Renungan hari ini: “PEMILIK SEGALANYA: MENGAKUI SUMBER KEBERHASILAN KITA” ( 1 Tawarikh 29:11-12 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

“PEMILIK SEGALANYA: MENGAKUI SUMBER KEBERHASILAN KITA”


 

1 Tawarikh 29:11-12 (TB2) “Ya TUHAN, Engkaulah yang punya kebesaran dan kejayaan, , kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, Engkau yang punya kerajaan dan Engkau yang tertinggi sebagai pemipmpin melebihi segala-galanya. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya. Di dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa untuk membesarkan dan mengokohkan segala-galanya”

 

1 Chronicles 29:11-12 (NET) “O Lord, you are great, mighty, majestic, magnificent, glorious, and sovereign over all the sky and earth! You have dominion and exalt yourself as the ruler of all.
You are the source of wealth and honor; you rule over all. You possess strength and might to magnify and give strength to all”

 

Nas hari ini membahas tema “Pemilik Segalanya: Mengakui Sumber Keberhasilan kita.” Doa ini diucapkan oleh Raja Daud di akhir masa hidupnya, setelah ia dan seluruh rakyat memberikan persembahan dengan sukarela untuk pembangunan Bait Suci. Meskipun Daud adalah raja yang sangat sukses, kaya, dan perkasa, ia tidak menjadi sombong. Sebaliknya, ia tersungkur dalam kekaguman akan kedaulatan Allah.

 

Melalui pengakuan Daud ini, kita belajar tiga kebenaran fundamental tentang hubungan kita dengan Tuhan:

 

Pertama, Allah Pemilik Mutlak (The Ultimate Owner). Daud menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah milik Tuhan. Sering kali kita merasa bahwa apa yang kita miliki—rumah, uang, gelar, atau talenta—adalah hasil jerih payah kita sepenuhnya. Namun, Daud mengingatkan bahwa kita hanyalah "pengelola" (steward) dari apa yang Tuhan titipkan. Kesadaran ini akan mengubah cara kita memandang harta; kita tidak lagi menjadi kikir atau sombong, melainkan bersyukur dan murah hati karena tahu kita sedang mengelola milik Tuhan.

 

Kedua, sumber kekayaan dan kehormatan. Ayat 12 dengan jelas menyatakan bahwa "kekayaan dan kemuliaan berasal daripada-Mu." Dunia mengajarkan bahwa sukses adalah tentang "self-made man" (orang yang berhasil karena dirinya sendiri). Namun, iman mengajarkan bahwa kecerdasan, kesempatan, dan kesehatan yang memungkinkan kita bekerja semuanya adalah pemberian Tuhan. Tanpa izin-Nya, segala usaha kita bisa sirna dalam sekejap. Mengakui Tuhan sebagai sumber berkat membuat kita tetap rendah hati saat berada di "atas" dan tetap berharap saat berada di "bawah".

 

Ketiga, kekuatan untuk membangun dan mengokohkan. Daud mengakui bahwa kuasa untuk "membesarkan dan mengokohkan" ada di tangan Tuhan. Sering kali kita merasa lelah karena mencoba membangun masa depan, karier, atau keluarga dengan kekuatan kita sendiri. Nas ini mengingatkan bahwa Tuhanlah yang memegang kendali atas keberhasilan kita. Jika Ia yang mengokohkan, maka tidak ada badai yang sanggup meruntuhkannya. Keamanan sejati tidak terletak pada jumlah saldo di bank, melainkan pada tangan Tuhan yang berkuasa.

 

Apa relevansi nas ini bagi kita? Berikut adalah tiga poin penting mengenai relevansi nas ini bagi kehidupan kita saat ini:

 

Pertama, mengatasi kesombongan. Di era media sosial yang memicu orang untuk memamerkan pencapaian (flexing), kita sangat mudah terjatuh pada rasa bangga diri yang berlebihan. Nas ini menjadi "obat penawar" terhadap kesombongan. Ia mengingatkan bahwa segala kemasyhuran dan kehebatan yang kita miliki berasal dari luar diri kita, yaitu dari Allah. Relevansinya adalah kita dipanggil untuk tetap rendah hati dan memberikan seluruh pujian kembali kepada Tuhan, bukan menyimpannya untuk diri sendiri.

 

Kedua, memberikan rasa aman di tengah ketidakpastian ekonomi. Banyak orang merasa cemas akan masa depan keuangan atau stabilitas hidupnya. Karena kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan, dan Ia berkuasa atas segala-galanya, maka sumber pemeliharaan kita tidak akan pernah kering. Relevansinya adalah kita diajak untuk tidak menaruh harapan pada harta yang tidak tentu, melainkan pada Allah yang kaya dan murah hati. Jika Tuhan yang "membesarkan dan mengokohkan", maka hidup kita berada di tangan yang paling aman.

 

Ketiga, semangat memberi dan melayani (Stewardship). Sering kali kita merasa berat hati untuk memberi persembahan atau menolong orang lain karena merasa "kehilangan" milik kita. Nas ini mengubah cara pandang kita tentang memberi. Kita tidak memberi dari milik kita, melainkan mengembalikan sebagian dari milik Tuhan yang dititipkan kepada kita. Karena itu, kita bisa memberi dengan sukacita dan tanpa beban, karena kita tahu bahwa Tuhan adalah pemilik sumbernya dan Ia sanggup mencukupkan segala kebutuhan kita kembali. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar