KOTBAH MINGGU XV SETELAH TRINITATIS Minggu, 13 September 2025 “TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMATNYA” (Keluaran 14:19-31)
KOTBAH MINGGU XV SETELAH TRINITATIS
Minggu, 13 September 2025
“TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMATNYA”
Kotbah: Keluaran 14:19-31 Bacaan: 1 Petrus 2:1-10
Ada situasi dalam kehidupan ketika manusia merasa tidak mempunyai jalan keluar. Di belakang ada persoalan yang mengejar. Di depan ada jalan yang tampaknya tertutup. Di kiri dan kanan tidak ada tempat untuk melarikan diri. Dalam keadaan seperti itu, manusia mudah berkata: “Tidak ada lagi jalan.”
Israel mengalami keadaan seperti itu di tepi Laut Teberau. Di belakang mereka ada tentara Mesir. Di depan mereka ada laut. Mereka berada dalam posisi yang secara manusiawi tampaknya mustahil untuk diselamatkan. Tetapi justru dalam situasi seperti itulah kita melihat tema kita: “TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMAT-NYA.”
Keluaran 14 bukan hanya cerita tentang bagaimana Israel menyeberangi laut. Teks ini merupakan kesaksian iman Israel bahwa Allah yang telah memanggil dan membebaskan umat-Nya adalah Allah yang berkuasa menyelesaikan karya keselamatan-Nya.
Pertanyaan kita sekarang, apa yang sedang terjadi secara historis dalam teks ini? Kita perlu terlebih dahulu memahami bahwa Keluaran 14 merupakan bagian dari kisah besar pembebasan Israel dari Mesir.
Sebelumnya, dalam Keluaran 1–12, kita membaca tentang penderitaan Israel di bawah kekuasaan Firaun. Israel menjadi budak dan mengalami penindasan. Allah kemudian memanggil Musa dan menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang mendengar jeritan umat-Nya. Melalui berbagai tulah, Firaun akhirnya mengizinkan Israel keluar.
Namun kebebasan itu belum berarti perjalanan mereka selesai. Mereka keluar dari Mesir, tetapi kemudian menghadapi ancaman baru. Keluaran 14:5 menggambarkan bahwa hati Firaun kembali berubah. Ia menyesal membiarkan Israel pergi dan mengerahkan pasukannya untuk mengejar mereka. Dengan demikian, secara naratif Israel berada dalam krisis kedua: Mereka sudah keluar dari Mesir, tetapi Mesir belum benar-benar berhenti mengejar mereka. Ini penting secara teologis. Kadang-kadang kita berpikir bahwa setelah Tuhan membebaskan kita, semua masalah akan langsung selesai. Tetapi pengalaman Israel menunjukkan hal yang berbeda. Pembebasan dari Tuhan tidak selalu berarti perjalanan tanpa kesulitan. Ada kalanya setelah keluar dari satu persoalan, kita justru menghadapi persoalan yang lain.
Dalam teks Ibrani, istilah yang digunakan adalah Yam Suph, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Laut Teberau/Reed Sea”, bukan secara sederhana “Laut Merah” sebagaimana sering dikenal dalam tradisi populer. Lokasi persis Yam Suph tidak dapat dipastikan secara mutlak. Karenanya, kita perlu berhati-hati dalam menjadikan detail geografis sebagai pusat pemberitaan.
Yang menjadi pusat teks bukanlah pertanyaan: “Di titik geografis mana tepatnya mukjizat itu terjadi?” Melainkan:
“Siapakah Allah yang bertindak ketika umat-Nya tidak memiliki jalan keluar?”
Ada berbagai pendekatan dalam studi biblika mengenai peristiwa ini. Sebagian ahli mencoba memahami fenomena alam yang mungkin berkaitan dengan angin, pasang surut, atau kondisi perairan dangkal. Keluaran 14:21 sendiri mengatakan: “Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras...” Namun bagi penulis dan tradisi iman Israel, penggunaan sarana alam tidak mengurangi tindakan Allah. Justru di sinilah perspektif iman Alkitab berbeda. Allah dapat bekerja melalui tindakan yang luar biasa maupun melalui proses yang tampaknya biasa. Angin bertiup—tetapi Tuhan yang menggunakannya.Air terbelah—tetapi Tuhan yang membuka jalan. Israel berjalan—tetapi Tuhan yang menyelamatkan. Dengan demikian, teks ini tidak mengajak kita memperten-tangkan: “Mukjizat atau proses alam?” Melainkan mengajak kita melihat: Allah adalah Tuhan atas alam dan sejarah.
Ada beberapa pokok penting secara teologis kita pelajari dari tema dan perikop kotbah Minggu ini:
Pertama, Allah hadir di tengah umat-Nya (ay. 19–20). Ayat 19 mengatakan: “Kemudian bergeraklah Malaikat Allah yang berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka...” Perhatikan perubahan posisi. Sebelumnya tiang awan berada di depan untuk memimpin Israel. Sekarang ia bergerak ke belakang. Mengapa? Karena ancaman datang dari belakang. Ini gambaran yang sangat indah tentang pemeliharaan Allah. Tuhan tidak hanya berjalan di depan ketika kita membutuhkan arah. Tuhan juga berdiri di belakang ketika kita membutuhkan perlindungan. Tiang awan menjadi pemisah antara Israel dan Mesir. Bagi Israel, tiang itu memberikan terang. Bagi Mesir, situasi menjadi gelap. Ini menunjukkan bahwa kehadiran Allah mempunyai dimensi keselamatan dan penghakiman. Allah menyertai umat-Nya, tetapi sekaligus berhadapan dengan kekuatan yang menindas umat-Nya. Secara teologis, ini penting. Allah dalam Keluaran bukan Allah yang jauh dari sejarah. Ia bukan Allah yang hanya memberikan perintah dari surga lalu membiarkan umat-Nya berjalan sendiri. Allah hadir. Ia melihat penderitaan. Ia mendengar jeritan. Ia memimpin perjalanan. Ia melindungi umat. Dan Ia bertindak melawan kekuatan penindasan.
Kedua, Tuhan membuka jalan di tempat yang tidak ada jalan (ay. 21–22). Ayat 21 merupakan pusat cerita: “Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras...” Kemudian ayat 22 mengatakan: “Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering...” Di sinilah kita menemukan salah satu gambaran terbesar tentang karya keselamatan Allah dalam Perjanjian Lama: Tuhan membuat jalan di tengah jalan yang tidak mungkin. Israel tidak menemukan jalan itu. Tuhan yang membukanya. Israel tidak menciptakan keselamatan itu. Tuhan yang mengerjakannya. Musa mengulurkan tangannya, tetapi teks berkali-kali menegaskan bahwa TUHAN adalah subjek tindakan. Ini merupakan prinsip penting dalam teologi Keluaran: Keselamatan adalah karya Allah. Israel memang harus berjalan. Tetapi mereka berjalan di jalan yang telah Allah buka. Ini memberikan keseimbangan yang penting antara anugerah dan respons manusia. Kita tidak diselamatkan karena kemampuan kita. Tetapi setelah Tuhan membuka jalan, kita dipanggil untuk berjalan dalam jalan itu.
Ketiga, kekuatan yang menindas tidak memiliki kata terakhir (ay. 23–28). Firaun dan tentaranya mengejar Israel sampai ke tengah laut. Secara historis-teologis, Firaun dalam kitab Keluaran bukan sekadar seorang raja. Ia menjadi simbol dari kekuatan politik yang menindas manusia dan menolak kehendak Allah. Firaun ingin mempertahankan sistem yang menjadikan manusia sebagai budak. Tetapi Allah menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan manusia yang absolut. Ayat 25 mengatakan: “Ia membuat roda kereta mereka berjalan miring sehingga maju dengan berat.” Kemudian orang Mesir berkata: “Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab TUHANlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.” Ini merupakan pengakuan yang sangat penting. Musuh akhirnya menyadari sesuatu yang sebelumnya mereka abaikan: Israel bukan sendirian. Ada Tuhan yang berperang bagi mereka.
Keempat, “Tuhan berperang bagi kamu”. Kita perlu berhenti sejenak pada tema ini. Dalam Keluaran 14, Israel hampir tidak melakukan apa-apa secara militer. Mereka tidak mempunyai tentara yang sebanding dengan Mesir. Mereka tidak mempunyai kereta perang. Mereka tidak mempunyai kekuatan politik. Mereka hanya memiliki satu hal: Tuhan yang menyertai mereka. Inilah sebabnya Musa berkata dalam ayat 14: “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Ini bukan berarti umat Tuhan tidak perlu melakukan apa-apa dalam kehidupan. Tetapi ayat ini berbicara tentang keselamatan yang tidak dapat dihasilkan oleh kekuatan manusia. Ada situasi di mana kemampuan manusia mempunyai batas. Ada masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan uang. Ada penyakit yang tidak dapat kita kendalikan. Ada konflik yang tidak dapat kita selesaikan dengan kekuatan sendiri. Ada masa depan yang tidak dapat kita prediksi. Pada saat seperti itu, iman berkata: “Tuhan akan berperang untuk kita.” Bukan berarti kita pasif. Tetapi kita belajar membedakan: Apa yang menjadi tanggung jawab kita dan apa yang hanya dapat dikerjakan Tuhan. Israel harus berjalan ketika Tuhan membuka jalan. Tetapi mereka tidak dapat membelah laut. Itu pekerjaan Tuhan.
