KOTBAH MINGGU XVIII SETELAH TRINITATIS Minggu, 04 Oktober 2026 “MEMULIAKAN ALLAH DALAM SEGALA HAL” (Titus 2:1-10)

 KOTBAH MINGGU XVIII SETELAH TRINITATIS

Minggu, 04 Oktober 2026

 

“MEMULIAKAN ALLAH DALAM SEGALA HAL” 

Kotbah: Titus 2:1-10   Bacaan: Mikha 4:1-5


 

Apa artinya memuliakan Allah? Sering kali kita menghubungkan kemuliaan Allah dengan kegiatan-kegiatan yang secara langsung berkaitan dengan ibadah: datang ke gereja, menyanyi, berdoa, membaca Alkitab, mengikuti pelayanan, atau memberikan persembahan. Semua itu benar dan penting. Tetapi Rasul Paulus melalui surat kepada Titus mengingatkan kita bahwa memuliakan Allah tidak berhenti di dalam ruang ibadah.

 

Memuliakan Allah terlihat dari bagaimana kita berbicara, bagaimana kita memperlakukan pasangan dan keluarga, bagaimana orang tua membimbing anak, bagaimana orang muda mengendalikan diri, bagaimana seorang pekerja menjalankan tanggung jawabnya, dan bagaimana seorang Kristen hidup di tengah masyarakat. Karena itu, tema kita:

“MEMULIAKAN ALLAH DALAM SEGALA HAL.”

 

Kata kuncinya adalah “segala hal.” Artinya, tidak ada wilayah kehidupan yang boleh kita pisahkan dari iman kepada Tuhan. Hari Minggu adalah milik Tuhan, tetapi Senin sampai Sabtu juga milik Tuhan. Gereja adalah milik Tuhan, tetapi rumah kita juga milik Tuhan. Pelayanan adalah milik Tuhan, tetapi pekerjaan kita juga harus memuliakan Tuhan.

 

Ada beberapa pelajaran penting dari tema ini untuk kita hidupi:

Pertama, memuliakan Allah dimulai dari ajaran yang sehat (ay. 1). Paulus memulai nasihatnya kepada Titus dengan berkata, “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat.” Perhatikan bahwa Paulus tidak langsung berbicara tentang perilaku. Ia terlebih dahulu berbicara tentang ajaran yang sehat. Mengapa? Karena dalam iman Kristen, apa yang kita percayai akan memengaruhi bagaimana kita hidup. Teologi dan etika tidak dapat dipisahkan. Jika kita sungguh percaya bahwa Allah mengasihi kita, maka kasih itu harus terlihat dalam kehidupan. Jika kita percaya bahwa Kristus telah menyelamatkan kita, maka kehidupan kita harus menjadi ucapan syukur atas keselamatan itu. Jika kita percaya bahwa kita adalah milik Tuhan, maka tubuh, waktu, pekerjaan, keluarga, harta, dan kemampuan kita harus dipersembahkan untuk kemuliaan-Nya. Dengan demikian: Ajaran yang sehat harus menghasilkan kehidupan yang sehat. Gereja tidak hanya dipanggil menghasilkan orang yang banyak mengetahui tentang Tuhan, tetapi menghasilkan manusia yang kehidupannya mencerminkan Tuhan.

 

Kedua, memuliakan Allah melalui karakter dan kedewasaan hidup (ay. 2–5). Paulus kemudian berbicara kepada berbagai kelompok dalam jemaat. Ia mulai dengan laki-laki yang lebih tua: “Hendaklah orang-orang tua hidup sederhana, terhormat, dapat menguasai diri, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.” Perhatikan tiga hal: iman, kasih, dan ketekunan. Kedewasaan rohani tidak terutama diukur dari usia, lamanya seseorang menjadi Kristen, atau banyaknya jabatan pelayanan. Kedewasaan rohani terlihat dari karakter. Seseorang dapat sudah lama berada di gereja tetapi masih mudah marah. Seseorang dapat aktif dalam pelayanan tetapi sulit mengampuni. Seseorang dapat mengetahui banyak ayat Alkitab tetapi perkataannya melukai orang lain. Karenanya Paulus menunjukkan bahwa kehidupan yang memuliakan Allah harus menghasilkan: penguasaan diri; kehormatan; iman yang sehat; kasih; dan ketekunan. Bagi orang-orang yang lebih tua. Kehadiran mereka seharusnya menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Gereja membutuhkan orang-orang yang bukan hanya berkata, “Dulu gereja kita begini.” Tetapi juga mampu berkata, “Mari saya tunjukkan melalui kehidupan bagaimana menjadi pengikut Kristus.” Generasi tua mempunyai kekayaan pengalaman, tetapi pengalaman itu menjadi berkat ketika diwariskan dalam bentuk keteladanan.

 

Ketiga, memuliakan Allah melalui keluarga (ay. 3–5). Paulus kemudian berbicara kepada perempuan-perempuan yang lebih tua dan lebih muda. Perempuan-perempuan yang lebih tua dipanggil untuk menjadi teladan dan mengajar yang lebih muda. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan iman tidak hanya terjadi melalui mimbar gereja. Keluarga adalah sekolah iman. Apa yang anak-anak lihat di rumah sering kali lebih kuat daripada apa yang mereka dengar di gereja. Jika di gereja kita mengajarkan kasih tetapi di rumah anak melihat kebencian, maka pesan gereja kehilangan kekuatannya. Jika di gereja kita mengajarkan pengampunan tetapi di rumah orang tua terus menyimpan dendam, anak belajar bahwa iman hanya teori. Karenanya, memuliakan Allah dimulai dari rumah. Keluarga Kristen bukan keluarga yang tidak pernah mempunyai masalah. Keluarga Kristen adalah keluarga yang belajar menghadapi masalah bersama Tuhan.

 

Keempat, memuliakan Allah melalui penguasaan diri (ay. 6). Paulus memberikan nasihat khusus kepada orang-orang muda: “Nasihatilah orang-orang muda supaya mereka menguasai diri dalam segala hal.” Menarik bahwa nasihat Paulus sangat sederhana: menguasai diri. Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak kebebasan, Alkitab mengingatkan bahwa kebebasan tanpa penguasaan diri dapat menghancurkan kehidupan. Orang muda membutuhkan kebebasan, tetapi juga membutuhkan arah. Mereka membutuhkan kreativitas, tetapi juga karakter. Mereka membutuhkan kesempatan, tetapi juga tanggung jawab. Penguasaan diri berarti mampu berkata: “Tidak” kepada sesuatu yang salah, dan mampu berkata: “Ya” kepada sesuatu yang benar. Penguasaan diri diperlukan dalam: penggunaan media sosial;perkataan; hubungan dengan lawan jenis; penggunaan uang; emosi; hiburan; pekerjaan; dan berbagai keputusan kehidupan. Orang yang mampu menguasai dirinya sedang belajar menghormati Tuhan melalui kehidupannya.

 

Kelima, memuliakan Allah melalui keteladanan (ay. 7–8). Paulus kemudian berbicara kepada Titus sendiri: “Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.” Ini merupakan salah satu prinsip kepemimpinan Kristen yang sangat penting. Paulus tidak berkata, “Suruh mereka melakukan yang baik.” Tetapi, “Jadikanlah dirimu sendiri teladan.” Pemimpin gereja tidak cukup hanya pandai berbicara tentang kebenaran. Kehidupannya harus menjadi contoh dari kebenaran yang ia beritakan. Seorang pendeta berbicara tentang kasih—maka ia harus menunjukkan kasih.Seorang pemimpin berbicara tentang persatuan—maka ia harus menjadi pembawa persatuan. Seorang pelayan berbicara tentang kerendahan hati—maka ia harus hidup rendah hati. Seorang guru mengajarkan kejujuran—maka ia harus jujur.Karena: Kesaksian terbesar seorang pelayan Tuhan bukan hanya apa yang dikatakannya, tetapi bagaimana ia menjalani apa yang dikatakannya.

