Renungan hari ini: “PEMIMPIN YANG BERHATI GEMBALA” (Bilangan 27:16-17 - TB2)

Renungan hari ini:

 

“PEMIMPIN YANG BERHATI GEMBALA”


 

Bilangan 27:16-17 (TB2) "Biarlah TUHAN, Allah dari roh segala makhluk, mengangkat atas umat ini seorang yang bread di depan mereka ketika berangkat perang dan pulang dan yang memberangkatkan mereka serta memulangkan mereka, supaya umat TUHAN jangan seperti domba yang tidak mempunyai gembala"

 

Numbers 27:16-17 (NET) “Let the Lord, the God of the spirits of all humankind, appoint a man over the community, who will go out before them, and who will come in before them, and who will lead them out, and who will bring them in, so that the community of the Lord may not be like sheep that have no shepherd.”

 

Nas hari ini berbicara mengenai “Pemimpin yang Berhati Gembala”. Salah satu tanda kedewasaan rohani seseorang terlihat dari apa yang ia khawatirkan saat ia akan melepaskan jabatannya atau saat ia berada di akhir masa tugasnya. Dalam nas ini, kita melihat profil Musa yang luar biasa. Musa tahu bahwa waktunya sudah hampir habis; ia tidak akan masuk ke Tanah Perjanjian. Namun, alih-alih memikirkan kepentingannya sendiri, warisannya, atau nasib keluarganya, Musa justru memohon kepada Tuhan untuk masa depan umat yang dipimpinnya.

 

Dari doa Musa ini, kita belajar tiga prinsip penting tentang kepemimpinan dan penyertaan Tuhan:

 

Pertama, pengakuan akan Kedaulatan Tuhan. Musa menyapa Allah sebagai "TUHAN, Allah dari roh segala makhluk." Ini adalah pengakuan bahwa Tuhanlah yang paling mengenal hati manusia. Musa sadar bahwa memilih pemimpin bukan soal popularitas atau kemampuan fisik semata, melainkan soal ketetapan Tuhan yang tahu persis siapa yang memiliki roh yang tepat untuk memimpin umat-Nya. Kita diingatkan bahwa dalam mencari pemimpin—baik dalam gereja, keluarga, maupun pekerjaan—kita harus bergantung sepenuhnya pada hikmat Tuhan.

 

Kedua, pemimpin yang berada di depan (Keteladanan). Musa meminta seorang pemimpin yang "berada di depan mereka ketika berangkat... dan pulang." Seorang pemimpin sejati tidak hanya memerintah dari belakang atau sekadar memberi instruksi. Ia adalah orang yang berani mengambil risiko, berjalan paling depan untuk membuka jalan, dan memastikan semua anggotanya pulang dengan selamat. Ini adalah model kepemimpinan yang melayani dan melindungi, sebuah keteladanan yang nantinya secara sempurna ditunjukkan oleh Yesus Kristus.

 

Ketiga, bahaya hidup tanpa Gembala. Kalimat "supaya umat TUHAN jangan seperti domba yang tidak mempunyai gembala" menunjukkan kepedulian Musa akan kerentanan manusia. Domba adalah binatang yang mudah tersesat, lemah pertahanannya, dan mudah panik jika tidak ada yang menuntun. Tanpa tuntunan Tuhan dan pemimpin yang diangkat-Nya, kita cenderung hidup serabutan, kehilangan arah, dan menjadi mangsa bagi "serigala-serigala" duniawi.


Kita semua adalah pemimpin di bidang kita masing-masing—mungkin sebagai orang tua, kakak, atasan di kantor, atau pelayan di gereja. Pertanyaannya: Apakah kita memimpin dengan hati seorang gembala yang peduli pada keselamatan orang yang kita pimpin? Ataukah kita memimpin hanya untuk otoritas diri sendiri? Mari kita belajar seperti Musa, yang kerinduan terbesarnya adalah melihat umat Tuhan tetap terjaga dan terpelihara di bawah bimbingan gembala yang tepat.

 

Apa yang menjadi relevansi nas ini bagi kita? Berikut adalah tiga relevansi penting dari Bilangan 27:16-17 bagi kehidupan kita saat ini:

 

Pertama, pentingnya suksesi dan regenerasi yang tidak egois. Banyak pemimpin di dunia saat ini cenderung mempertahankan kekuasaan atau hanya memikirkan kejayaan di masa jabatan mereka sendiri. Musa menunjukkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin bukan diukur dari apa yang ia capai saat menjabat, melainkan dari apa yang terjadi setelah ia pergi. Relevansi bagi kita (baik di perusahaan, gereja, maupun keluarga) adalah tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi penerus. Pemimpin yang baik adalah mereka yang berdoa dan bekerja agar komunitasnya tetap memiliki arah yang jelas bahkan ketika mereka sudah tidak lagi memimpin.

 

Kedua, kepemimpinan yang "Terlibat" (Leading by Presence). Dalam ayat tersebut, Musa meminta pemimpin yang "berada di depan mereka ketika berangkat... dan pulang." Di era digital ini, sering kali pemimpin memimpin dari jarak jauh, hanya melalui instruksi tanpa kehadiran fisik atau emosional. Nas ini menekankan pentingnya keteladanan dan kehadiran. Seorang pemimpin (seperti orang tua kepada anak, atau atasan kepada bawahan) harus menjadi orang pertama yang menghadapi kesulitan dan orang terakhir yang memastikan keselamatan timnya. Kepemimpinan Kristen bukan tentang jabatan atau instruksi di atas kertas, melainkan tentang berjalan bersama (menyertai) orang-orang yang dipercayakan kepada kita.

 

Ketiga, pengakuan akan kebutuhan kita akan bimbingan Rohani. Musa menggambarkan umat Tuhan seperti "domba yang tidak mempunyai gembala." Ini adalah gambaran tentang kerentanan manusia yang mudah tersesat oleh tren dunia, ideologi yang keliru, atau keputusan yang impulsif. Di dunia yang sangat individualis saat ini, banyak orang merasa bisa hidup sendiri tanpa bimbingan siapa pun. Namun, nas ini mengingatkan bahwa secara kodrat spiritual, kita membutuhkan "gembala". Secara praktis, kita butuh komunitas iman, mentor rohani, dan terutama ketundukan kepada Yesus sebagai Gembala Agung. Tanpa bimbingan rohani yang sehat, hidup kita akan mudah tercerai-berai oleh badai persoalan atau tipu daya dunia.


Karena itu, nas ini mengingatkan kita bahwa setiap organisasi atau kelompok membutuhkan pemimpin yang visioner (memikirkan masa depan), berintegritas (memimpin dengan keteladanan), dan peduli(memastikan tidak ada "domba" yang tersesat).  (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN 

Komentar