Renungan hari ini: “DOA YANG MENGUTAMAKAN KEMULIAAN TUHAN” (2 Raja-raja 19:19 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

“DOA YANG MENGUTAMAKAN KEMULIAAN TUHAN”


 

2 Raja-raja 19:19 (TB2) Karena itu, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah Allah, ya TUHAN"

 

2 Kings 19:19 (NET) “Now, O Lord our God, rescue us from his power, so that all the kingdoms of the earth will know that you, Lord, are the only God”

 

Nas hari ini bertemakan “Doa yang Mengutamakan Kemuliaan Tuhan.” Nas ini adalah puncak dari doa Raja Hizkia ketika Yerusalem dikepung oleh tentara Asyur yang dipimpin oleh Raja Sanherib. Situasinya sangat terjepit: tentara Asyur sangat kuat, mereka telah menaklukkan banyak bangsa, dan utusan mereka baru saja menghina Tuhan dengan mengatakan bahwa Allah Israel tidak akan mampu menolong Hizkia.

 

Dalam ketakutan yang luar biasa, Hizkia pergi ke Bait Suci, membentangkan surat ancaman itu di hadapan Tuhan, dan berdoa. Dari doanya, kita belajar tentang cara berkomunikasi dengan Tuhan di masa krisis:

 

Pertama, fokus pada Kemuliaan Tuhan, bukan sekadar keselamatan diri. Hizkia memohon keselamatan dari tangan Asyur, tetapi perhatikan alasan atau motivasi di balik permintaannya: “supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah Allah.”Hizkia tidak hanya berkata, "Tuhan, selamatkan aku karena aku takut mati," tetapi ia berkata, "Tuhan, selamatkan kami agar nama-Mu tidak lagi dihina dan dunia tahu bahwa Engkau adalah Allah yang hidup." Saat kita berdoa di tengah masalah, apakah motivasi kita hanya untuk kenyamanan pribadi, atau agar kuasa Tuhan dinyatakan melalui hidup kita?

 

Kedua, mengakui Kedaulatan Allah di atas segala kekuatan dunia. Sanherib menyombongkan kekuatannya dan mengejek bahwa dewa-dewa bangsa lain tidak bisa menolong mereka. Hizkia mengakui kebenaran itu—bahwa dewa-dewa bangsa lain memang hancur karena mereka hanyalah buatan tangan manusia. Namun, Hizkia menegaskan perbedaan yang kontras: Tuhan yang ia sembah adalah Pencipta langit dan bumi. Nas ini mengingatkan kita bahwa sebesar apa pun "Asyur" (masalah, penyakit, ancaman) yang mengepung kita, itu semua tetap berada di bawah kedaulatan Allah yang sejati.

 

Ketiga, masalah sebagai panggung kesaksian. Bagi Hizkia, pengepungan tentara Asyur bukan sekadar bencana, melainkan kesempatan bagi Tuhan untuk menunjukkan siapa Diri-Nya kepada dunia. Sering kali kita melihat masalah sebagai penghalang, tetapi nas ini mengajar kita untuk melihat masalah sebagai panggung di mana kesetiaan dan kuasa Tuhan akan dipentaskan. Ketika Tuhan menolong kita keluar dari situasi yang mustahil, tujuannya adalah agar orang lain melihat dan mengenal Tuhan melalui pengalaman kita.

 

Apa relevansi nas ini bagi kita? Berikut adalah tiga poin penting mengenai relevansi nas ini bagi kehidupan kita saat ini:

 

Pertama, mengubah cara kita berdoa di tengah krisis. Relevansi yang paling praktis adalah tentang motivasi doa. Banyak dari kita berdoa dengan cara yang "ego-sentris" (berpusat pada diri sendiri). Hizkia mengajarkan doa yang "Deo-sentris" (berpusat pada Allah). Ketika kita berdoa untuk kesembuhan, pekerjaan, atau masalah keluarga, tambahkanlah kerinduan ini: "Tuhan, pakailah kesembuhanku atau keberhasilanku ini agar orang lain tahu bahwa Engkau adalah Allah yang setia." Doa seperti ini menyelaraskan kehendak kita dengan rencana besar Tuhan.

 

Kedua, menghadapi intimidasi dan suara-suara dunia. Saat ini, kita sering diintimidasi oleh "suara-suara Sanherib"—suara yang mengatakan bahwa iman kita sia-sia, bahwa masalah kita tidak ada obatnya, atau bahwa mengikuti Tuhan tidak menjamin kesuksesan. Nas ini relevan sebagai senjata rohani melawan intimidasi. Kita diingatkan untuk tidak fokus pada besarnya ancaman, tetapi pada besarnya Allah yang kita sembah. Sebagaimana Hizkia tidak membalas hinaan Sanherib dengan kata-kata tetapi dengan doa, kita pun diajak untuk membawa setiap "ancaman" dunia langsung ke hadapan Tuhan.

 

Ketiga, menyadari peran kita sebagai saksi Tuhan. Kita hidup di dunia yang semakin skeptis terhadap keberadaan dan kuasa Tuhan. Hidup kita adalah "surat terbuka" bagi dunia. Relevansi nas ini adalah panggilan untuk menyadari bahwa setiap mukjizat atau pertolongan yang kita terima dari Tuhan bukan untuk kita simpan sendiri. Karena itu, Tuhan menolong kita supaya kerajaan-kerajaan dunia (lingkungan sosial, pekerjaan, teman-teman kita yang belum percaya) mengetahui bahwa Ia adalah satu-satunya Allah. Masalah kita adalah kesempatan misi bagi kemuliaan nama Tuhan. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar