Renungan hari ini: “SATU BAPA, SATU ALLAH, SATU KELUARGA” (Maleakhi 2:10 - TB2)
“SATU BAPA, SATU ALLAH, SATU KELUARGA”
Maleakhi 2:10 (TB2) “Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa? Bukankah kita diciptakan satu Allah? Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain sehingga menajiskan perjanjian nenek moyang kita?”
Malachi 2:10 (NET) “Do we not all have one father? Did not one God create us? Why do we betray one another, in this way making light of the covenant of our ancestors?”
Nas hari ini menegaskan bahwa kita memiliki “Satu Bapa, Satu Allah, Satu Keluarga”. Maleakhi 2:10 mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi sekaligus sangat tajam: Jika kita mempunyai satu Bapa dan diciptakan oleh satu Allah, mengapa kita saling berkhianat? Pertanyaan ini muncul dalam konteks kehidupan umat Israel yang mengalami kerusakan dalam relasi. Mereka tetap menjalankan kehidupan keagamaan, tetapi hubungan mereka satu dengan yang lain mengalami ketidaksetiaan. Tuhan melalui Maleakhi mengingatkan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kesetiaan kepada sesama.
Kita dapat rajin beribadah, aktif dalam pelayanan, dan banyak berbicara tentang Tuhan. Tetapi semuanya menjadi tidak bermakna apabila pada saat yang sama kita menyakiti, menipu, mengkhianati, atau merendahkan sesama.
Ada tiga hal penting yang dapat kita renungkan.
Pertama, kita mempunyai Satu Bapa: Karena itu kita adalah saudara. Maleakhi memulai dengan pertanyaan:“Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa?” Pertanyaan ini mengingatkan umat bahwa mereka mempunyai identitas bersama. Mereka bukan kumpulan manusia yang hidup tanpa hubungan. Mereka adalah umat yang berasal dari satu Allah dan berada dalam satu perjanjian. Dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, identitas ini juga sangat penting. Kita mungkin berbeda dalam latar belakang, karakter, usia, pendidikan, status sosial, kemampuan, suku, atau tugas pelayanan. Namun di hadapan Tuhan, kita mempunyai satu Bapa. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh atau merendahkan. Kita berbeda, tetapi kita berasal dari Tuhan yang sama. Dalam keluarga, perbedaan karakter tidak boleh menghancurkan kasih. Dalam gereja, perbedaan pendapat tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Dalam pelayanan, perbedaan tugas tidak boleh melahirkan persaingan yang tidak sehat. Kesadaran bahwa kita mempunyai satu Bapa seharusnya membuat kita melihat orang lain bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai saudara yang sama-sama dikasihi Allah.
Kedua, Satu Allah memanggil kita untuk hidup dalam kesatuan. Maleakhi melanjutkan: “Bukankah kita diciptakan satu Allah?” Ada satu Allah yang menciptakan dan memelihara kehidupan kita. Artinya, kehidupan manusia tidak berdiri sendiri. Kita saling berhubungan dan saling membutuhkan. Kesatuan bukan berarti semua orang harus sama. Kesatuan berarti perbedaan dapat hidup dalam kasih karena memiliki pusat yang sama, yaitu Allah. Ini sangat penting dalam kehidupan gereja. Gereja tidak dibangun berdasarkan kehebatan satu orang. Gereja adalah tubuh Kristus yang terdiri dari banyak anggota dengan karunia yang berbeda. Ada yang berkhotbah. Ada yang mengajar. Ada yang memimpin. Ada yang melayani diakonia. Ada yang bekerja di belakang layar. Ada yang melayani anak-anak. Ada yang melayani generasi muda. Ada yang berdoa dalam keheningan. Semuanya memiliki tempat dalam karya Tuhan. Jangan mengukur nilai seseorang hanya berdasarkan posisi atau jabatan pelayanan. Di hadapan Tuhan, setiap orang mempunyai martabat karena diciptakan oleh Allah. Ketika kita memahami hal ini, kita akan lebih mudah menghormati sesama, mendengar pendapat orang lain, bekerja sama, dan membangun kehidupan bersama.
Ketiga, jangan berkhianat kepada sesame. Pertanyaan Tuhan kemudian menjadi sangat tajam: “Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain...?” Kata “berkhianat” menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar konflik biasa. Ada ketidaksetiaan terhadap hubungan dan perjanjian yang seharusnya dijaga. Ini mengingatkan kita bahwa dosa kepada Tuhan sering kali terlihat melalui cara kita memperlakukan sesama. Kita tidak dapat berkata: “Saya mengasihi Tuhan, tetapi saya bebas menyakiti saudara saya.” Kita tidak dapat berkata: “Saya setia kepada Tuhan, tetapi saya tidak peduli apakah perkataan saya menghancurkan orang lain.” Kesetiaan kepada Tuhan harus terlihat dalam integritas hubungan kita dengan sesama. Berhati-hatilah dengan pengkhianatan yang mungkin tampak kecil: janji yang sengaja tidak ditepati, kepercayaan yang disalahgunakan, perkataan yang membocorkan rahasia, fitnah dan gosip, manipulasi,ketidakjujuran, mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain, atau menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.Semua itu merusak relasi dan bertentangan dengan kehendak Allah. Tuhan memanggil kita untuk menjadi orang yang dapat dipercaya. Jika kita berjanji, kita berusaha menepatinya. Jika kita dipercaya, kita menjaga kepercayaan itu.Jika kita melakukan kesalahan, kita berani mengakuinya. Jika kita menyakiti orang lain, kita bersedia meminta maaf. Jika terjadi konflik, kita mencari jalan rekonsiliasi.
Maleakhi 2:10 sangat relevan bagi kehidupan gereja dan pelayanan. Sebuah gereja dapat memiliki program yang banyak, struktur organisasi yang baik, dan kegiatan pelayanan yang aktif. Tetapi jika hubungan antaranggota dipenuhi kecurigaan, persaingan, iri hati, dan pengkhianatan, maka kesaksian gereja akan mengalami luka. Karena itu, gereja membutuhkan bukan hanya program yang baik, tetapi juga relasi yang sehat. Pelayanan harus dibangun di atas: kejujuran, kepercayaan, kasih, saling menghormati, kesediaan mengampuni, dan semangat bekerja bersama. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar