KOTBAH MINGGU XIX SETELAH TRINITATIS Minggu, 11 Oktober 2026 “ALLAH MENYUKAI KASIH SETIA” (Hosea 6:1-6)

 KOTBAH MINGGU XIX SETELAH TRINITATIS

Minggu, 11 Oktober 2026

 

“ALLAH MENYUKAI KASIH SETIA” 

Kotbah: Hosea 6:1-6       Bacaan: Yudas 1:17-23 


 

Ada sebuah pertanyaan penting bagi kehidupan iman kita: Apa yang sebenarnya Tuhan kehendaki dari kita? Apakah Tuhan hanya menghendaki kita rajin datang ke gereja? Apakah Tuhan hanya melihat berapa banyak persembahan yang kita berikan? Apakah Tuhan hanya memperhatikan seberapa sering kita berdoa dan mengikuti kegiatan gerejawi? Semua itu penting. Tetapi Hosea 6 mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak menghendaki aktivitas keagamaan yang tidak menghasilkan perubahan hidup.

 

Kita dapat rajin beribadah, tetapi hati jauh dari Tuhan. Kita dapat aktif dalam pelayanan, tetapi masih menyimpan kebencian. Kita dapat berbicara tentang kasih, tetapi sulit mengampuni. Kita dapat membawa persembahan kepada Tuhan, tetapi tidak peduli kepada sesama. Karenanya Tuhan berkata, “Aku menyukai kasih setia dan bukan kurban sembelihan.” Ayat ini bukan berarti Tuhan menolak ibadah, kurban, doa, atau persembahan. Tuhan sedang menegaskan bahwa ibadah yang benar harus lahir dari hubungan yang benar dengan Allah dan diwujudkan dalam kasih setia kepada sesama.

 

Dari perikop kotbah Minggu ini kita menarik beberapa pelajaran penting bagi kita berkaitan dengan hidup yang benar dengan Allah dan diwujudkan dalam kasih setia kepada sesama:

Pertama, kembalilah kepada TUHAN dengan sungguh-sungguh (ay. 1-3). “Mari, kita berbalik kepada TUHAN…”Pasal 6 diawali dengan sebuah ajakan “Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN.” Kata “berbalik” menunjukkan adanya perubahan arah. Umat yang sebelumnya menjauh dari Allah dipanggil untuk kembali. Ini penting karena pertobatan bukan sekadar merasa bersalah, tetapi mengubah arah kehidupan. Ada orang yang berkata, “Saya sudah bertobat,” tetapi kehidupannya tidak berubah. Masih mudah marah. Masih menyimpan dendam. Masih suka merendahkan orang lain. Masih tidak jujur. Masih mementingkan diri sendiri. Pertobatan yang sejati membawa manusia kembali kepada Allah dan menghasilkan kehidupan yang baru. Jika kita memiliki konflik dengan saudara seiman, jangan hanya menghindar. Carilah rekonsiliasi. Kembali kepada Tuhan harus terlihat dalam perubahan cara kita memperlakukan manusia.

 

Kedua, Allah tidak mencari ibadah yang kosong, tetapi hati yang setia (ay. 4–6). Tuhan kemudian menyampaikan teguran yang sangat tajam, “Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda?” Mengapa Tuhan mengatakan demikian? Karena kasih umat kepada Tuhan hanya sebentar.“Kasih setiamu seperti kabut pagi dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar.” Gambaran ini sangat kuat. Kabut pagi terlihat indah, tetapi sebentar kemudian hilang. Embun pagi tampak menyegarkan, tetapi ketika matahari muncul, ia menghilang. Begitulah kasih umat kepada Allah: ada ketika keadaan baik, tetapi menghilang ketika menghadapi kesulitan atau ketika kepentingan pribadi terganggu. Kadang-kadang iman kita juga demikian. Ketika berkat datang, kita berkata, “Puji Tuhan!” Tetapi ketika masalah datang, “Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan saya?” Ketika doa kita dikabulkan, kita rajin beribadah. Ketika doa belum dijawab, kita mulai kecewa. Karenanya Tuhan berkata, “Aku menyukai kasih setia dan bukan kurban sembelihan.” Apa arti “kasih setia”? Dalam bahasa Ibrani terdapat kata ḥesed, yang menunjuk pada kasih yang setia, kasih yang teguh, kasih yang tidak mudah berubah, kasih yang lahir dari relasi perjanjian. Jadi Tuhan bukan sekadar mencari perasaan kasih dari umat-Nya. Tuhan mencari kesetiaan yang nyata. Kasih setia berarti: tetap mengasihi ketika tidak mendapatkan keuntungan; tetap melakukan yang benar ketika tidak ada yang melihat; tetap setia ketika menghadapi kesulitan; tetap mengampuniketika kita terluka; tetap melayani ketika tidak dipuji; tetap melakukan kehendak Tuhan ketika jalan itu tidak mudah.Kasih setia bukan hanya apa yang kita katakan kepada Tuhan, tetapi bagaimana kita hidup di hadapan Tuhan dan sesama.