 

Pertanyaan kita sekarang, bagaimanakah cara kita memuliakan Allah dalam segala hal dalam kehidupan sehari-hari? Berdasarkan Titus 2:1–10, memuliakan Allah dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya melalui ibadah di gereja, tetapi dengan menjadikan seluruh kehidupan sebagai kesaksian iman. Ada beberapa cara praktis yang dapat kita lakukan:

 

Pertama, memuliakan Allah melalui perkataan. Apa yang keluar dari mulut kita harus mencerminkan iman kepada Kristus. Kita dipanggil untuk berkata benar, tidak memfitnah, tidak menyebarkan kebencian, tidak merendahkan orang lain, dan menggunakan perkataan untuk membangun. Apakah perkataan saya hari ini membuat orang lain melihat kasih Tuhan atau justru menjauh dari Tuhan? Jaga perkataan, karena perkataan kita adalah bagian dari kesaksian iman.

 

Keduam memuliakan Allah melalui karakter. Titus 2 berbicara tentang hidup yang sederhana, terhormat, dapat menguasai diri, sehat dalam iman, kasih, dan ketekunan. Artinya, iman harus terlihat dalam karakter. Kita memuliakan Allah ketika tetap jujur walaupun tidak ada yang mengawasi, tetap setia walaupun tidak dihargai, tetap mengampuni walaupun terluka, dan tetap melakukan yang benar walaupun sulit. Karakter yang baik adalah ibadah yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ketiga, memuliakan Allah melalui keluarga. Rumah adalah tempat pertama di mana iman harus dipraktikkan.Memuliakan Allah berarti menghormati pasangan, mengasihi anak, menghargai orang tua, mendidik anak dalam iman, menyediakan waktu untuk berdoa dan berkomunikasi, serta belajar menyelesaikan konflik dengan kasih. Jangan sampai kita terlihat sangat rohani di gereja tetapi kehilangan kasih di dalam rumah. Keluarga yang hidup dalam kasih adalah kesaksian pertama tentang kasih Allah.

 

Keempat, memuliakan Allah melalui pekerjaan. Titus 2:9–10 menunjukkan pentingnya kesetiaan dan integritas dalam pekerjaan. Karenanya, apa pun pekerjaan kita, lakukan dengan sungguh-sungguh. Jangan mencuri waktu, jangan curang, jangan menyalahgunakan kepercayaan, dan jangan bekerja hanya ketika diawasi. Kita bekerja bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang yang telah menerima kasih karunia Tuhan. Meja kerja, kantor, ladang, toko, sekolah, dan tempat usaha kita juga merupakan tempat untuk memuliakan Allah.

 

Kelima, memuliakan Allah melalui penguasaan diri. Titus 2:6 secara khusus mengatakan, “Nasihatilah orang-orang muda supaya mereka menguasai diri dalam segala hal.” Penguasaan diri sangat penting dalam kehidupan modern. Kita perlu menguasai: emosi; perkataan; penggunaan uang; penggunaan media sosial; keinginan pribadi; waktu; dan berbagai keputusan kehidupan. Tidak semua yang bisa kita lakukan harus kita lakukan. Tidak semua yang ingin kita katakan harus kita katakan. Tidak semua yang ditawarkan dunia harus kita ikuti. Penguasaan diri adalah salah satu bentuk nyata menghormati Tuhan.

 

 

RENUNGAN DAN RELEVANSI

 

Apa yang menjadi renungan dan relevansi dari tema ini bagi kita saat ini? Tema ini menjadi sangat relevan karena kita hidup dalam zaman ketika identitas seseorang sering dinilai dari apa yang terlihat, sementara kehidupan yang sesungguhnya berlangsung jauh dari perhatian orang lain. Titus 2:1–10 mengingatkan bahwa iman Kristen tidak berhenti pada apa yang kita katakan atau tampilkan, tetapi harus nyata dalam seluruh kehidupan.

 

Pertama, kita dipanggil menjadi orang Kristen yang bukan hanya “kelihatan baik”, tetapi sungguh-sungguh hidup benar. Hari ini kita dapat dengan mudah membangun citra diri. Kita dapat menunjukkan sisi terbaik melalui media sosial, tetapi Tuhan melihat kehidupan kita secara utuh. Titus mengajarkan tentang penguasaan diri, ketulusan, kesetiaan, kasih, dan kehidupan yang menjadi teladan. Kita dipanggil menjadi pribadi yang sama ketika berada di gereja, di rumah, di tempat kerja, maupun ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

 

