Renungan hari ini: “TUHAN TETAP ADIL DI TENGAH KETIDAKADILAN” (Zefanya 3:5 - TB2)
“TUHAN TETAP ADIL DI TENGAH KETIDAKADILAN”
Zefanya 3:5 (TB2) “Tetapi TUHAN adil di tengah-tengahnya, Ia tidakmelakukan kelaliman. Pagi demi pagi Ia memberi hukum-Nya; di maktu fajar tidak pernah alai. Tetapi, orang lalim tidak kenal malu!”
Zephaniah 3:5 (NET) “The just Lord resides within her; he commits no unjust acts. Every morning he reveals his justice. At dawn he appears without fail. Yet the unjust know no shame”
Nas hari ini menyatakan bahwa “TUHAN Tetap Adil di Tengah Ketidakadilan”. Zefanya 3:5 menyampaikan sebuah kontras yang sangat kuat. Di satu sisi terdapat TUHAN yang adil, benar, dan setia; di sisi lain terdapat manusia yang melakukan kelaliman dan bahkan tidak lagi merasa malu terhadap kejahatannya.
Situasi seperti ini sesungguhnya tidak jauh dari kehidupan manusia sekarang. Kita dapat menyaksikan ketidakjujuran, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan, keserakahan, serta berbagai bentuk kejahatan. Yang lebih memprihatinkan, sesuatu yang salah kadang-kadang dilakukan berulang-ulang sampai dianggap biasa. Di tengah keadaan seperti itu, Zefanya memberikan sebuah kepastian: TUHAN tetap adil.
Beberapa perenungan dari nas ini adalah:
Pertama, TUHAN tetap adil di tengah dunia yang tidak adil. Zefanya menyampaikan firman Tuhan dalam situasi ketika kehidupan umat dan para pemimpinnya telah mengalami kerusakan moral. Di tengah keadaan seperti itu, ada satu kepastian: TUHAN tetap adil. Manusia dapat berlaku tidak adil, tetapi keadilan Allah tidak berubah. Manusia dapat menyalahgunakan kekuasaan, tetapi Allah tidak pernah menyalahgunakan kuasa-Nya. Manusia dapat memutarbalikkan kebenaran, tetapi Allah tetap benar. Ini menjadi penghiburan bagi kita. Ketika kita mengalami ketidakadilan dan merasa bahwa kebenaran seolah-olah kalah, kita tidak boleh kehilangan iman. Keadilan manusia dapat gagal, tetapi keadilan Tuhan tidak pernah gagal.
Kedua, TUHAN setia memberikan firman-nya “Pagi demi Pagi”. Zefanya mengatakan: “Pagi demi pagi Ia memberi hukum-Nya; di waktu fajar tidak pernah lalai.” Ungkapan ini menggambarkan kesetiaan Tuhan yang terus-menerus. Tuhan tidak memberikan kebenaran hanya sesekali. Ia terus menyatakan kehendak-Nya dan memberikan kesempatan kepada umat-Nya untuk bertobat serta hidup benar. “Pagi demi pagi” juga mengingatkan kita bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk mendengar Tuhan dan memperbaiki kehidupan. Kemarin mungkin kita gagal. Kemarin mungkin kita jatuh dalam kesalahan. Kemarin mungkin kita mengambil keputusan yang keliru. Tetapi ketika Tuhan memberikan kita hari yang baru, Ia juga memberikan kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Firman Tuhan menjadi kompas bagi kehidupan: menunjukkan arah, mengoreksi langkah, dan membentuk karakter kita.
Ketiga, jangan kehilangan rasa malu terhadap dosa. Bagian terakhir sangat tajam: “Tetapi, orang lalim tidak kenal malu!” Masalah manusia bukan hanya melakukan kejahatan, tetapi kehilangan kepekaan terhadap kejahatan itu sendiri. Ketika dosa dilakukan terus-menerus, hati manusia dapat menjadi keras. Yang salah dianggap biasa. Ketidakjujuran dianggap strategi. Keserakahan dianggap keberhasilan. Penyalahgunaan kekuasaan dianggap kewajaran. Bahkan dosa dapat dibenarkan dengan berbagai alasan. Orang yang takut akan Tuhan bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Ia adalah orang yang ketika menyadari kesalahannya, mau mengaku, bertobat, dan berubah.Kita membutuhkan hati yang lembut terhadap teguran Tuhan. Jangan sampai kita lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan integritas; lebih takut kehilangan keuntungan daripada kehilangan kejujuran; dan lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan.
Dengan demikian, pesan Zefanya bukan hanya tentang siapa yang salah di luar diri kita, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup di hadapan Tuhan. Di tengah dunia yang tidak selalu adil, jadilah orang yang tetap hidup adil. Di tengah dunia yang semakin jauh dari firman, tetaplah mendengar firman. Di tengah dunia yang kehilangan rasa malu terhadap dosa, jagalah hati tetap takut akan Tuhan. Karena itu, Sebab TUHAN itu adil, firman-Nya setia, dan Ia tidak pernah lalai mengerjakan kehendak-Nya. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar