Renungan hari ini: “KUATKAN HATI DAN BEKERJALAH, SEBAB TUHAN MENYERTAI” (Hagai 2:5 - TB2)
“KUATKAN HATI DAN BEKERJALAH, SEBAB TUHAN MENYERTAI”
Hagai 2:5 (TB2) “Sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN. Kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam”
Haggai 2:4 (NET) “Even so, take heart, Zerubbabel,’ says the Lord. ‘Take heart, Joshua son of Jehozadak, the high priest, and all you citizens of the land,’ says the Lord, ‘and begin to work. For I am with you,’ says the Lord who rules over all”
Nas hari ini mengajak kita untuk “Kuatkan Hati dan Bekerjalah, Sebab Tuhan Menyertai”. Ada masa ketika kita merasa lelah dalam menjalankan tanggung jawab. Semangat yang dahulu menyala mulai redup. Apa yang dikerjakan terasa berat, hasilnya belum terlihat, bahkan muncul pertanyaan: “Apakah pekerjaan ini masih perlu diteruskan?”
Situasi seperti inilah yang menjadi latar belakang pelayanan Nabi Hagai. Setelah kembali dari pembuangan Babel, bangsa Israel menghadapi tugas besar untuk membangun kembali Bait Allah. Mereka telah memulai pekerjaan itu, tetapi menghadapi berbagai kesulitan dan kekecewaan.
Di tengah keadaan tersebut, Tuhan memberikan pesan yang sangat kuat: “Kuatkanlah hatimu... bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu.” Ayat ini bukan sekadar ajakan untuk bekerja keras. Ini adalah panggilan untuk bekerja dengan keberanian karena yakin bahwa Tuhan hadir dan menyertai umat-Nya.
Ada beberapa hal yang menjadi perengan dari nas ini:
Pertama, “Kuatkanlah Hatimu” — Jangan menyerah karena keadaan Tuhan tiga kali mengatakan: “Kuatkanlah hatimu...” Kepada Zerubabel, pemimpin pemerintahan.
Kepada Yosua, imam besar. Dan kepada seluruh rakyat negeri. Ini menunjukkan bahwa seluruh komunitas membutuhkan penguatan. Bukan hanya pemimpin, bukan hanya imam, tetapi semua orang. Mengapa mereka perlu dikuatkan? Karena kenyataan di depan mata tidak mudah. Mereka sedang membangun kembali sesuatu yang pernah hancur. Mereka harus memulai dari keadaan yang jauh dari ideal. Sering kali kita juga mengalami hal yang sama. Kita melihat apa yang kurang, bukan apa yang Tuhan sudah kerjakan. Kita membandingkan keadaan sekarang dengan masa lalu. Kita melihat kelemahan diri dan besarnya tantangan sehingga kehilangan keberanian. Tetapi Tuhan berkata: “Kuatkanlah hatimu!” Artinya, jangan biarkan keadaan menentukan iman kita. Kekuatan hati bukan berarti tidak mempunyai masalah. Kekuatan hati berarti tetap percaya kepada Tuhan di tengah masalah.
Kedua, “Bekerjalah” — Iman harus diwujudkan dalam tindakan. Setelah mengatakan “kuatkanlah hatimu”, Tuhan memberikan perintah: “Bekerjalah...” Ini sangat penting. Tuhan tidak hanya berkata, “Tenanglah, Aku akan mengerjakan semuanya.” Sebaliknya, Tuhan berkata: “Bekerjalah.” Ada bagian yang harus dilakukan manusia. Iman tidak berarti pasif. Percaya kepada penyertaan Tuhan justru memberi keberanian untuk bertindak. Jika kita berdoa agar pelayanan gereja bertumbuh, kita juga harus bekerja. Jika kita berdoa agar keluarga menjadi semakin baik, kita juga harus membangun komunikasi, kasih, dan pengampunan. Jika kita berdoa agar lembaga berkembang, kita juga harus melakukan perencanaan, pembaruan, disiplin, dan kerja sama. Jika kita berdoa agar masyarakat menjadi lebih baik, kita juga harus mengambil bagian dalam menghadirkan kebaikan itu. Doa tanpa tindakan dapat menjadi pasif; tindakan tanpa Tuhan dapat menjadi kesombongan. Tetapi doa yang disertai tindakan menjadi bentuk ketaatan kepada Tuhan.
Ketiga, “Aku Ini Menyertai Kamu” — Dasar keberanian kita. Inilah inti dari pesan Tuhan: “Sebab Aku ini menyertai kamu.” Perintah “bekerjalah” memiliki dasar pada janji “Aku menyertai kamu.” Tuhan tidak menyuruh umat-Nya bekerja sendirian. Inilah yang membedakan pekerjaan yang dilakukan dengan iman dari sekadar ambisi manusia. Kita mungkin tidak mengetahui bagaimana hasil akhirnya. Kita mungkin menghadapi keterbatasan sumber daya. Kita mungkin merasa kemampuan kita tidak cukup. Tetapi penyertaan Tuhan memberikan keberanian untuk terus melangkah. Perhatikan juga bahwa Tuhan berkata kepada tiga kelompok: pemimpin pemerintahan, pemimpin keagamaan, dan seluruh rakyat. Artinya, pekerjaan Tuhan membutuhkan keterlibatan bersama. Zerubabel tidak bekerja sendirian.Yosua tidak bekerja sendirian. Rakyat juga tidak bekerja sendirian. Demikian pula gereja dan lembaga Kristen. Pekerjaan besar tidak dapat dibangun oleh satu orang. Dibutuhkan pemimpin, pelayan, warga jemaat, generasi muda, keluarga, dan seluruh komunitas untuk bersama-sama mengerjakan panggilan Tuhan.
Pesan Hagai sangat relevan bagi gereja masa kini. Gereja dapat menghadapi berbagai tantangan: perubahan zaman, perkembangan teknologi, perubahan generasi, keterbatasan sumber daya, persoalan internal, dan kebutuhan pelayanan yang semakin kompleks. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak dipanggil untuk takut dan menyerah. Pesan Tuhan tetap: “Kuatkanlah hatimu.” Kemudian: “Bekerjalah.” Dan dasar semuanya: “Aku ini menyertai kamu.” Karena itu, gereja perlu memiliki keberanian untuk bergerak, kesediaan untuk bekerja, dan iman kepada penyertaan Tuhan. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar