Renungan hari ini: “BERDOALAH SETIAP WAKTU DI DALAM ROH” (Efesus 6:18 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

“BERDOALAH SETIAP WAKTU DI DALAM ROH”


 

Efesus 6:18 (TB2) “Dengan segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang Kudus”

 

Ephesians 6:18 (NET) “With every prayer and petition, pray at all times in the Spirit, and to this end be alert, with all perseverance and requests for all the saints”

 

Nas hari ini mengingatkan kita untuk “Berdoalah Setiap Waktu Di Dalam Roh”. Doa sering kali dipahami hanya sebagai kegiatan yang dilakukan ketika kita mempunyai kebutuhan. Ketika menghadapi persoalan, kita berdoa. Ketika sakit, kita berdoa. Ketika mempunyai pergumulan, kita berdoa. Namun, Efesus 6:18 memperlihatkan bahwa doa bukan sekadar respons terhadap masalah, melainkan cara hidup orang percaya.

 

Nasihat Paulus ini terdapat pada bagian akhir surat Efesus, khususnya dalam pembicaraan mengenai perlengkapan senjata Allah (Ef. 6:10–17). Setelah Paulus berbicara tentang kebenaran, keadilan, iman, keselamatan, firman Allah, dan perjuangan melawan kuasa-kuasa kegelapan, ia kemudian menegaskan bahwa semuanya harus disertai dengan doa.

 

Dengan kata lain, seorang Kristen tidak dapat menjalani perjuangan imannya hanya dengan mengandalkan kekuatan manusia. Ia membutuhkan kehidupan yang terus terhubung dengan Allah melalui doa.

 

Ada tiga hal penting yang dapat kita renungkan dari Efesus 6:18.

 

Pertama, berdoalah setiap waktu. Paulus berkata: “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh.” “Setiap waktu” bukan berarti kita harus terus-menerus mengucapkan kata-kata doa sepanjang hari. Maksudnya adalah bahwa kehidupan orang percaya harus senantiasa berada dalam sikap bergantung kepada Allah. Doa bukan hanya aktivitas pada pagi dan malam hari. Doa harus menjadi napas kehidupan rohani kita. Ketika bekerja, kita membutuhkan doa. Ketika mengambil keputusan, kita membutuhkan doa. Ketika menghadapi persoalan keluarga, kita membutuhkan doa. Ketika melayani Tuhan, kita membutuhkan doa. Ketika berhasil, kita juga membutuhkan doa supaya keberhasilan tidak membuat kita melupakan Tuhan. Sering kali manusia berdoa dengan sungguh-sungguh ketika menghadapi kesulitan, tetapi menjadi lalai ketika keadaan mulai baik. Efesus 6:18 mengingatkan bahwa doa bukan hanya untuk masa krisis, tetapi untuk setiap waktu. Orang yang berdoa setiap waktu belajar mengatakan: “Tuhan, aku membutuhkan-Mu bukan hanya ketika aku tidak berdaya, tetapi juga ketika aku merasa kuat.” Jangan jadikan doa sebagai “jalan terakhir” setelah semua usaha manusia gagal. Jadikan doa sebagai langkah pertama dan dasar dari setiap usaha kita.

 

Kedua, berjaga-jagalah dalam doa. Paulus melanjutkan: “Berjaga-jagalah di dalam doamu itu.” Berdoa dan berjaga-jaga adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Berjaga berarti memiliki kepekaan rohani. Orang yang berjaga tidak hidup sembarangan. Ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya dan menyadari bahwa kehidupan iman memiliki tantangan. Dalam konteks Efesus 6, Paulus sedang berbicara mengenai peperangan rohani. Orang percaya tidak boleh hidup dalam kelengahan. Ada banyak hal yang dapat melemahkan kehidupan rohani kita: kesibukan, kenyamanan, kekhawatiran, godaan, konflik, kekecewaan, bahkan keberhasilan. Kadang-kadang kita tidak meninggalkan Tuhan secara langsung. Kita hanya menjadi terlalu sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk Tuhan. Doa membuat kita peka terhadap suara Tuhan, sedangkan kewaspadaan membuat kita tidak mudah jatuh dalam pencobaan. Jangan hanya berdoa agar Tuhan mengubah keadaan. Berdoalah juga agar Tuhan mengubah dan menjaga hati kita ketika menghadapi keadaan tersebut. Kadang-kadang yang perlu berubah bukan persoalan kita terlebih dahulu, melainkan cara kita menghadapi persoalan itu. Doa memberi kita kekuatan untuk tetap berdiri ketika keadaan tidak mudah.

 

Ketiga, berdoalah untuk semua orang kudus. Bagian terakhir ayat ini mengatakan: “Dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang Kudus.” Ini sangat penting. Doa Kristen tidak boleh berhenti pada kepentingan diri sendiri. Paulus tidak berkata, “Berdoalah terus-menerus untuk dirimu sendiri.” Ia mengatakan agar jemaat berdoa “untuk semua orang Kudus.” Artinya, doa memiliki dimensi komunal dan kasih. Ketika kita berdoa bagi orang lain, kita sedang belajar melihat kehidupan bukan hanya dari kepentingan diri kita sendiri. Kita berdoa bagi mereka yang sedang sakit.  Kita berdoa bagi gereja dan seluruh umat Tuhan. Bahkan ketika seseorang telah menyakiti kita, doa menolong kita untuk tidak dikuasai oleh kebencian. Inilah salah satu kekuatan doa: doa mengubah cara kita memandang orang lain.Ketika kita sungguh-sungguh mendoakan seseorang, kita belajar melihat dia bukan hanya berdasarkan kesalahannya, tetapi sebagai seseorang yang juga membutuhkan kasih karunia Allah. Jangan hanya mempunyai daftar kebutuhan, tetapi milikilah juga daftar nama orang yang kita doakan. Ada orang yang mungkin tidak tahu bahwa namanya setiap hari kita bawa dalam doa. Tetapi Tuhan tahu. Doa yang tidak terlihat oleh manusia dapat menghasilkan sesuatu yang besar di hadapan Tuhan.

 

Efesus 6:18 mengajarkan bahwa kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang harus terus terhubung dengan Allah. Tanpa doa, kita mudah mengandalkan diri sendiri.
Dengan doa, kita belajar mengandalkan Tuhan.
 Doa bukan berarti kita berhenti bekerja. Sebaliknya, doa membuat kita bekerja dengan hati yang benar, keputusan yang bijaksana, dan kekuatan yang berasal dari Tuhan. Karena itu, jangan hanya berdoa ketika membutuhkan pertolongan Tuhan. Berdoalah karena kita membutuhkan Tuhan setiap waktu.(rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar