat memberikan persembahan karena ingin memperoleh pengakuan. Kita dapat mengambil tanggung jawab gerejawi karena ingin mendapatkan kedudukan. Dari luar, semua itu mungkin terlihat seperti pelayanan. Namun, Yosua mengingatkan bahwa Tuhan menghendaki ketulusan dan kesetiaan.Ibadah sejati tidak berhenti ketika kebaktian selesai. Ibadah berlanjut dalam kehidupan sehari-hari: ketika kita bekerja dengan jujur, memperlakukan sesama dengan kasih, memenuhi janji, menjalankan tanggung jawab, dan tetap setia meskipun tidak menerima pujian. Ketulusan tanpa kesetiaan dapat membuat kita bersemangat hanya sesaat. Sebaliknya, kesetiaan tanpa ketulusan dapat menjadikan pelayanan sebagai rutinitas yang kehilangan makna.

 

Ketiga, singkirkanlah segala “Ilah” yang mengambil tempat TUHAN. Yosua berkata, “Singkirkanlah ilah-ilah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir...” Pada masa itu, bangsa Israel hidup di tengah masyarakat yang mengenal berbagai ilah. Karena itu, kesetiaan kepada Tuhan menuntut mereka meninggalkan penyembahan kepada ilah-ilah lain. Bagi kita sekarang, perintah ini juga mengajak kita memeriksa apakah ada sesuatu yang telah mengambil tempat Tuhan di dalam hati kita. Tidak semua hal yang menjadi berhala berbentuk patung atau benda yang disembah secara langsung. Sesuatu dapat menjadi berhala ketika kita menempatkannya di atas Tuhan dan menjadikannya pusat kepercayaan serta tujuan hidup. Misalnya:

  • Uang dan kekayaan, ketika kita rela mengorbankan kejujuran dan iman demi keuntungan.
  • Jabatan dan kekuasaan, ketika kita lebih mementingkan kedudukan daripada kebenaran dan pelayanan.
  • Popularitas dan pujian, ketika nilai diri kita sepenuhnya ditentukan oleh pengakuan manusia.
  • Kepentingan pribadi, ketika kita tidak lagi peduli terhadap kebutuhan dan penderitaan sesama.
  • Tradisi atau kebiasaan, ketika kita mempertahankannya tanpa bersedia menguji apakah hal itu sejalan dengan firman Tuhan.

Hal-hal tersebut tidak selalu salah pada dirinya sendiri. Uang diperlukan, jabatan dapat menjadi sarana pelayanan, dan tradisi dapat memiliki nilai yang berharga. Namun, semuanya menjadi persoalan ketika mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan. Menyingkirkan ilah berarti berani menata kembali prioritas hidup. Jika uang telah menguasai hati, belajarlah hidup dengan rasa cukup dan murah hati. Jika ambisi telah menguasai keputusan, belajarlah melayani dengan rendah hati. Jika kebencian telah menguasai pikiran, belajarlah mengampuni dan mencari penyelesaian yang benar. Jika kesibukan telah membuat kita menjauh dari Tuhan, kembalilah menyediakan waktu untuk berdoa, membaca firman, dan beribadah. Perubahan ini tidak selalu mudah. Kita mungkin harus meninggalkan kebiasaan lama, mengakui kesalahan, atau memperbaiki hubungan yang rusak. Namun, kesetiaan kepada Tuhan menuntut keberanian untuk melakukan pembaruan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan adalah yang utama jika kita terus membiarkan sesuatu yang lain menguasai hati kita. Karena itu, firman ini mengajak kita kembali kepada komitmen yang mendasar: takut akan Tuhan, beribadah dengan tulus ikhlas dan setia, serta menyingkirkan segala sesuatu yang mengambil tempat-Nya. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

 

Komentar