Kedua, keluarga menjadi tempat pertama untuk memuliakan Allah. Titus 2 memberi perhatian besar kepada hubungan antargenerasi. Orang yang lebih tua dipanggil menjadi teladan bagi yang lebih muda. Ini sangat relevan di tengah kehidupan keluarga sekarang. Banyak orang tua sibuk bekerja, anak-anak sibuk dengan gadget, dan komunikasi dalam keluarga semakin berkurang. Memuliakan Allah dimulai dari hal sederhana: orang tua menjadi teladan, anak belajar menghormati, pasangan saling mengasihi, dan keluarga menyediakan ruang bagi Tuhan. Gereja yang kuat membutuhkan keluarga yang kuat. Jangan hanya mewariskan harta kepada anak-anak; wariskanlah iman, karakter, dan keteladanan.

 

Ketiga, generasi muda dipanggil bukan hanya menjadi pengguna zaman, tetapi pembawa nilai Kristiani. Titus 2:6 berkata: “Nasihatilah orang-orang muda supaya mereka menguasai diri dalam segala hal.” Ini sangat relevan dengan zaman digital. Generasi muda menghadapi begitu banyak informasi, hiburan, pengaruh, dan tekanan sosial. Karena itu, mereka membutuhkan bukan hanya larangan, tetapi pendampingan dan teladan. Menguasai diri berarti mampu menentukan: apa yang layak dilihat; apa yang layak didengar; apa yang layak dibagikan; bagaimana menggunakan waktu;bagaimana menggunakan teknologi; bagaimana membangun relasi; dan bagaimana mengambil keputusan. Gereja perlu menjadi komunitas yang mendampingi generasi muda, bukan sekadar menghakimi mereka.

 

Keempat, pekerjaan kita juga merupakan tempat untuk memuliakan Allah. Titus 2:9–10 berbicara tentang kehidupan kerja dan kesetiaan dalam menjalankan tanggung jawab. Ini mengingatkan kita bahwa hari Senin sampai Sabtu juga milik Tuhan. Seorang pegawai memuliakan Allah melalui kejujuran. Seorang guru melalui tanggung jawab mendidik. Seorang pengusaha melalui usaha yang adil. Seorang petani melalui kerja yang tekun. Seorang pelayan gereja melalui kesetiaan dalam pelayanan. Jadi, kita tidak boleh membagi kehidupan menjadi: “Ini bagian Tuhan, ini bagian saya.” Seluruh kehidupan adalah milik Tuhan.

 

Kelima, di tengah krisis integritas, orang percaya dipanggil menjadi teladan. Kita hidup dalam zaman ketika kejujuran, tanggung jawab, dan kepercayaan menjadi sangat berharga. Titus 2 justru menekankan bahwa kehidupan orang percaya harus menjadi kesaksian yang dapat dilihat. Paulus berkata kepada Titus, “Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik” (ay. 7). Artinya, perubahan tidak selalu dimulai dari orang lain. Perubahan dimulai dari:saya. Kalau ingin keluarga berubah, saya harus mulai menjadi teladan. Kalau ingin gereja berubah, saya harus mulai dari diri sendiri. Kalau ingin masyarakat lebih jujur, saya harus mulai hidup jujur.

 

Tema “Memuliakan Allah dalam Segala Hal” mengajak kita berpindah dari iman yang hanya diucapkan menuju iman yang dihidupi. Bukan hanya: “Saya percaya kepada Tuhan,” tetapi: “Karena saya percaya kepada Tuhan, maka cara saya berbicara berubah, cara saya bekerja berubah, cara saya memperlakukan keluarga berubah, cara saya menggunakan harta berubah, cara saya menghadapi masalah berubah, dan cara saya melayani juga berubah.” Karena itu, memuliakan Allah bukanlah sebuah kegiatan tambahan dalam hidup kita. Memuliakan Allah adalah tujuan dari seluruh kehidupan kita. Di gereja kita beribadah kepada Tuhan. Di rumah kita menunjukkan kasih Tuhan. Di tempat kerja kita menunjukkan integritas Tuhan. Di tengah masyarakat kita menjadi kesaksian tentang Tuhan. Di mana pun kita berada, hidup kita dipakai untuk memuliakan Tuhan. (rsnh)

 

Selamat beribadah dan menikmati lawatan TUHAN

Komentar