Kelima, keselamatan menghasilkan iman (ay. 29–31). Akhir cerita sangat penting. Ayat 29: “Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.”Dan ayat 30: “Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir.” Perhatikan kata “menyelamatkan.” Israel bukan sekadar “berhasil menyeberang.” Mereka diselamatkan oleh Tuhan. Dan ayat 31 mengatakan: “Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besar perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka pun percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.”
Di sini kita sampai pada inti tema khotbah: Perbuatan besar Tuhan menghasilkan iman umat Tuhan. Mereka melihat. Mereka takut akan Tuhan. Mereka percaya. Jadi mukjizat dalam Alkitab bukan sekadar pertunjukan kekuatan Allah. Mukjizat mempunyai tujuan: supaya umat mengenal siapa Tuhan dan menaruh kepercayaan kepada-Nya.
RENUNGAN DAN IMPLIKASI PRAKTIS BAGI KELUARGA DAN JEMAAT
Apa yang menjadi renungan dan implikasi praktis bagi kehidupan keluarga dan jemaat saat ini?
Pertama, jangan panik ketika berada di jalan buntu. Ketika tidak melihat jalan, bukan berarti Tuhan tidak memiliki jalan. Jalan Tuhan sering kali belum terlihat sebelum Tuhan membukanya. Karena itu jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan ketakutan. Berdoalah. Diamlah sejenak di hadapan Tuhan. Carilah kehendak-Nya.
Kedua, jangan kembali kepada “Mesir”. Israel memang menghadapi kesulitan setelah keluar dari Mesir. Tetapi jangan sampai kesulitan membuat mereka ingin kembali menjadi budak. Ini juga bisa terjadi dalam kehidupan kita. Kadang masa lalu tidak baik, tetapi karena masa depan belum jelas, kita tergoda kembali kepada kebiasaan lama. Kita telah dibebaskan dari dosa, tetapi kembali kepada dosa. Kita telah belajar mengampuni, tetapi kembali menyimpan dendam. Kita telah mengalami kasih karunia, tetapi kembali hidup dalam kepahitan. Firman Tuhan mengingatkan: Jangan kembali kepada kehidupan yang Tuhan telah bebaskan dari kita.
Ketiga, belajarlah membedakan antara “laut yang harus diseberangi” dan “laut yang harus Tuhan belah” Ini pelajaran iman yang sangat praktis. Ada bagian yang harus kita lakukan. Kita harus berjalan. Kita harus bekerja. Kita harus berusaha. Kita harus meminta maaf. Kita harus mencari pertolongan. Kita harus mengambil keputusan dengan bijaksana. Tetapi ada hal-hal yang berada di luar kendali kita. Pada titik itu kita harus berkata: “Tuhan, saya telah melakukan bagian saya. Sekarang saya menyerahkan bagian yang tidak mampu saya lakukan kepada-Mu.” Itulah iman.
Keempat, ingat dan ceritakan perbuatan besar Tuhan. Ayat 31 menunjukkan bahwa pengalaman keselamatan menghasilkan iman. Karena itu keluarga Kristen perlu mempunyai budaya mengingat karya Tuhan. Jangan hanya membicarakan: “Berapa pengeluaran bulan ini?” “Bagaimana masalah kita?” “Siapa yang salah?” Tetapi sesekali duduk bersama dan bertanya: “Apa saja yang Tuhan telah lakukan bagi keluarga kita?” Ini sederhana, tetapi sangat kuat.Anak-anak perlu mendengar kesaksian orang tua. Generasi muda perlu mendengar bagaimana Tuhan memimpin generasi sebelumnya. Gereja perlu mempunyai ingatan tentang karya Allah. Sebab gereja yang lupa karya Tuhan akan mudah kehilangan keberanian menghadapi masa depan.
Keluaran 14 mengajarkan kepada kita bahwa jalan buntu manusia bukan jalan buntu bagi Allah. Israel melihat laut. Tuhan melihat jalan. Israel melihat tentara Mesir. Tuhan melihat kemenangan. Israel melihat kematian. Tuhan sedang mempersiapkan kehidupan. Karena itu tema kita hari ini bukan sekadar sebuah slogan: “TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMAT-NYA.” (rsnh)
Selamat beribadah dan menikmati lawatan TUHAN



Komentar
Posting Komentar