Renungan hari ini: “TERANG YANG MENERANGI DUNIA” (Wahyu 21:6 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

“TERANG YANG MENERANGI DUNIA”


 

Wahyu 21:6 (TB2) Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Akulah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan”

 

Revelation 21:6 (NET) “He also said to me, “It is done! I am the Alpha and the Omega, the beginning and the end. To the one who is thirsty I will give water free of charge from the spring of the water of life”

 

Nas hari ini berbicara mengenai “Kepastian di Balik Sang Awal dan Sang Akhir.” Kitab Wahyu ditutup dengan sebuah penglihatan yang luar biasa tentang langit yang baru dan bumi yang baru. Di tengah kemuliaan itu, Tuhan sendiri berbicara dari takhta-Nya untuk memberikan jaminan kepada umat-Nya. Pesan ini bukan hanya untuk masa depan yang jauh, tetapi juga untuk kita yang hidup di masa kini yang penuh ketidakpastian.

 

Ada tiga kebenaran agung yang bisa kita pelajari dari nas ini:

 

Pertama, kepastian rencana Allah ("Semuanya Telah Terjadi"). Kalimat "Semuanya telah terjadi" atau dalam bahasa Inggris "It is done" adalah sebuah proklamasi kemenangan. Tuhan ingin kita tahu bahwa rencana keselamatan-Nya bukanlah sebuah spekulasi, melainkan sebuah kepastian. Sebagaimana Ia telah menyelesaikan karya penebusan di kayu salib (ketika Yesus berkata "Sudah Selesai"), Ia juga akan menyelesaikan sejarah dunia ini dengan kemenangan bagi orang percaya. Apa pun yang kita alami hari ini, akhir ceritanya sudah ditulis oleh Allah, dan akhir itu adalah kemenangan.

 

Kedua, kedaulatan Sang Alfa dan Omega. Dengan menyebut Diri-Nya sebagai "Alfa dan Omega" (huruf pertama dan terakhir dalam abjad Yunani), Tuhan menyatakan bahwa Ia berkuasa atas seluruh rentang waktu. Ia adalah Sang Pencipta (Awal) dan Sang Hakim serta Penggenap (Akhir). Jika Tuhan memegang awal dan akhir, maka Ia pasti juga memegang segala sesuatu yang ada di antaranya—termasuk hari-hari sulit yang kita lalui. Tidak ada satu detik pun dalam hidup kita yang berada di luar kendali Sang Alfa dan Omega.

 

Ketiga, anugerah bagi jiwa yang haus. Di tengah keagungan-Nya, Tuhan menunjukkan sisi kasih-Nya yang lembut. Ia memanggil mereka yang "haus". Haus di sini menggambarkan jiwa yang merindukan kebenaran, kedamaian, dan kehadiran Tuhan di tengah dunia yang kering ini. Tuhan menjanjikan "mata air kehidupan" secara cuma-cuma. Kita tidak perlu membeli kepuasan jiwa dengan prestasi atau materi; kita hanya perlu datang kepada-Nya dengan hati yang lapar dan haus akan Allah.

 

Apa relevansi nas ini bagi kita? Berikut adalah tiga poin penting mengenai relevansi nas ini bagi kehidupan kita saat ini:


Pertama, kekuatan untuk bertahan di tengah penderitaan.
 Dunia sering kali terasa sangat kacau karena perang, bencana, atau masalah pribadi. Banyak orang bertanya, "Kapan semua ini akan berakhir?" Proklamasi "Semuanya telah terjadi" memberikan harapan bahwa penderitaan tidak akan selamanya. Ada titik akhir di mana air mata akan dihapus. Relevansinya adalah kita memiliki daya tahan (resiliensi) untuk terus maju karena kita tahu bahwa kegelapan saat ini bukanlah akhir dari segalanya.

 

Kedua, penawar bagi rasa haus akan makna hidup. Banyak orang modern merasa hampa meskipun memiliki segalanya secara materi. Mereka terus mengejar hobi, karier, atau hiburan untuk mengisi kekosongan batin. Nas ini mengingatkan bahwa haus manusia pada dasarnya adalah haus spiritual yang hanya bisa dipuaskan oleh Penciptanya. Relevansinya adalah ajakan untuk berhenti mengejar hal-hal yang tidak memuaskan dan kembali membangun persekutuan dengan Tuhan sebagai satu-satunya "Mata Air" yang bisa memberi makna sejati pada hidup kita.

 

Ketiga, kepastian akan Anugerah yang cuma-cuma (Gratis). Di dunia yang menuntut prestasi dan segala sesuatu harus "dibayar" dengan kerja keras (budaya performance), janji "cuma-cuma" dari Tuhan sangatlah kontras. Keselamatan dan kepuasan batin bukanlah hasil dari usaha keras kita untuk menjadi sempurna, melainkan hadiah dari Tuhan. Relevansinya adalah kemerdekaan bagi orang percaya. Kita tidak perlu merasa tertekan untuk "membeli" kasih Allah. Karena itu, kita hanya perlu datang apa adanya dengan kerendahan hati untuk menerima apa yang telah Tuhan sediakan bagi kita. (rsnh)

 

Selamat memulai karya dalam Minggu ini untuk TUHAN

Komentar