 

Ketiga, mengenal ALLAH harus mengubah cara kita hidup (ay. 6). Ayat 6 memberikan inti pesan kitab ini, “Sebab Aku menyukai kasih setia dan bukan kurban sembelihan, dan Aku menyukai pengenalan akan Allah lebih daripada kurban bakaran.” Perhatikan dua hal: Kasih setia dan pengenalan akan Allah. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Mengenal Allah bukan hanya mengetahui banyak hal tentang Allah. Kita bisa mengetahui banyak ayat Alkitab tetapi tidak hidup sesuai firman Tuhan. Kita bisa mengetahui doktrin yang benar tetapi memperlakukan sesama dengan tidak benar. Kita bisa berbicara tentang kasih Kristus tetapi tidak mampu mengampuni. Karena itu, pengenalan akan Allah harus menghasilkan kasih setia. Semakin kita mengenal Allah yang penuh kasih, seharusnya semakin kita belajar mengasihi. Semakin kita mengenal Allah yang mengampuni, semakin kita belajar mengampuni. Semakin kita mengenal Allah yang setia, semakin kita belajar menjadi orang yang setia. Semakin kita mengenal Allah yang berbelas kasih, semakin kita memiliki hati yang berbelas kasih. Dengan demikian, ukuran kedewasaan iman bukan hanya berapa banyak yang kita ketahui tentang Tuhan, tetapi seberapa jauh pengenalan itu membentuk karakter kita.

 

Keempat, ibadah harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Hosea mengingatkan kita bahwa ada bahaya memisahkan ibadah dari kehidupan. Hari Minggu kita menyanyi, “Kasihilah Tuhan.” Tetapi Senin sampai Sabtu kita sulit mengasihi orang lain. Di gereja kita berbicara tentang persaudaraan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita masih membangun kelompok-kelompok yang saling menjauh. Di gereja kita berbicara tentang pengampunan. Tetapi di rumah kita masih menyimpan luka dan dendam. Di gereja kita mengatakan bahwa semua adalah saudara. Tetapi ketika kepentingan kita terganggu, persaudaraan itu bisa hilang. Hosea berkata, Allah menyukai kasih setia. Artinya, Tuhan menghendaki agar apa yang kita nyatakan dalam ibadah menjadi nyata dalam kehidupan.

 

Pertanyaannya, adalah bagaimanakah cara kita agar memiliki kasih setia dan pengenalan akan Allah? Berikut tujuh langkah praktis yang dapat kita lakukan.

 

Pertama, mengalami kasih Allah agar kita mampu mengasihi. Kita tidak dapat memberikan kasih yang sejati jika kita tidak menyadari betapa besar kasih Allah kepada kita. Allah terlebih dahulu mengasihi, mengampuni, dan menerima kita melalui Yesus Kristus. Ketika seseorang menyakiti kita, jangan langsung membalas. Ingatlah bahwa kita sendiri juga membutuhkan pengampunan Allah. Kita mengasihi bukan supaya Allah mengasihi kita, melainkan karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita.

 

Kedua, mengenal Allah melalui firman dan doa. Pengenalan akan Allah bukan hanya mengetahui banyak ayat Alkitab atau memahami ajaran agama. Pengenalan akan Allah berarti semakin memahami kehendak-Nya, mempercayai karakter-Nya, dan hidup sesuai dengan firman-Nya. Jika kita membaca perintah untuk mengampuni, jangan berhenti pada pemahaman tentang pengampunan. Ambillah langkah nyata untuk berdamai dengan orang yang berselisih dengan kita.Semakin kita mengenal Allah, semakin kehidupan kita dibentuk oleh kehendak-Nya.

 

Ketiga, melakukan kasih dalam tindakan nyata. Kasih setia dalam Hosea 6:6 menggunakan kata Ibrani ḥesed, yang mengandung makna kasih yang teguh, kesetiaan, dan komitmen dalam relasi. Kasih semacam ini bukan sekadar perasaan, melainkan kasih yang diwujudkan dalam tindakan. Jangan hanya berkata, “Saya akan mendoakan Saudara,” tetapi jika memungkinkan, lakukan juga sesuatu yang dapat meringankan bebannya. Kasih setia menjadi nyata ketika kasih itu dapat dirasakan oleh orang lain.

 

Keempat, menjaga kesetiaan ketika keadaan berubah. Dalam Hosea 6:4, Tuhan menggambarkan kasih umat seperti kabut pagi dan embun yang cepat menghilang. Gambaran ini menunjukkan kasih yang tidak bertahan lama. Kita juga dapat mengalami keadaan serupa: rajin berdoa ketika diberkati, tetapi menjauh ketika menghadapi kesulitan; bersemangat melayani ketika dipuji, tetapi kecewa ketika tidak dihargai. Jika kita dipercaya melayani di gereja, lakukanlah dengan sungguh-sungguh, bukan hanya ketika kita mendapat jabatan atau perhatian. Kesetiaan sejati terlihat bukan hanya ketika keadaan menyenangkan, tetapi juga ketika kesetiaan itu menuntut pengorbanan.

 

Kelima, menjadikan ibadah sebagai sumber pembaruan hidup. Hosea 6:6 tidak mengajarkan bahwa ibadah, persembahan, doa, atau pelayanan tidak penting. Yang ditegur Tuhan adalah ibadah yang dipisahkan dari kasih setia dan pengenalan akan Allah. Setiap ibadah seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan semakin mengasihi sesama. Jangan sampai kita menyanyikan lagu tentang kasih Tuhan pada hari Minggu, tetapi sepanjang minggu menyakiti keluarga, merendahkan rekan kerja, atau menyebarkan kebencian. Ibadah yang sejati tidak berhenti di gereja; buahnya terlihat dalam kehidupan.

 

RENUNGAN

Apa yang menjadi perenungan kita dari tema Minggu ini? Ada beberapa perenungan dari tema ini:

 

Pertama, iman kita tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi harus sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan. Firman Tuhan melalui Nabi Hosea mengajak kita memeriksa kembali kehidupan iman kita. Kita hidup pada zaman ketika orang dapat dengan mudah menunjukkan identitas keagamaannya, mengikuti berbagai kegiatan gerejawi, membagikan ayat Alkitab melalui media sosial, dan berbicara tentang kasih Tuhan. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: Apakah semua itu sungguh-sungguh mengubah cara kita memperlakukan sesama? Kita bisa rajin beribadah, tetapi masih menyimpan kebencian. Kita bisa aktif melayani, tetapi masih mencari pujian. Kita bisa berbicara tentang kasih, tetapi sulit mengampuni. Kita bisa memberikan persembahan, tetapi menutup mata terhadap orang yang membutuhkan pertolongan.Inilah yang menjadi teguran Hosea bagi umat Allah. Tuhan tidak sedang meniadakan pentingnya ibadah dan persembahan. Tuhan menegaskan bahwa ibadah harus disertai hati yang setia dan kehidupan yang mencerminkan kehendak-Nya.  Jangan sampai kita terlihat dekat dengan Tuhan dalam ibadah, tetapi jauh dari kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kedua, Tuhan menghendaki kejujuran dan kesetiaan. Kita hidup dalam masyarakat yang membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya. Ketidakjujuran, penyalah-gunaan kepercayaan, manipulasi, fitnah, dan kepentingan pribadi dapat merusak hubungan keluarga, pekerjaan, pelayanan, bahkan kehidupan bermasyarakat. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kasih setia bukan sekadar perkataan, melainkan komitmen untuk melakukan yang benar.

·       Dalam pekerjaan, kita berlaku jujur sekalipun tidak diawasi.

·       Dalam pelayanan, kita tidak menggunakan jabatan demi keuntungan pribadi.

·       Dalam pergaulan, kita menjaga perkataan dan tidak merusak nama baik orang lain.

·       Dalam kehidupan bermasyarakat, kita menghormati hak orang lain dan bertanggung jawab atas tindakan kita.

Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi juga orang yang kehidupannya dapat dipercaya.

 

Ketiga, Tuhan menghendaki pengenalan yang mengubah hidup. Kita mungkin sudah lama menjadi anggota gereja, terbiasa mengikuti ibadah, memahami ajaran Kristen, bahkan aktif dalam berbagai pelayanan. Namun, lamanya kita menjadi orang Kristen tidak otomatis berarti kita semakin mengenal Allah. Pengenalan akan Allah bertumbuh ketika kita mendengarkan firman-Nya, berdoa, menaati kehendak-Nya, dan membiarkan Roh Kudus membarui karakter kita. Orang yang semakin mengenal Allah seharusnya semakin rendah hati, semakin jujur, semakin sabar, dan semakin peduli kepada orang lain. Kedewasaan iman tidak hanya diukur dari pengetahuan Alkitab atau banyaknya kegiatan pelayanan, tetapi juga dari perubahan karakter dan buah kehidupan yang dihasilkan.

 

Keempat, kasih setia harus terlihat di ruang digital. Media sosial memberi kita kesempatan untuk menyebarkan kebaikan, tetapi juga dapat menjadi tempat menyebarkan kebencian, fitnah, penghinaan, dan informasi yang belum teruji kebenarannya. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menerapkan kasih setia juga ketika menggunakan teknologi.

·       Memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.

·       Tidak menghina orang yang berbeda pendapat.

·       Tidak menggunakan media sosial untuk mempermalukan atau menyerang sesama.

·       Memakai teknologi untuk menguatkan, mengajar, melayani, dan menyebarkan hal-hal yang membangun.

Iman kita tidak berhenti ketika meninggalkan gedung gereja. Iman juga terlihat dari apa yang kita tulis, bagikan, dan lakukan di ruang digital.

 

Kiranya pada Minggu XIX Setelah Trinitatis ini, kita semakin mengenal Allah, semakin setia kepada-Nya, dan semakin nyata menjadi berkat bagi sesama. (rsnh)

Selamat beribadah dan menikmati lawatan TUHAN

Komentar