Renungan hari ini: “ALLAH BERKENAN KEPADA PERTOBATAN” (Yunus 3:10 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

“ALLAH BERKENAN KEPADA PERTOBATAN”


 

Yunus 3:10 (TB2) “Ketika Allah melihat apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, menyesallah Allah atas maalapetaka yang akan dibuat-Nya terhadap mereka seperti yang telah disampaikannya. Ia pun tidak jadi melakukannya”

 

Jonah 3:10 (NET) “When God saw their actions – they turned from their evil way of living! – God relented concerning the judgment he had threatened them with and he did not destroy them”

 

Nas hari ini menegaskan bahwa “Allah berkenan kepada pertobatan”. Kitab Yunus merupakan kisah yang sangat menarik tentang Allah, manusia, dosa, pertobatan, dan kasih karunia. Yunus adalah nabi Tuhan yang diutus untuk pergi ke Niniwe dan menyampaikan berita penghukuman karena kejahatan kota itu telah sampai kepada Tuhan. Namun Yunus tidak menginginkan Niniwe bertobat. Ia justru berharap kota itu dihukum. Tetapi ketika Yunus menyampaikan firman Tuhan, orang-orang Niniwe percaya kepada Allah, merendahkan diri, berpuasa, dan berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat.

 

Yunus 3:10 kemudian menyatakan: “Ketika Allah melihat apa yang mereka lakukan...” Perhatikan bahwa Allah tidak hanya melihat apa yang mereka katakan. Allah melihat perubahan hidup mereka. Di sinilah kita menemukan sebuah kebenaran penting: Pertobatan yang sejati bukan hanya perubahan kata-kata, tetapi perubahan arah hidup. Dan ketika manusia sungguh-sungguh bertobat, kita melihat hati Allah yang penuh belas kasih.

 

Ada beberapa pelajaran penting dari nas ini bagi kita:

 

Pertama, Allah melihat perubahan hidup manusia. Firman Tuhan berkata: “Kaetika Allah melihat apa yang mereka lakukan...” Allah melihat tindakan orang-orang Niniwe. Mereka tidak hanya mengatakan, “Kami menyesal.” Mereka menunjukkan penyesalan itu melalui tindakan. Mereka berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat. Pertobatan bukan sekadar perasaan bersalah. Seseorang dapat merasa bersalah karena akibat dosanya, tetapi belum tentu sungguh-sungguh bertobat. Pertobatan berarti berbalik dari jalan yang salah dan kembali kepada Allah. Ada perbedaan antara: “Saya menyesal karena ketahuan” dan “Saya menyesal karena saya telah berdosa terhadap Allah.” Pertobatan yang sejati menghasilkan perubahan. Karenanya, Tuhan tidak hanya melihat apa yang keluar dari mulut kita ketika berdoa. Tuhan juga melihat bagaimana kita menjalani kehidupan setelah kita berdoa.

 

Kedua, pertobatan berarti berbalik dari jalan yang jahat. Ayat ini berkata: “...bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat...” Inilah inti pertobatan Niniwe. Mereka berbalik. Pertobatan berarti perubahan arah. Jika sebelumnya seseorang berjalan menjauh dari Tuhan, maka pertobatan berarti kembali kepada Tuhan. Jika sebelumnya hidup dalam kebencian, ia belajar mengampuni. Jika sebelumnya hidup dalam ketidakjujuran, ia mulai hidup dalam kebenaran. Jika sebelumnya dikuasai kesombongan, ia belajar merendahkan diri. Jika sebelumnya mengandalkan diri sendiri, ia kembali mengandalkan Tuhan. Pertobatan bukan berarti kita langsung menjadi sempurna. Pertobatan berarti kita memiliki arah hidup yang baru: meninggalkan dosa dan semakin mendekat kepada Tuhan.

 

Ketiga, Allah lebih berkenan kepada pertobatan daripada kehancuran. Hal yang sangat menarik dalam ayat ini adalah: “...menyesallah Allah atas malapetaka yang akan dibuat-Nya terhadap mereka...” Ungkapan ini tidak berarti Allah melakukan kesalahan atau berubah-ubah seperti manusia. Dalam konteks kitab Yunus, bahasa tersebut menggambarkan bahwa Allah menangguhkan penghukuman karena manusia telah merespons dengan pertobatan. Allah yang kudus memang membenci dosa. Tetapi Allah juga adalah Allah yang penuh belas kasih. Sejak awal, tujuan pemberitaan Yunus bukan sekadar agar Niniwe binasa. Peringatan Tuhan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertobat. Dengan kata lain: Peringatan Tuhan adalah kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Kadang-kadang teguran Tuhan terasa keras. Firman Tuhan menyingkapkan dosa kita dan membuat kita tidak nyaman. Tetapi jangan langsung menolak teguran itu. Bisa jadi, teguran tersebut adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari kehancuran yang lebih besar.

 

Keempat, kasih karunia Allah melampaui batas manusia. Yunus mengalami kesulitan menerima kenyataan bahwa Allah mengasihi Niniwe. Mengapa? Karena Niniwe adalah kota yang dikenal sebagai musuh dan sebagai kota yang penuh kejahatan. Dalam pandangan Yunus, mereka layak dihukum. Tetapi kasih karunia Allah ternyata lebih besar daripada batas-batas kasih manusia. Yunus ingin melihat penghukuman. Allah memberikan kesempatan untuk pertobatan. Ini menjadi teguran bagi kita. Kadang-kadang kita mudah berkata: “Dia memang pantas dihukum.” “Dia sudah terlalu banyak melakukan kesalahan.” “Dia tidak layak mendapatkan kesempatan lagi.” Tetapi Tuhan mengingatkan kita bahwa belas kasih-Nya jauh lebih luas daripada belas kasih kita. Jika Tuhan memberikan kesempatan kepada orang yang bertobat, siapakah kita sehingga menutup pintu pengampunan?

 

Kelima, jangan sia-siakan kesempatan untuk bertobat. Niniwe mendapatkan kesempatan. Dan mereka meresponsnya.Ini adalah bagian yang penting bagi kita. Jangan menunggu sampai keadaan menjadi lebih buruk untuk kembali kepada Tuhan. Jika hari ini Roh Kudus menegur kita, dengarkanlah. Jika ada dosa yang harus ditinggalkan, tinggalkanlah. Jika ada orang yang harus kita ampuni, belajarlah mengampuni. Jika ada kesalahan yang harus kita akui, akuilah. Jika ada hubungan yang harus dipulihkan, ambillah langkah untuk berdamai. Jangan berkata: “Nanti saja saya berubah.” Kita tidak pernah mengetahui berapa banyak kesempatan yang masih Tuhan berikan kepada kita. Karenanya, ketika Tuhan memberikan kesempatan untuk bertobat, jangan keraskan hati.

 

Yunus 3:10 mengajarkan kepada kita bahwa Allah melihat hati yang sungguh-sungguh bertobat. Orang-orang Niniwe tidak hanya mendengar firman Tuhan. Mereka meresponsnya. Mereka berbalik dari jalan mereka yang jahat. Dan Tuhan menunjukkan belas kasih-Nya. Hari ini firman Tuhan juga datang kepada kita. Mungkin ada sesuatu dalam hidup kita yang harus ditinggalkan. Mungkin ada kebiasaan dosa yang terus dipelihara. Mungkin ada kepahitan yang belum dilepaskan. Mungkin ada kesombongan yang belum diakui. Mungkin ada hubungan yang rusak dan membutuhkan pemulihan. Jangan keraskan hati.

 

Sebab Tuhan bukan hanya Allah yang menghakimi dosa. Ia juga adalah Allah yang penuh belas kasih dan memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Kiranya kita tidak hanya menjadi orang yang mendengar firman Tuhan, tetapi menjadi orang yang melakukan firman, berbalik dari jalan yang salah, dan hidup dalam kasih karunia-Nya. Karena itu, pertobatan membuka jalan bagi pemulihan, dan kasih karunia Allah memberikan kita kesempatan untuk memulai hidup yang baru. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar